Khotbah RABU SEPTEMBER - OKTOBER 2009Gereja Pentakosta di Indonesia - CianjurJalan Hasyim Asyari 75, Cianjur 43214. Tel
(62-263) 261161 - |
Rabu, 09
September 2009
Jemaat Yang Membuat
Sukacita
I
Tesalonika
2:13 Dan karena itulah kami tidak
putus-putusnya mengucap syukur juga kepada Allah, sebab kamu telah menerima
firman Allah yang kami beritakan itu, bukan sebagai perkataan manusia,
tetapi--dan memang sungguh-sungguh demikian--sebagai firman Allah, yang bekerja
juga di dalam kamu yang percaya.
2:14 Sebab kamu, saudara-saudara, telah
menjadi penurut jemaat-jemaat Allah di Yudea, jemaat-jemaat di dalam Kristus
Yesus, karena kamu juga telah menderita dari teman-teman sebangsamu segala
sesuatu yang mereka derita dari orang-orang Yahudi.
2:15 Bahkan orang-orang Yahudi itu telah
membunuh Tuhan Yesus dan para nabi dan telah menganiaya kami. Apa yang berkenan
kepada Allah tidak mereka pedulikan dan semua manusia mereka musuhi,
2:16 karena mereka mau menghalang-halangi
kami memberitakan firman kepada bangsa-bangsa lain untuk keselamatan mereka.
Demikianlah mereka terus-menerus menambah dosa mereka sampai genap jumlahnya
dan sekarang murka telah menimpa mereka sepenuh-penuhnya.
2:17 Tetapi kami, saudara-saudara, yang
seketika terpisah dari kamu, jauh di mata, tetapi tidak jauh di hati,
sungguh-sungguh, dengan rindu yang besar, telah berusaha untuk datang menjenguk
kamu.
2:18 Sebab kami telah berniat untuk datang
kepada kamu--aku, Paulus, malahan lebih dari sekali--,tetapi Iblis telah
mencegah kami.
2:19 Sebab siapakah pengharapan kami atau
sukacita kami atau mahkota kemegahan kami di hadapan Yesus, Tuhan kita, pada
waktu kedatangan-Nya, kalau bukan kamu?
2:20 Sungguh, kamulah kemuliaan kami dan
sukacita kami.
Amin. Haleluyah. Dalam
bagian ini kita akan mempelajari bagaimana sukacita rasul Paulus terhadap
kondisi jemaat di Tesalonika. Setiap
jemaat mempunyai karakter masing-masing. Jemaat Efesus berbeda dengan Smirna,
berbeda dengan Tiatira, berbeda dengan Pergamus, berbeda dengan Laodekia atau
Filadelphia, berbeda dengan gereja di Sardis, berbeda dengan di Filipi, Kolose,
Galatia, Tesalonika, Roma. Jemaat-jemaat itu yang dibangun oleh rasul Paulus
itu punya karakter masing-masing, yang satu berbeda dengan yang lain.
Nampak juga ini dalam
penciptaan Tuhan kepada manusia. Kita tidak bisa membedakan manusia hanya dalam
dua belas macam, cap jie shio. Nggak mungkin. Setiap orang mempunyai karakter
masing-masing. Setiap orang mempunyai kebiasaan masing-masing; ada keistimewaan,
ada kekurangan. Itu sebabnya kita diminta saling mengisi. Sebab ada yang lebih
di satu hal yang saya tidak bisa. Tapi ada yang saya bisa, orang itu dapat dari
saya. Yang saya tidak bisa, saya dapat dari dia.
Demikian juga kehidupan
suami istri yang sejodoh. Itu karakternya berbeda. Nggak mungkin suami istri
itu karakternya sama. Nggak mungkin. Karakternya berbeda. Apa yang kurang dari
istri, ada sama suami. Apa yang kurang dari suami, ada sama istri.
Demikian juga dengan jemaat.
Jemaat Tesalonika karakternya membuat Paulus bersukacita. Ayat 13, Dan karena
itulah kami tidak putus-putusnya mengucap syukur juga kepada Allah. Bayangkan
satu jemaat bisa membuat seorang rasul tiap hari berterima kasih kepada Tuhan.
Bukannya menangis tetapi berterima kasih kepada Tuhan. Bukannya berdukacita
tapi berterima kasih. Kalau kita baca ayat 10,
2:10 Kamu adalah saksi, demikian juga
Allah, betapa saleh, adil dan tak bercacatnya kami berlaku di antara kamu, yang
percaya.
2:11 Kamu tahu, betapa kami, seperti bapa
terhadap anak-anaknya, telah menasihati kamu dan menguatkan hatimu seorang demi
seorang,
2:12 dan meminta dengan sangat, supaya kamu hidup sesuai
dengan kehendak Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya.
1:13 Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan
dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih;
1:14 di dalam Dia kita memiliki penebusan
kita, yaitu pengampunan dosa.
Semua kita masih di dunia. Sebelah kanan saya dunia, sebelah
kiri saya dunia. Ini sebagai contoh. Tetapi terbagi dua. Walaupun kita masih
hidup di dunia, ada yang hidup dalam kuasa kerajaan kegelapan - dalam
kejahatan, dalam dosa, dalam kesalahan. Yang disukainya yang tidak dikehendaki
oleh Tuhan ... itu malah disukai. Sampai akhirnya manusia itu terikat di dalam
dosa. Sebelum kita ke sorga tetapi Yesus meninggal, Dia pindahkan kita. Ini
dunia, tapi Dia sudah pindahkan sehingga kesukaan kita bukan yang gelap tapi
kepada Kerajaan-Nya yang terang.
Di sini kita tidak tahu mengampuni, di sini mulai belajar
kita mengampuni. Di sini kita selalu berduka, di sini kita belajar bersukacita
dalam segala penderitaan. Di sini kita tidak bisa sabar tapi di sini kita mulai
belajar sabar dalam Kerajaan terang. Dan kata ‘sudah’ berarti ketika kita
percaya sama Tuhan Yesus, Yesus sudah pindahkan saudara kepada Kerajaan
anak-Nya, Kerajaan yang terang. Amin?
Jadi kalau kita mulai kuatir, itu bukan tempat kita. Kalau
kita mulai takut, mulai bimbang, mulai was-was, itu bukan tempat kita. Karena
saudara sudah dipindahkan ke tempat yang baik, yang terang. Waktu di tempat
yang gelap, kita tidak tahu kemana kita jalan. Gelap. Tetapi ketika di dalam
terang kita tahu kemana kita jalan.
Kalau kita kembali kepada Tesalonika tadi baca bagian ayatnya
yang ke-12: Dan meminta dengan sangat, supaya kamu hidup sesuai dengan kehendak
Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya. Kolose tadi
berkata, Kerajaan-Nya kerajaan terang. Bukan hanya kita masuk dalam Kerajaan
terang tapi kita dimuliakan. Dimuliakan oleh Tuhan, walaupun saudara tidak
merasa. Ah, saya orang biasa. Salah. Saudara dimuliakan.
Makanya saya nggak pernah anggap remeh sama saudara,
merendahkan saudara. Karena semua saudara sama dengan saya ... dimuliakan oleh
Tuhan. Datanglah ayat 13, karena itu – karena Paulus begitu senang jemaat
Tesalonika sudah berpindah dari gelap kepada terang, dari kehendak diri sendiri
kepada kehendak Tuhan. Sampai dia tidak berhenti-berhentinya berterima kasih,
bersyukur. Bahasa Inggris, Thank God, bersyukur kepada Allah - , sebab kamu telah
menerima firman Allah yang kami beritakan itu, bukan sebagai perkataan manusia,
tetapi - dan memang sungguh-sungguh demikian - sebagai firman Allah, yang
bekerja juga di dalam kamu yang percaya.
Saudara yang tahu saya dari anak-anak mungkin agak sulit menerima
firman Tuhan yang saya beritakan sebagai suara dari Tuhan. Tapi kalau yang di
bawah saya, itu gampang menerima. Bagi orang yang tahu Paulus kelakuannya dulu
membunuhi orang kristen, sukar bisa terima bahwa yang diberitakan oleh Paulus
itu firman Allah. Tetapi jemaat Tesalonika adalah jemaat yang baru, yang tidak
tahu apa terjadi pada Paulus dulu. Yang tidak tahu apa yang terjadi kepada
Paulus dulu. Jadi ketika dibuka jemaat ini diberitakan firman Allah, bahkan
surat-suratnya dikirimkan.
Sebab kamu telah menerima firman Allah
yang kami beritakan itu, bukan sebagai perkataan manusia, bukan perkataan hamba
Tuhan. Bukan. Jemaat itu sudah menerima sebagai firman Allah - tetapi - dan memang sungguh-sungguh demikian
sebagai firman Allah - Perhatikan bagian akhir - yang bekerja juga di dalam
kamu yang percaya.
Firman Allah akan berguna pada waktu
saudara mengaktifkannya, yaitu ketika kita percaya. Ketika saudara tidak
percaya, walaupun saudara dengar firman Tuhan berpuluh-puluh kali, dia tidak
efektif. Sama seperti saya, asal pakai ditolak, asal pakai ditolak. Belum
diaktifkan. Kapan aktifnya? Kapan efektifnya? Mungkin saudara lapor, ini kapan
aktifnya firman Allah? Waktu kita percaya! Sekarang saudara naik ke tingkat
yang sedikit lebih tinggi dari percaya itu. Jadi percaya bukan cuma ngomong,
percaya juga bertindak.
Saudara kenapa kebaktian sore hari ini?
Karena saudara percaya di rumah Tuhan ada firman. Kenapa saudara kebaktian?
Karena saudara percaya dalam Yesus ada jawaban. Baru efektif. Kenapa kebaktian
hari minggu lebih banyak dari kebaktian hari rabu? Banyak yang tidak percaya.
Banyak yang percaya, banyak yang tidak percaya. Ada yang percaya, ada yang
tidak percaya. Di firman Allah berkata, Yesus berkata: Dimanakah imanmu?
Berarti tidak percaya. Dia tegur: Hi, ye little faith, hai kamu yang punya iman
kecil. Imannya kecil.
Iman sebesar ini belum pernah Aku lihat
seantero orang Israel sekalipun. Imannya besar. Satu bapa datang kepada Yesus:
Tolonglah tambahkan iman kami. Kurang. Semua firman Allah itu akan efektif
ketika kita percaya. Baca lagi: Yang bekerja juga secara efektif dalam kamu
yang percaya. Selalu berguna. Saudara dengar atau baca firman Allah saudara
percaya, terjadi. Saudara dengar firman Allah, saudara dengar orang bersaksi,
saudara percaya, terjadi. Ayat 14,
2:14 Sebab kamu, saudara-saudara, telah
menjadi penurut jemaat-jemaat Allah di Yudea, jemaat-jemaat di dalam Kristus
Yesus, karena kamu juga telah menderita dari teman-teman sebangsamu segala
sesuatu yang mereka derita dari orang-orang Yahudi.
Dalam ayat ke-14 ini ada kata penurut, menjadi
penurut. Bahasa Inggrisnya, imitator, peniru, yang meniru. Pengikut, penurut
itu lebih tepat. Tapi dalam bahasa Inggris imitator. Satu kali saya pernah naik
pesawat
Saya nggak boleh ngomong, diam. Apa yang
dikatakan oleh pilot, diikuti oleh co-pilot. Apa saja yang dikatakan oleh
kapten itu dikatakan oleh co-pilot. Jadi semua yang dikatakan kapten, diikuti oleh
co-pilot. Ini co-pilot disebut imitator. Pilot juga tapi lebih rendah
pangkatnya karena belum pengalaman ttapi dia imitator dari pilot, mengikuti apa
yang pilot ngomong.
Pilot itu namanya Yesus, co-pilot itu
kita. Kita harus menjadi penurut dari pilot ini. Pilot ini bicara tentang A,
Yesus bilang A, kita bilang iya A. Kalau Yesus bilang B, kita harus bilang ya
B.
Coba renungkan sama saudara. Begitu
seringnya kita tidak menurut apa yang pilot ngomong. Imitator juga seperti
arloji. Ini arloji imitasi buatan Tiongkok. Palsu. Tapi dia bikin sesuai, sama,
centiannya semua dengan yang asli. Jadi kalau orang lihat arloji ini wah
seperti asli. Kalau orang nggak tahu, wah mahal ini 200 juta. Tapi kalau orang
yang tahu, ini imitatornya. Jemaat dari Tesalonika ini dia bukan imitator
luarnya saja sampai mesinnya, apa yang di dalam Yesus dia ikuti. Makanya firman
Allah dari Paulus, dia tidak anggap firman manusia, dia anggap firman Allah.
Begitu menurut, menurut, menurut.
Saya cuma lihat satu ibu yang omongan pendeta
selalu dianggap seperti dari Yesus. Tapi ibunya ada di Kanada, sudah meninggal
sekarang. Kalau ada orang yang bawa renungan, oh terima kasih Tuhan, terima
kasih buat firman-Mu. Saya ngomong ini, baca ini, oh terima kasih Tuhan. Saya
yang culun dari
Saudara musti ambil contoh orang yang
berohani. Jangan ambil contoh dari kekurangan orang. Ambil contoh dari kebaikan
orang itu. Ada seorang pemain musik, saya tidak usah sebut namanya. Kalau dia
main musik, bagus. Tapi kalau dia main musik, rambutnya itu gondrong,
jingkrak-jingkrak, sepatu boot, matanya hitam, lelaki ini, pakai anting gede,
pakai tato. Saya nggak ikutin dia pakai tatonya, nggak ikutin rambutnya, nggak
ikutin pakai sepatu bootnya, saya nggak ikutin. Mata saya nggak diitemin, saya
nggak ikut pakai antingnya. Tapi saya belajar dia punya main gitarnya. Bagus.
Saya yakin jemaat di Yudea ada kekurangan.
Tapi jemaat Tesalonika ambil contoh dari jemaat ala di Yudea. Jemaat-jemaat di
dalam Kristus Yesus karena kamu juga telah menderita dari teman-teman
sebangsamu segala sesuatu yang mereka derita dari orang-orang Yahudi. Apa yang
mereka ambil contoh? Tahan dalam penderitaan. Jadi jemaat di Yudea itu dapat
aniaya dari orang-orang Yahudi. Orang Yahudi tidak berhenti sampai Yesus
disalib. Yesus sudah bangkit tapi mereka terus benci kekristenan, benci
pelajaran salib.
Jadi kalau ada orang kristen mereka cari
bikin sulit, bikin susah, bikin sulit, bikin susah, bikin sulit, bikin susah.
Padahal orang Yahudi itu orang percaya Tuhan. Tapi bikin sulit terus sama orang
kristen. Jadi orang Tesalonika lihat begitu sabarnya jemaat di Yudea itu.
Bertahan dalam penderitaan. Nah, diambil contoh. Kedengaran sama Paulus. Kamu
sudah mengambil contoh yang baik dari jemaat di Yudea, karena kamu juga telah
menderita. Tesalonika juga menderita dari orang Yahudi. Mau ngelawan, mau
marah, ingat jemaat di Yudea itu sabar. Dia ikutin nggak marah.
Segala sesuatu yang mereka derita dari
orang-orang Yahudi. Ayat 15,
2:15 Bahkan orang-orang Yahudi itu telah
membunuh Tuhan Yesus dan para nabi –
Bahasa Inggris, dan para nabi mereka sendiri - dan telah menganiaya kami.
Apa yang berkenan kepada Allah tidak mereka pedulikan dan semua manusia mereka
musuhi,
Saya baru ketemu satu orang. Setiap rabu
kita ketemu, ngobrol-ngobrol. Dia sedang cerita tentang satu orang. Ini orang
kalau datang sama dia cerita, dia ribut
sama si A. Tapi lain hari dia datang lagi dia cerita, dia ribut sama si B.
Datang lagi, dia ribut sama si C. Ribut lagi sama si D. Sampai sepuluh orang,
dia ribut semua. Itu bapa bilang sama saya, kalau orang itu sama sepuluh orang
ribut, kayanya problemnya bukan di sepuluh orang, problemnya sama dia. Ini
mulut. Mulut bisa menahan berkat Tuhan turun. Karena salah mulut, orang bisa
cerai. Mulut.
Karena mulut orang berkelahi. Karena mulut
satu keluarga bisa bunuh-bunuhan. Hanya karena mulut. Karena mulut perang bisa
terjadi. Saya baru lihat di televisi, tawuran satu universitas hanya karena
mulut. Anggota DPR ribut mau dilantik karena mulut. Bayangin orang Yahudi
ngomong begini: Biar darah orang itu, darah Yesus itu, kena kepada kami dan
keturunan kami. Biar. Asal disalibkan Yesus itu. Coba. Taruhkanlah semua
kutukan-Nya bagi kami. Nantang. Makanya sampai sekarang orang Israel perang
terus, ribut terus. Mulut.
Di sini ditulis, … dan mereka tidak
berkenan kepada Allah.
Apa yang berkenan kepada Allah tidak
mereka pedulikan dan semua manusia mereka musuhi. Semua orang dia musuhi. Itu
Yahudi. Kita bicara Yahudi. Bukan berarti tidak ada yang baik di Yahudi, banyak
yang baik. Yesus saja orang Yahudi. Baik. Nabi-nabi
Mulut mereka yang ngomong: Orang lain
ditolong, kenapa Dia tidak bisa tolong diri-Nya sendiri. Oh, Dia lagi manggil
Elia, katanya. Coba kita lihat, Elia datang nggak nolong Dia. Ngenye sama Yesus.
Sama, terus sama pengikut Yesusnya dienye. Masalahnya bukan sama orang yang dia
musuhi, masalahnya ada sama dia. Semua orang dimusuhi, kok. Dikatakan, semua
manusia mereka musuhi. Nah, yang nggak salah saja dimusuhi. Maka si Tesalonika
itu tetap tahan, sabar dalam penderitaan karena mereka lihat contoh jemaat
Yudea sabar dalam penderitaan. Ayat 16,
2:16 karena mereka mau menghalang-halangi
kami memberitakan firman kepada bangsa-bangsa lain untuk keselamatan mereka - Bahasa Indonesia menghalang-halangi. Dalam
bahasa Inggris, melarang: Karena mereka mau melarang kami untuk berbicara
kepada orang. Bangsa lain itu orang kafir, bahasa Inggrisnya, untuk supaya
mereka selamat -. Demikianlah mereka terus-menerus menambah dosa mereka sampai
genap jumlahnya dan sekarang murka telah menimpa mereka sepenuh-penuhnya.
Segala sesuatu ada batasnya. Kalau kita
sudah kelewat batas, Tuhan akan bertindak. Kita buka dulu kitab nabi Yunus.
Dalam kitab nabi Yunus
1:2 "Bangunlah, pergilah ke Niniwe,
Jadi itu batas kejahatannya orang Niniwe
itu sudah sampai di depannya Tuhan. Masih saja berbuat jahat. Bagaimana obatnya
supaya marahnya Tuhan itu tidak jadi? Yunus
3:1
Datanglah firman TUHAN kepada Yunus untuk kedua kalinya, demikian:
3:2
"Bangunlah, pergilah ke Niniwe,
3:3
Bersiaplah Yunus, lalu pergi ke Niniwe, sesuai dengan firman Allah. Niniwe
adalah sebuah kota yang mengagumkan besarnya, tiga hari perjalanan luasnya.
3:4
Mulailah Yunus masuk ke dalam
3:5 Orang Niniwe percaya kepada Allah …
Tadi saya katakan, percaya adalah
memberlakukan firman Tuhan sampai kita terima, mengefektifkan janji firman
Allah. Ketika kita percaya, kita terima. Jadi karena orang Niniwe percaya
bahkan berpuasa seperti saudara sekarang dan mereka baik orang dewasa maupun
anak-anak mengenakan kain kabung
…, lalu mereka mengumumkan puasa dan
mereka, baik orang dewasa maupun anak-anak, mengenakan kain kabung. Ayat 7,
3:7 Lalu atas perintah raja dan para
pembesarnya orang memaklumkan dan mengatakan di Niniwe demikian: "Manusia
dan ternak, lembu sapi dan kambing domba tidak boleh makan apa-apa, tidak boleh
makan rumput dan tidak boleh minum air.
3:8 Haruslah semuanya, manusia dan ternak,
berselubung kain kabung dan berseru dengan keras kepada Allah serta haruslah
masing-masing berbalik dari tingkah lakunya yang jahat dan dari kekerasan yang
dilakukannya.
3:9 Siapa tahu, mungkin Allah akan
berbalik dan menyesal serta berpaling dari murka-Nya yang bernyala-nyala itu,
sehingga kita tidak binasa."
3:10 Ketika Allah melihat perbuatan mereka
itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka
menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap
mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya.
Amin? Kalau saudara berbalik dari kelakuan
yang tidak baik kepada yang baik, kalau saudara meninggalkan kebiasaan yang
buruk dan mengerjakan kebiasaan yang baik. Meninggalkan seperti tadi
dipindahkan dari kerajaan gelap kepada kerajaan terang. Tuhan yang sudah gemes
sama kita, mau menghukum kita, bisa berubah 180 derajat dan Dia tidak jadi
melakukan hukuman-Nya. Karena itu, kalau mau efektif pakai percaya. Orang
Niniwe ini jahatnya sudah sampai di muka Tuhan, sudah lewat batas.
Kita kembali lagi kepada Tesalonika, dan
akan kita lihat apa yang terjadi di
2:16 karena mereka mau menghalang-halangi
kami memberitakan firman kepada bangsa-bangsa lain untuk keselamatan mereka.
Demikianlah mereka terus-menerus menambah dosa mereka sampai genap jumlahnya dan
sekarang murka telah menimpa mereka sepenuh-penuhnya.
2:17 Tetapi kami, saudara-saudara, yang
seketika terpisah dari kamu, jauh di mata, tetapi tidak jauh di hati,
sungguh-sungguh, dengan rindu yang besar, telah berusaha untuk datang menjenguk
kamu.
Saya mau tanya: Menjenguk lama apa
sebentar? Sebentar. Kalau lama itu nginap. Kalau menjenguk sebentar.
Dalam ayat 17 ini, Paulus ini sangat
rindu, ingin cepat ketemu. Coba saja kalau pendeta punya jemaat sampai si
pendeta tiap hari berterima kasih sama Tuhan: Aduh Tuhan, saya terima kasih
punya jemaat ini. Tuhan, terima kasih untuk jemaat ini. Buat saya jemaat di
Cianjur cukup manis, cukup baik, menghibur saya. Ada jemaat di Kalimantan,
pendetanya ikut Mubes ke
Tapi jemaat Tesalonika sampai Paulus tiap
hari berterima kasih, terima kasih Tuhan karena jemaat Tesalonika begitu baik,
begitu sayang. Makanya ayat 18 bilang,
2:18 Sebab kami telah berniat untuk datang
kepada kamu - walaupun sebentar,
menjenguk - aku, Paulus, malahan lebih dari sekali -,tetapi Iblis telah
mencegah kami.
Nampaknya orang Tesalonika ini termasuk
orang dari non-Yahudi, orang dari bangsa-bangsa lain. Karena mereka dianiaya
oleh orang Yahudi. Ayat 19,
2:19 Sebab siapakah pengharapan kami atau
sukacita kami atau mahkota kemegahan kami di hadapan Yesus, Tuhan kita, pada
waktu kedatangan-Nya, kalau bukan kamu?
2:20 Sungguh, kamulah kemuliaan kami dan
sukacita kami.
Apa yang nanti saya banggakan di hadapan
Tuhan Yesus? Yang menjadi sukacita saya, yang menjadi pengharapan saya, yang
menjadi mahkota kemegahan kami, bukan mahkota benaran tapi mahkota kemegahan di
hadapan Tuhan … kalau bukan jemaat. Biar jemaat saya nggak ribuan tapi saya
kelola dengan baik, dengan setia saya kerjakan. Jemaat ada respon baik, percaya
kepada firman Allah, kepada Tuhan. Nanti di sorga kemegahan seorang hamba Tuhan
itu jemaatnya, mahkotanya.
Sebab siapakah pengharapan kami atau
sukacita kami atau mahkota kemegahan kami di hadapan Yesus, Tuhan kita, pada
waktu kedatangan-Nya? Jadi Yesus kalau datang dari sorga, Dia nggak mau lihat
baju apa yang saya pakai, celana apa yang saya pakai, arloji mana yang saya
pakai, nggak. Yang Dia lihat, bagaimana penggembalaan saya, bagaimana pekerjaan
saya. Ayat terakhir.
2:20 Sungguh, kamulah kemuliaan kami dan
sukacita kami.
Saudara maju di dalam Tuhan, setia di
dalam Tuhan, rajin beribadah kepada Tuhan, saudara nggak sadar, gembala saudara
itu dibikin senang, dibikin sukacita.
Dalam I Korintus 9, Paulus berkata juga mengenai hal yang lain.
9:1
Bukankah aku rasul? Bukankah aku orang bebas? Bukankah aku telah melihat Yesus,
Tuhan kita? Bukankah kamu adalah buah pekerjaanku dalam Tuhan?
9:2
Sekalipun bagi orang lain aku bukanlah rasul, tetapi bagi kamu aku adalah
rasul. Sebab hidupmu dalam Tuhan adalah meterai dari kerasulanku.
Filipi
4:1 Karena itu, saudara-saudara yang
kukasihi dan yang kurindukan, sukacitaku dan mahkotaku, berdirilah juga dengan
teguh dalam Tuhan, hai saudara-saudaraku yang kekasih!
--
o --
Rabu, 16
September 2009
IMAN JANGAN GOYANG
I Tesalonika
3:1 Kami tidak dapat tahan lagi, karena
itu kami mengambil keputusan untuk tinggal seorang diri di Atena.
3:2 Lalu kami mengirim Timotius, saudara
yang bekerja dengan kami untuk Allah dalam pemberitaan Injil Kristus, untuk
menguatkan hatimu dan menasihatkan kamu tentang imanmu,
3:3 supaya jangan ada orang yang goyang
imannya karena kesusahan-kesusahan ini. Kamu sendiri tahu, bahwa
kita ditentukan untuk itu.
3:4 Sebab, juga waktu kami bersama-sama
dengan kamu, telah kami katakan kepada kamu, bahwa kita akan
mengalami kesusahan. Dan hal itu, seperti kamu tahu, telah terjadi.
3:5 Itulah sebabnya, maka aku, karena
tidak dapat tahan lagi, telah mengirim dia, supaya aku tahu tentang imanmu,
karena aku kuatir kalau-kalau kamu telah dicobai oleh si penggoda dan
kalau-kalau usaha kami menjadi sia-sia.
Ini concern atau perhatiannya Paulus
terhadap jemaat Tesalonika, yaitu secara umum jangan sampai imannya itu goyang.
Untuk mengerti kata goyang, kita sudah mengalami gempa. Pada waktu gempa, semua
goyang. Gedung kita goyang dan terima kasih kepada Tuhan tidak ada yang rusak,
tidak ada yang retak. Sekolah Alkitab ada yang retak, kaca pecah tapi tidak
runtuh.
Sebagai anak Tuhan, kita punya iman tidak sama. Ada yang kuat, ada yang kuat sekali, ada yang biasa …
mediocre, ada yang lemah imannya. Tetapi secara umum Paulus bilang, aduh jemaat
ini saya kuatir kalau-kalau goncang mendengar, mendapat kesusahan-kesusahan
ini. Kita mulai dari ayat 1,
3:1 Kami tidak dapat tahan lagi, ...
Sebelum kata kami seharusnya ada kata, itu
sebabnya. Kalau saya baca sekarang: Itu sebabnya kami tidak dapat tahan lagi.
Kangennya ini sama jemaat. Karena ayat sebelumnya,
pasal
2:19 Sebab siapakah pengharapan kami atau
sukacita kami atau mahkota kemegahan kami di hadapan Yesus, Tuhan kita, pada
waktu kedatangan-Nya, kalau bukan kamu?
2:20 Sungguh, kamulah kemuliaan kami dan
sukacita kami.
Itu sebabnya, ayat 1, kami tidak dapat tahan
lagi, karena itu kami mengambil keputusan untuk tinggal seorang diri di Atena.
Mari perhatikan ke depan. Kalau kita pikir, katanya kangen, kenapa tinggal seorang diri di
Atena, membiarkan diri tinggal di Atena? Katanya kangen, rindu.
2:18 Sebab kami telah berniat untuk datang
kepada kamu - aku, Paulus, malahan lebih dari sekali -,tetapi
Iblis telah mencegah kami.
Kata mencegah terlalu sopan.
Iblis menghalang-halangi kami.
Jadi Paulus ingin ketemu itu ada saja
halangan. Dan Paulus merasa ini halangan bukan
halangan biasa, ini Iblis yang menghalangi. Makanya tadi saya bilang, saudara
sudah dapat kemenangan? Saudara sudah ada di gereja.
Sebab musim marema begini, wah saudara itu terikat dengan dagangan, dengan
usaha. Tapi saudara sudah datang kepada Tuhan Yesus, Pemilik berkat itu. Jadi
kalau saudara datang kepada Pemilik berkat, jangan takut soal dagang, Tuhan
pasti memberkati kita, amin?
Nah, Paulus sudah tidak tahan lagi, dia
tinggal seorang diri di Atena.
3:2 Lalu - kata kami tidak ada itu sebetulnya
- mengirim Timotius, saudara yang bekerja dengan kami untuk Allah dalam
pemberitaan Injil Kristus. Kata saudara yang bekerja,
bahasa Inggris bilang begini: Saudara yang bekerja berlelah-lelah. Jadi baik
Timotius yang masih muda, baik Paulus itu kalau kerja sampai berlelah-lelah.
Ada satu hamba Tuhan di Kisaran, sekarang sudah meninggal. Dia pernah bilang,
kalau kita melayani Tuhan harus sampai kita sakit.
Mula-mula saya nggak bisa terima.
Masa musti sampai kita sakit melayani Tuhan? Melayani Tuhan itu senang adanya. Tapi lama-lama, oh iya,
kalau kita sudah tergila-gila sama Tuhan Yesus,
rasanya nggak cukup kalau kita melayani sedikit itu, ingin lebih lagi, ingin
lebih lagi. Ingat kepada Boaz, dia ngomong sama Rut:
Kasihmu yang sekarang jauh lebih besar dari kasihmu yang mula-mula.
Jadi anak Tuhan yang tambah lama di dalam
Tuhan, tambah mengenal Tuhan Yesus, itu bekerja berlelah-lelah itu bukannya
bikin dia susah, bikin dia bersukacita. Karena dia punya kesempatan untuk membalas cinta Tuhan seperti itu.
3:2 …, saudara yang bekerja dengan kami
untuk Allah dalam pemberitaan Injil Kristus, untuk menguatkan hatimu …
Jadi walaupun dia di Atena tapi hatinya
ada di Tesalonika. Itu sebabnya, katanya, aku kirimkan
Timotius yang sebetulnya kerjanya berlelah-lelah bersama dengan aku tapi aku
kirimkan dia kepadamu untuk menguatkan hatimu. Bahasa Inggris, establish. Kalau
saudara belum punya uang, kita nyewa warung, nyewa toko, nyewa tanah. Bibilintik. Berdagang sedikit demi sedikit, kita untung bayar sewa. Tapi lama-lama ketika kita
mempunyai kemampuan, akhirnya yang disewa itu kita beli. Setelah kita
beli, saudara bangun jadi toko pakai tembok, dulu pakai bilik. Waktu itu sudah
jadi, itu namanya saudara sudah establish, sudah punya sendiri. Sudah kuat.
Dulu kita sekolah dari TK ke SD, dari SD
ke SMP, SMP ke SMA, masih bergantung sama orang tua. Tapi tiba-tiba kita bisa berdiri sendiri, kita bisa berprestasi.
Kita bisa menikah, kita bisa punya istri, punya suami, kita bisa punya anak. Kita bisa punya perusahaan sendiri. Itu namanya establish.
Demikian juga Paulus mengirimkan Timotius
supaya jemaat Tesalonika itu sepertinya tidak usah lagi nyewa tapi supaya
imannya itu bukan iman sewaan, bukan iman pinjaman. Kita itu
terpengaruh oleh iman orang. Orang itu luar biasa
imannya. Jadi kita ke gereja karena iman dia bukan
karena iman kita sendiri. Kita kebaktian karena dengar kesaksian ada
orang disembuhkan, ada mujizat … jadi kita percaya. Tapi belum kita punya iman,
belum establish. Kita masih pakai iman orang. Kita ke
gereja, enak di gereja mah dingin, nggak panas.
Jadi kita ke gereja bukan mau establish
iman tapi mau ngadem, mau dingin. Ini cuma contoh supaya saudara tahu seperti apa establish itu. Kalau saudara sudah establish, ada gempa
juga cuma goyang doang, tapi kuat. Rumah-rumah yang hancur di pesisir-pesisir
itu bukan rumah yang establish. Nggak ada fondasi,
pakai kayu biasa, pakai bambu biasa. Runtuh, runtuh kena
batu-batu. Kasihan.
7:24 "Setiap orang yang mendengar
perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan
orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.
7:25 Kemudian turunlah hujan dan datanglah
banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab
didirikan di atas batu. - Artinya establish -
7:26 Tetapi setiap orang yang mendengar
perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama
dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir.
7:27 Kemudian turunlah hujan dan datanglah
banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah
kerusakannya."
Perhatikan saudara.
Dua orang membangun rumah bareng-bareng. Yang satu di atas batu karang, yang satu di atas pasir. Yang satu bijak, yang satu bodoh. Saudara
mungkin bilang, ah mana mungkin ada orang bangun rumah di atas pasir?
Kita bilang, orang bodoh dia.
Percobaannya sama.
Hujan datang melanda atap, angin bertiup melanda dinding, banjir datang melanda
fondasi. Yang bijak itu dia establish, dia tidak
roboh. Tapi yang bodoh, roboh. Orang bijak dan orang bodoh ini mendengar firman
Tuhan yang sama. Dua-duanya.
Yesus bilang, yang satu mendengar firman
Tuhan, yang pandai, lalu dia lakukan. Apa yang dia dengar firman Tuhan, dia
kerjakan, dia lakukan. Establish. Tapi ada yang dengar firman
Tuhan, cuma masuk ke kuping kiri, lepas di kuping kanan atau lupa; dia tidak
establish. Orang yang kaya begini yang dikuatirkan
oleh Paulus, kalau ada kesulitan, kalau ada persoalan, dia ngomong. Jadi
sampai dikirim Timotius itu supaya kamu itu establish. Coba kita kembali kepada
Tesalonika, kita membaca ayat ke-2,
3:2 Lalu kami mengirim Timotius, saudara
yang bekerja – berlelah-lelah - dengan kami untuk Allah dalam pemberitaan Injil
Kristus, untuk menguatkan hatimu - Bahasa
Inggris, establish. To establish you, untuk menguatkan
kamu, tidak ada kata hati - dan menasihatkan. Bahasa Inggris, mendorong
kamu tentang imanmu.
Kalau kita baca ayat ke-3 baru kita tahu:
Supaya jangan ada orang yang goyang imannya karena kesusahan-kesusahan ini.
Kesusahan apa? Paulus dipenjara, itu termasuk kesusahan. Dia dipenjara bukan
karena nyolong, bukan karena salah berpolitik, bukan karena ditangkap KPK. Karena berita Injil dia di tahan. Itu sedikit banyak bisa
berpengaruh kepada jemaat Tesalonika anak rohaninya yang dia rindukan, yang dia
kangenin itu. Sampai akhirnya dia bilang, ah sudahlah saya
nggak usah keluar dari penjara. Saya di Atena saja, saya tunggu. Saya kirim saja Timotius.
Maksudnya supaya jemaat Tesalonika itu
kokoh, jangan dengar macam-macam tentang Paulus lalu mereka goyah. Kesusahan-kesusahan yang datang bagi orang yang bijak, no problem;
rumahnya kokoh. Tapi kesusahan yang sama
diterima oleh orang yang bodoh, terpengaruh dia; roboh rumahnya, rumah
rohaninya roboh. Coba kita buka dulu I Korintus
3:16 Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah
bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?
Sudah jadi kristen lama
apa kamu nggak tahu badan ini, tubuh ini rumah, bangunan dan Roh Kudus
itu Pemiliknya. Sambung, kita baca I Korintus
6:19 Atau tidak tahukah kamu, bahwa
tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu
peroleh dari Allah, - dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?
Kita ini bukan milik kita sendiri.
Memang baju mah masing-masing, ada ukuran L, ada ukuran XL,
kita yang beli. Tapi yang memiliki badan kita, hati-hati, biar saudara
sudah tua tapi yang memiliki saudara itu, Yang punya langit dan bumi. Amin? Satu lagi ya, II Korintus
6:16 Apakah hubungan bait Allah dengan
berhala? Karena kita adalah bait dari Allah yang hidup menurut firman Allah
ini: "Aku akan diam bersama-sama dengan mereka dan hidup di tengah-tengah mereka,
dan Aku akan menjadi Allah mereka, dan mereka akan
menjadi umat-Ku. - Karena kita ini rumah
Allah, ayat 17 bilang: -
6:17 Sebab itu: Keluarlah kamu dari antara
mereka – Siapa mereka ini? Orang yang bodoh tadi -, dan pisahkanlah dirimu dari
mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang
najis, maka Aku akan menerima kamu.
6:18 Dan Aku akan
menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku
perempuan demikianlah firman Tuhan, Yang Mahakuasa."
3:3 supaya jangan ada orang yang goyang
imannya karena kesusahan-kesusahan ini. Kamu sendiri tahu, bahwa
kita ditentukan untuk itu.
Saya bicara sama
ibu-ibu, siapa yang takut melahirkan? Kalau melahirkan takut, ada? Saya mau tanya ibu-ibu, melahirkan itu sakit apa tidak? Sakit. Kenapa melahirkan kalau sudah tahu
sakit? Karena memang harus kita lewati. Untuk mempunyai anak itu harus melewati kelahiran. Memang sudah ditentukan untuk itu. Kaum wanita memang sudah
ditentukan untuk itu, untuk melahirkan. Memang sakit tapi waktu anak sudah
lahir, sukacita.
Nggak bisa saudara, saya mah pengen nggak
sakit, tiba-tiba sulap, ada. Harus melewati kelahiran.
Begitu kita jadi orang kristen, kita itu sudah musti sadar.
Kalau ada kesusahan itu kita sudah musti tahu, memang kita ditentukan untuk
melewati itu. Kita buka Mazmur
23:1 Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku,
takkan kekurangan aku.
23:2 Ia
membaringkan aku di
23:3 Ia
menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang
benar oleh karena nama-Nya.
Sampai ayat 3 saya baca, saudara senang apa tidak? Saudara senang apa
tidak, dibaringkan di rumput yang hijau, dibawa ke air yang tenang, disegarkan,
Dia membimbing aku, jiwa kita disegarkan, kita nggak kekurangan apa-apa. Tapi
dalam ayat 4, kita musti melewati,
23:4 Sekalipun aku berjalan dalam lembah
kekelaman – Kata dalam itu salah-. Sekalipun aku berjalan
melalui lembah kekelaman, aku tidak takut
bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur
aku.
Kita tidak usah takut bahaya.
Tapi kita harus melalui lembah bayang-bayang maut. Haleluyah? Kalau saudara nggak mau melalui lembah
bayang-bayang maut, nggak mau mengalami kesusahan, ayat 5 saudara tidak akan alami:
23:5 Engkau menyediakan hidangan bagiku,
di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah.
- Itu tidak akan saudara alami, karena saudara
belum lewat ujiannya dari Tuhan – Ayat 6,
23:6 Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam
rumah TUHAN sepanjang masa.
Jadi kalau kita kembali lagi kepada
Tesalonika, kita mengerti bahwa, memang kita sudah ditentukan untuk hal itu.
Filipi
1:29 Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan
saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia
Jadi kepada kita itu bukan hanya
dikaruniakan percaya. Sampai kita percaya masuk sorga, kita
percaya kita ditolong Tuhan. Tetapi kepadamu juga diberikan
untuk menderita. Menderitanya bukan menderita digebukin, bukan. Menderita untuk Tuhan. Difitnah, kita
sabar.
Jadi kalau kita lihat kehidupan kristen harus seimbang. Kalau saudara tanya
sama saya, masih makan
3:4 Yohanes memakai jubah bulu unta dan
ikat pinggang kulit, dan makanannya belalang dan madu hutan.
Madu hutan itu manis,
belalang itu pahit. Jadi Yohanes Pembaptis makanannya juga
seimbang. Buka Wahyu 10. Dalam Wahyu 10 seluruh pasalnya bicara dari hal
yang sama. Hanya 11 ayat tapi kita akan
baca apa yang terjadi.
10:8 Dan suara yang telah kudengar dari
langit itu, berkata pula kepadaku, katanya: "Pergilah, ambillah gulungan
kitab yang terbuka di tangan malaikat, yang berdiri di atas laut dan di atas
bumi itu."
10:9 Lalu aku pergi kepada malaikat itu
dan meminta kepadanya, supaya ia memberikan gulungan
kitab itu kepadaku. Katanya kepadaku: "Ambillah dan makanlah dia; ia akan membuat perutmu terasa pahit, tetapi di dalam
mulutmu ia akan terasa manis seperti madu."
10:10 Lalu aku mengambil kitab itu dari
tangan malaikat itu, dan memakannya: di dalam mulutku ia
terasa manis seperti madu, tetapi sesudah aku memakannya, perutku menjadi pahit
rasanya.
10:11 Maka ia
berkata kepadaku: "Engkau harus bernubuat lagi kepada banyak bangsa dan
kaum dan bahasa dan raja."
Seimbang.
Ada yang manis, ada yang pahit.
Di Okinawa, orang Jepang, nggak ada yang
mati umur seratus tahun. Seratus delapan, seratus empat, seratus tujuh, dan
sehat semua. Kenapa? Tiap hari makan paria tapi dia
imbangi, makan paria, makan ikan. Ikannya ikan yang manis,
parianya pahit. Di dalam perut kita ini ada empedu.
Empedu itu pahit apa manis? Apa
itu fungsi empedu? Saya tidak tahu. Tapi
kemungkinan empedu itu untuk menyeimbangkan yang manis-manis. Diseimbangkan ada yang pahitnya di dalam perut.
Hidup kekristenan kita juga harus
seimbang. Kalau saudara naik perahu
3:4 Sebab, juga waktu kami bersama-sama
dengan kamu, telah kami katakan kepada kamu, bahwa kita akan
mengalami kesusahan. Dan hal itu, seperti kamu tahu, telah terjadi.
Kalau saudara naik pesawat terbang, kapten
pesawat suka ngomong begini, sebentar lagi di depan kita
ada turbulance. Ting, tong, pasanglah tali keledar, fasten your seatbelt, sebab
sebentar lagi kira-kira satu menit lagi di depan kita
ada cuaca yang kurang baik. Cuaca kurang baik ini
kadang-kadang terang, langit biru, nggak ada awan. Tapi radarnya sudah
kasih tahu, di depan kita, jarak sekian akan ada
goyang. Dan itu otomatis, bukan dia nyalain. Otomatis itu.
Kalau pesawat goyang biasa, saya mau ikat tapi si kapten nggak ngomong apa-apa.
Karena saya tahu goyang itu nggak apa-apa. Tapi kalau
kapten bilang, ikat ... kita ikat. Dia sudah kasih tahu dulu.
Ayat terakhir,
3:5 Itulah sebabnya, maka aku, karena
tidak dapat tahan lagi, telah mengirim dia, supaya aku tahu tentang imanmu,
karena aku kuatir kalau-kalau kamu telah dicobai - Kata dicobai seharusnya digoda - oleh si penggoda dan kalau-kalau
usaha kami menjadi sia-sia.
Bapa Lay Kho
Siung umur 73 masih bisa main tenis. Dia tetap bertahan di GPdI, walaupun
istrinya nggak mau, anaknya di gereja lain tapi dia tetap di GPdI. Saya punya usaha nggak sia-sia. Hati gembala itu begitu,
jangan sampai kamu tergoda sama si penggoda. Ini Iblis
kalau jatuhkan orang kristen itu dengan dua cara. Satu, dengan
penderitaan, percobaan atau dengan kesusahan, atau dengan kemiskinan. Yang kedua, dengan kekayaan, dengan kesuksesan, dengan
keberhasilan. Kalau dia tidak bisa dengan cemeti bikin susah, dia menawarkan madu. Tapi kita
harus kuat bahwa ini si penggoda. Kita akhiri dengan Matius
4:1 Maka Yesus dibawa oleh Roh ke
Bahasa Inggris, untuk digoda oleh Iblis.
Saya juga heran, Roh Kudus bawa Yesus
setelah dibaptis, dibawa ke
-- o --
Rabu, 07 Oktober 2009
PEMBAWA KABAR BAIK
Selamat sore, selamat berbakti di dalam nama Tuhan Yesus kristus. Saudara girang pada sore hari ini? Ada haleluyah? Saudara dipelihara oleh Tuhan dengan baik, sampai sekarang kita masih dipercaya untuk hidup. Kita mau pakai hidup kita untuk Tuhan. Kita sudah sampai pada I Tesalonika 3:6-10, yaitu bahwa Paulus dikuatkan dihiburkan oleh Timotius
3:6 Tetapi sekarang, setelah
Timotius datang kembali dari kamu dan membawa kabar yang menggembirakan tentang
imanmu dan kasihmu, dan bahwa kamu selalu menaruh kenang-kenangan yang baik akan
kami dan ingin untuk berjumpa dengan kami, seperti kami juga ingin untuk
berjumpa dengan kamu,
3:7 maka kami juga, saudara-saudara, dalam segala kesesakan dan kesukaran kami
menjadi terhibur oleh kamu dan oleh imanmu.
3:8 Sekarang kami hidup kembali, asal saja kamu teguh berdiri di dalam Tuhan.
3:9 Sebab ucapan syukur apakah yang dapat kami persembahkan kepada Allah atas
segala sukacita, yang kami peroleh karena kamu, di hadapan Allah kita?
3:10 Siang malam kami berdoa sungguh-sungguh, supaya kita bertemu muka dengan
muka dan menambahkan apa yang masih kurang pada imanmu.
Pada perikop ini kita akan melihat isi hati dari seorang hamba Tuhan seperti Paulus. Dia sangat terhibur ketika dia mendengar tentang jemaatnya. Maka seperti saya ingin mendengar tentang saudara. Kalau saudara bersaksi, itu saya bisa tahu keadaan saudara. Saudara menyanyi, saya bisa tahu keadaan saudara, cinta saudara kepada Tuhan itu saya bisa tahu. Kalau saudara tutup mulut diam saya nggak bisa tahu. Tapi kalau saudara bicara, saudara bersaksi, saudara bercerita atau saya dengar dari orang lain bapak ini ibu ini mengalami ini mengalami pertolongan Tuhan, itu seperti vitamin bagi saya seperti obat.
Nah, di dalam perikop ini keseluruhannya dia dapat hiburan. Tetapi dari detail-detailnya kita mau lihat apa yang dia lakukan ini. Sama seperti kita punya lever. Lever kita punya tapi kita nggak tahu detailnya apa. Lever kita ini banyak pekerjaannya. Tanpa lever saudara mati, itu yang paling jelas. Saudara ada lever sebab lever ini kalau ada racun di makanan, dinetralisir sama lever. Maka lever ini musuhnya itu kecapean. Kalau saudara kerja terlalu cape, kita bisa jatuh. Sebab lever nggak kasih tanda-tanda, dia pekerja yang keras tiap kali. Kita tidur kita istirahat kita kerja, lever terus kerja. Dia menjaga kita punya aliran darah. Macam-macam. Ada lebih dari 20. Tetapi kita yang tahu, kita punya lever. Kalau sakit, sakit lever. Tapi detailnya kita harus tahu,
Di sini kita tahu bahwa Paulus dihiburkan oleh Timotius ketika Timotius bawa berita tentang orang Tesalonika. Tetapi kita mau lihat detilnya.
3:6 Tetapi sekarang, setelah
Timotius datang kembali dari kamu dan membawa kabar yang menggembirakan tentang
imanmu dan kasihmu, dan bahwa kamu selalu menaruh kenang-kenangan yang baik akan
kami dan ingin untuk berjumpa dengan kami, seperti kami juga ingin untuk
berjumpa dengan kamu,
Yang pertama, Timotius itu
membawa kabar baik.
Timotius itu masih muda, masih belasan tahun tapi dia tahu membawa berita yang baik kepada seniornya Paulus yang usianya sudah 58 tahun waktu itu. Timotius umur 16-17 tahun, sudah bisa bawa berita yang baik. Saya terangkan lebih jauh, dia menjadi pembawa berita yang baik. Di dalam Roma
10:13 Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan.
10:14 Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak
percaya kepada Dia - Yesus - ? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak
mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada
yang memberitakan-Nya?
10:15 Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus?
Seperti ada tertulis: "Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!"
Dia tidak bilang pendeta, hanya betapa indahnya. Kalau saya baca dari bahasa Inggris lebih indah lagi, how beautiful are the feet of those who preach the gospel of peace. Yang membawa kabar baik kabar sukacita tentang kabar baik. Lebih komplit. Ada kata berkhotbah tetapi ada yang membawa berita. Yang berkhotbah oke lah pendeta tapi ada yang membawa berita, ada yang bersaksi, ada yang menyanyi tentang kebaikan Tuhan. Itu dia bawa. Jadi mulut saudara ini bisa menjadi pembawa berita yang baik atau pembawa berita yang buruk.
Nah, saat itu Timotius membawa kabar yang menggembirakan tentang iman orang dari Tesalonika dan bahwa kamu selalu mempunyai ingatan yang baik tentang kami.
Di sini ada satu segitiga yang membuat mata rohani kita terbuka, yaitu kasih, iman dan ingatan. Tiga hal ini dibawa oleh Timotius kepada Paulus orang Tesalonika itu kasihnya kepada Tuhan Yesus sungguh luar biasa. Jemaat Tesalonika itu imannya kepada Tuhan Yesus luar biasa. Dan mereka selalu mengingat bapak rohani, yaitu bapak Paulus yang melahirkan mereka, yang membesarkan mereka dengan firmannya. Terhibur dong orang yang sedang dalam penjara, orang sudah tua 58 tahun dalam penjara ya, dengar berita yang baik itu dia katakan lebih jauh, seperti kami juga ingin untuk berjumpa dengan kamu. Apa akibatnya, ayat ke-7,
3:7 maka kami juga, saudara-saudara, dalam segala kesesakan dan kesukaran kami
menjadi terhibur oleh kamu dan oleh imanmu.
Iman saudara bukan membawa
keuntungan untuk saudara saja. Siapa yang menyebut nama Tuhan, dia akan diselamatkan.
Bukan membawa berkat bagi saudara saja. Tetapi iman saudara bisa membawa berkat bagi
orang lain. Saudara bersaksi, saudara tidak sadar berapa orang hatinya dikuatkan.
Saudara menyanyi, saudara tidak sadar mungkin ada jiwa baru yang belum tahu
kata-kata nyanyian itu, pas dia duduk, saudara sedang menyanyi, kata-kata nyanyian
itu bisa menyentuh hati yang mendengarkan. Kita tidak tahu. Kita bisa disebut
pembawa kabar kesukaan. Dalam I Korintus
14:36 Atau adakah firman Allah mulai dari kamu? - Tuh, kita jadi sumber
sekarang - Atau hanya kepada kamu sajakah firman itu telah datang?
Apa saudara sudah mengeluarkan firman Tuhan dari saudara atau hanya kepada saudara saja, saudara cuma dengar firman Allah saja. Atau firman yang saudara dengar ini saudara sudah sampaikan, saudara sudah keluarkan kepada orang yang lain.
Saudara yang sudah di atas 5 tahun menjadi jemaat Tuhan, harus sudah menjadi pembawa kabar kesukaan. Memang kalau baru satu tahun dua tahun, mungkin belum kenal Yesus lebih dekat. Kalau sudah 5 tahun ikut Tuhan Yesus sudah dibaptis, itu sudah mengalami Tuhan mengalami Yesus. Firman jangan masuk terus sama kita tapi dari kita keluar firman, kita menjadi pembawa kabar kesukaan. Haleluyah? Lukas
2:9 Tiba-tiba berdirilah seorang
malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan
mereka sangat ketakutan.
2:10 Lalu kata malaikat itu kepada mereka: "Jangan takut, sebab sesungguhnya aku
memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa:
2:11 Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.
2:12 Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus
dengan lampin dan terbaring di dalam palungan."
2:13 Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar
bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya:
2:14 "Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi
di antara manusia yang berkenan kepada-Nya."
Mari perhatikan. Yang pertama datang apa saudara? Malaikat. Berapa orang? Satu.
2:9 Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan ...
Nah ini kalau dicontohkan seperti pendeta yang membawa berita. Lalu tiba-tiba berdirilah berapa banyak bala tentang sorga, malaikat semua nyanyi. Ini digambarkan sebagai jemaat yang menyanyi. Paduan suara yang menyanyi. Vocal Group yang menyanyi. Anak sekolah minggu yang menyanyi. Kineret yang menyanyi. Yang mainkan musik. Sebab ini sambutannya gegap gempita luar biasa. Itu di gereja di Bethlehem sampai sekarang tiap hari ribuan orang ke gereja di Bethlehem. Tiap hari. Dari 2000 tahun yang lalu sampai sekarang sudah 2000 tahun lebih, tiap hari orang berjubel dari seluruh dunia lihat tempat di mana Yesus lahir di Bethlehem. Kenapa? Karena dari sana berita pertama yang diberitakan oleh malaikat bahwa Yesus sudah lahir.
Dari pada kebau-bau mulut kita ngomongin orang, kita tutup mulut itu, kita pakai mulut kita membawa kabar yang baik. Minimal nyanyilah di depan dari pada kita cape-cape ngritik orang yang bukan tanggung jawab kita. Dia punya hidup sendiri tanggung jawab sama Tuhan. Dari pada kita jadi seksi repot ya, jadi kepoh ngurusin urusan orang. Saya tahu saudara tidak. Tapi kalau kita bandingkan, lebih baik kita menjadi pembawa kabar yang baik seperti Timotius kepada Paulus, seperti malaikat kepada gembala, seperti saudara tadi dalam Roma 10 itu sudah kita baca, kita menjadi pembawa kabar yang baik. Jadi kita bisa jadi transistor berjalan tapi bukan cerita yang tidak baik tapi cerita yang baik. Cerita tentang kebaikan Tuhan. Coba kita lihat Mazmur
71:16 Aku datang dengan keperkasaan-keperkasaan Tuhan ALLAH, hendak memasyhurkan hanya keadilan-Mu saja!
Memasyhurkan itu kan dengan mulut. Memasyhurkan nama Tuhan dengan mulut. Omongan kita, mulut kita hanya untuk memasyhurkan nama-Nya saja. Kalau dalam bahasa Inggris, dia berbunyi begini: Aku akan pergi dalam kekuatan dari Tuhan, aku akan menyebut kebenaran-Mu saja. Di situ dikatakan, aku hendak memasyhurkan hanya keadilan-Mu saja. Maksudnya kebenaran.
Jadi betapa indahnya kalau perkataan kita, mulut kita selalu menjadi berkat. Amsal
18:4 Perkataan mulut orang
adalah seperti air yang dalam, tetapi sumber hikmat adalah seperti batang air
yang mengalir.
Jadi omongan manusia itu nggak bisa kita raba, dia seperti air yang dalam. Dia ngomong ini maksudnya kemana, kita nggak akan tahu. Dia ngomong manis, apa betul manis, apa pura-pura manis, apa gulanya gula obat, kita nggak tahu. Seperti air yang dalam. Di dalam ayatnya yang ke-6,
18:6 Bibir orang bebal
menimbulkan perbantahan, dan mulutnya berseru meminta pukulan.
Bahasa Inggris: Mulut orang bodoh, bibir orang bodoh memasuki keributan. Jadi kita kalau salah pakai mulut kita, kita bukan menjadi pembawa kabar kesukaan, memasuki keributan. Ayat 7,
18:7 Orang bebal dibinasakan oleh
mulutnya, bibirnya adalah jerat bagi nyawanya.
Saudara tidak akan mati oleh kanker. Saudara tidak akan mati. Saya baru nonton televisi, di Azerbaizan ada orang umur 105 tahun. Dia punya buyut ada seratus lima belas. Dia punya anak, dia punya cucu, dia punya buyut, dia punya anaknya buyut, dijumlahkan itu seratus lima belas. Dia masih hidup dan jalan kaki di tempat becek, nggak ada yang bantu, nggak pakai tongkat, jalan biasa. Ditanya sama wartawan Korea. Jadi orang Korea itu bilang: Ginseng kayanya nggak ada artinya dibandingkan dengan bapak ini.
Dia masih ingat presiden Rusia semua, satu per satu. Sampai anaknya saja salah, dia nggak salah sebut presiden Rusia. Seratus lima tahun sehat. Mau? Kita musti punya semangat hidup. Saudara ngomong terus, saya hidup panjang umur, sehat, kuat. Ada engap sedikit tapi kita nggak ngomong, puji Tuhan, baik, sehat, kuat. Bagaimana sekarang? Sehat, amin, puji Tuhan. Itu ngomong saudara, sehat .. sehat .. sehat .. didengar oleh telinga kita sendiri, terus masuk ke dalam hati kita, masuk kepada pikiran kita, dia akan memerintahkan semua urat-urat, semua syaraf-syaraf kita sehat, kuat, untung, diberkati, amin, dijaga oleh Tuhan, panjang umur, puji Tuhan, haleluyah.
Besok saya diminta untuk khotbah jam sepuluh di Sukabumi karena om Rompas 78 tahun. Sehat. Pendeta Rorong 80 tahun, sehat juga. Tapi ada satu pendeta 89 tahun, panjang umur tapi sudah nggak ingat orang. Saya nggak mau umur 105, nyalangap. Nggak mau saya mah. Kalau sehat kaya orang itu, 105 sehat, jalan kaki. Dia gembala naik turun. Minum susu, minum air, air gunung, makan madu, makanan sehat. Dan kalau dia jadi gembala, dia nggak ngomong yang jelek dong. Tidak pernah ngomongin orang. Dia gembala. Jalan tiap hari. Mulut kita bisa bikin kita panjang umur kalau kita berbicara yang positif. Ayat 8,
18:8 Perkataan pemfitnah seperti
sedap-sedapan, yang masuk ke lubuk hati.
Jadi kalau kita dengar omongan orang yang jelek, ada orang cerita jelek tentang seseorang, itu kaya makanan enak, kaya sedap-sedapan. Pengen coba-coba cicipin. Telinga itu jadi tempat sampah. Apa saudara dapat berkat? Ayat 20,
18:20 Perut orang - Perut kita -
dikenyangkan oleh hasil mulutnya, ia dikenyangkan oleh hasil bibirnya.
Satu kali saya diajak ke Mangga Dua ITC. Saya belajar satu kata. Semua pedagang ngomong itu: Boleh barangnya, bapak, Ci. Boleh barangnya. Boleh barangnya silahkan lihat. Semua yang jual: Boleh barangnya ci, boleh barangnya ko. Dia selalu ngomong yang positif. Nggak jelekin pedagang lain, nggak jelekin pedagang di sebelah. Sebab mereka dagang barang yang sama, dagang dompet yang sama, dagang hal yang sama. Orang kalau dengar ngomong boleh, mau nggak mau dia berhenti. Saya nggak mau berhenti tapi dibilang boleh, pak. Boleh lihat? Boleh. Lihat dulu. Boleh pergi? Boleh. Kita pergi. Boleh semua. Ayat 21,
18:21 Hidup dan mati dikuasai
lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.
Bukan berarti saya gampang untuk berkata-kata positif. Itu saya perlu tiga tahun.
Kalau kita bilang cape, kita suka ngomong: Aduh, saya cape setengah mati. Kenapa
nggak bilang setengah hidup?
Di Jakarta saya diajak makan Bubur Sexy. Saya pikir, kenapa disebut Bubur Sexy? Kenapa sih disebut Bubur Sexy? Nanti om lihat. Bingung saya. Apanya yang sexy? Nanti om lihat. Begitu saya datang, yang jualnya sexy. Satu aci yang montok, bibir merah, tebal, pantatnya gendut. Silahkan ko, silahkan om. Kita sebut enci sexy. Dia udah kawin belum? Udah. Suaminya seorang dokter. Tapi umur 34, suaminya mati. Karena hampir tiap hari itu istri kalau makiin suami: Mampus deh luh. Mampus deh luh kalau begitu. Mampus deh luh, mampus deh luh. Mampus beneran. Jadi hati-hati, kita membawa kabar yang baik. Kembali kepada Tesalonika. Ayat ke-7,
3:7 maka kami juga, saudara-saudara, dalam segala kesesakan - Dia dalam persoalan, percobaan - dan kesukaran kami menjadi terhibur oleh kamu dan oleh imanmu.
Kata terhibur datang dari bahasa Inggris comfort, comfortable. Saya ini duduk tidak comfortable, tidak enak duduk saya, karena kursi ini tidak cocok. Posisi saya nggak enak. Tapi comfortable itu sama seperti saudara dari luar gereja masuk gereja. Panas, hareudang, begitu masuk ada AC. Nah, itu comfortable. Kita sudah haus terus minum yang dingin, segar. Nah, itu comfortable. Kita duduk di kursi malas yang bisa tidur sampai ngorok. Itu comfortable.
Padahal Paulus lagi dalam kesesakan, lagi dalam kesulitan, lagi dalam kesukaran. Tiba-tiba dia menjadi comfortable seperti orang yang kepanasan masuk di ruang yang ber-AC, dingin. Comfortable.
Ayat 8, Sekarang kami hidup kembali. Coba, dia pakai bahasa ini, Paulus. Seolah-olah dia waktu dalam kesukaran itu dia kayanya sudah mau mati. Eh, begitu dengar berita dari jemaat yang menyegarkan, yang baik tentang iman orang Tesalonika ... kami hidup kembali. Ini bukan pendeta menghibur jemaat, jemaat menghibur gembala. Bagaimana? Punya iman yang kuat, itu bikin si gembala itu terhibur.
Aduh, sekarang aku hidup kembali, katanya, asal saja - Tidak ada kata asal tetapi yang ada kata jika -. Sekarang kami hidup kembali, jika kamu teguh berdiri di dalam Tuhan. Apa yang menyebabkan Paulus merasa hidup kembali? Kalau jemaat teguh. Kalau saudara teguh di dalam Tuhan, firman-Nya bukan cuma didengar doang tapi diamalkan, dikerjakan, iman masuk dalam hati kita. Kita praktekkan dalam hidup sehari-hari. Kita hidup teguh di dalam Tuhan, kokoh, kuat, iman kita kuat, gembalanya hidup. Nggak usah dikasih vitamin, dia panjang umur, hidup kembali. Ayat 9,
3:9 Sebab ucapan syukur apakah yang dapat kami persembahkan kepada Allah atas
segala sukacita, yang kami peroleh karena kamu, di hadapan Allah kita?
Maaf saudara, Paulus sampai susah mengungkapkan sukacitanya. Pakai ucapan syukur mana saya ngomong sama Tuhan? Musti ngomong bagaimana saya bilang terima kasih sama Tuhan karena senangnya saya. Karena hidup kembali saya ini mendengar iman jemaat Tesalonika, teguh di dalam Tuhan. Mendengar kemajuan kasihnya, mendengar bahwa mereka ingat kepada saya, kata Paulus ini, sampai saya mau pilih kata-kata apa yang saya mau naikkan kepada Tuhan untuk bersyukur atas penghiburan yang besar. Luar biasa. Paulus ini terhibur kalau dengar.
Tadi ada sembilan orang dari Depok ketemu saya. Empat hamba Tuhan, yang lain jemaat. Ada masalah mereka. Saya tanya, bapak lulusan Cianjur bukan? Istri saya lulusan Cianjur, om. Angkatan berapa? Angkatan dua. Begitu dengar angkatan dua, saya ke belakang lagi, dua puluh tahun yang lalu. Terima kasih, Tuhan. Bersyukur. Kalau kamu sekarang? Sudah jadi ketua wilayah. Saya angkatan sebelas, om. Terhibur hati saya karena mereka berhasil. Yang terakhir,
3:10 Siang malam kami berdoa sungguh-sungguh, supaya kita bertemu muka dengan
muka dan menambahkan apa yang masih kurang pada imanmu.
Night and day praying exceedingly, siang malam kami berdoa. Bukan sungguh-sungguh - lebih dari seharusnya.
Jadi kalau doa sebetulnya sepuluh menit, doa pribadi lima belas menit sudah cukup, dia lebih ... siang malam. Melebihi dari yang cukup, lebih dari yang cukup. Dari sini saya belajar bahwa memang orang kristen itu macam-macam, nggak bisa disama-ratakan. Yang suka doa kan nggak semua. Yang suka doa malam nggak semua. Tetapi yang suka berdoa dan yang tidak suka berdoa, yang suka berdoa lebih maju rohaninya. Yang suka bedston banyak sekali, tapi tidak semua jemaat.
Sekarang Jakarta mulai bangkit. Mereka tiap senin, jam enam sampai jam tujuh. Bangkit mereka. Kesaksian mereka, setelah saya jalani, memang jauh rumah saya, musti naik turun taksi sampai ke sini. Saya nggak ikut, saya cuma ikut pertama waktu pembukaannya. Saya nggak ikut. Mereka saksi. Mereka mendapatkan kemudahan dan pencerahan dari Tuhan yang luar biasa. Tapi saya nggak bisa paksa, orang itu dijenggut rambutnya, doa ... nggak bisa. Harus ... nggak bisa. Doa itu harus datang dari cinta. Kalau nggak datang dari cinta, nggak ada harganya di hadapan Tuhan. Rela, cinta, ikhlas.
Doa itu bukan tugas. Doa itu hak istimewa yang Tuhan beri kepada saudara. Bisa dipakai, bisa tidak. Nah, itu yang istimewa itu saudara mau pakai atau tidak, terserah saudara. Waktu ke Israel, pesawat kami sampai di Dubai, satu jemaat kami upgrade saya ke bisnis class untuk istirahat karena tujuh jam berhenti. Jadi disewakan kamar hotel. Tidur. Tapi rombongan yang lain, 30-40 orang, tidak ada lounge, tidak ada tempat untuk istirahat. Tujuh jam mereka mau di mana? Tapi jemaat saya ini, dia punya satu kartu.
Istimewanya kartu itu boleh dipakai di lounge mana untuk 20 orang. Akhirnya 30 orang bisa masuk. Makan, minum semua di situ. Hanya dengan kartu. Doa itu seperti kartu itu. Kalau kartu itu dia tidak pakai, 30 orang tetap kepanasan di luar. Tapi kartu itu dipakai dan tidak usah bayar, yang kecapean, yang kepanasan itu bisa duduk, comfortable di ruang tunggu. Boleh makan, boleh minum hanya oleh kartu dia. Doa itu begitu. Saudara mau bedston, mau nggak bedston, urusan saudara. Tapi kalau saudara bedston, saudara pakai kartu itu. Mau comfortable? Pakai.
Saya mah gitu, susah-susah amat paksa-paksa orang sembahyang. Mau comfortable? Pakai itu kartu doa. Tuhan, saya pakai hak istimewa saya. Bapa kami dalam sorga. Tuhan disebut Bapa loh, papa, wo te papa, ni te papa, Bapa kita. Amin? Tuhan, loh. Sampai Dia bilang, sudah lama kamu sama-sama Aku, kamu nggak pernah minta apa-apa. Minta supaya sukacitamu penuh. Coba. Hak istimewa. Bukan yang lebih banyak berdoa lebih rohani. Tidak. Yang lebih banyak berdoa, lebih menikmati hak istimewanya.
Kalau dia tidak pakai seperti kartu ditaruh di dompet, hak istimewa tidak terpakai. Orang menderita. Tapi ketika dia pakai hak istimewa, dia bukan dapat berkat buat dia saja tapi 30 orang bisa minum, bisa makan, bisa istirahat. Bukan buat saudara saja berkat itu tapi buat orang lain akan merasa berkat kalau saudara berdoa.
Siang malam kami berdoa exceedingly, lebih dari batas. Saudara lihat, ini batas, lewat batas dia jatuh. Kalau ini masih dalam batas keseimbangan. Lewat batas, dia jatuh. Paulus doa sampai sini cukup. Saya berdoa siang malam exceedingly, lebih dari batas.
Kalau bayar lima ribu, dia bayar lima belas ribu. Itu lebih dari batas. Tadi saya lihat di televisi. Saya banyak belajar di televisi. Di Korea orang bikin jas itu dulu dan sekarang bedanya luar biasa. Dulu dia masih pakai tangan, pakai mesin jahit, ditaruh, dipas dulu. Tapi sekarang seorang Korea, tukang jahit, dia belajar komputer. Dan dia selidiki dia punya langganan. Langganannya badannya tingginya berapa, masukkan komputer. Lalu dia bikin. Kalau orang tinggi segini, badan lebar dada segini, lehernya begini, dia lihat rata-rata ukurannya. Dia punya jas the best di seluruh Korea.
Dia bikin satu bulan dua ratus jas karena pakai komputer. Ngegunting pakai komputer, nggak akan salah, nggak akan bengkok. Jahit pakai komputer. Nggak akan salah. Rapi sekali jahitannya. Luar biasa. Itu kemudahan. Dulu mungkin satu bulan bisa 30-40 jas. Sekarang 200 setel jas satu bulan. Dia cuma lihat, bapa tingginya berapa? Dadanya berapa? Cari saja di komputer, tinggi segitu, dadanya segini. Bikin jas, kerjain, sudah jadi. Bapak tunggu saja. Satu jam selesai, dua puluh menit selesai. Sekarang sudah luar biasa. Jadi nggak usah tunggu lama, masih muka dengan muka sudah selesai. Bapak duduk saja. Rapi lagi.
Nah, kalau saudara berdoa, saudara bertemu muka dengan muka. Bukan dengan saya, dengan Tuhan. Carilah wajah-Nya, itu artinya berdoa. Sekarang saudara-saudara sedang doa dan puasa. Doa dan puasa tidak meningkatkan iman. Firman yang meningkatkan iman. Tapi saudara doa dan puasa meningkatkan hak istimewa saudara. Amin? Saudara mau dikasih hak istimewa itu? Tinggal saudara pakai atau tidak, itu terserah saudara. Mau diberkati atau tidak, terserah saudara. Sampai di sini firman Tuhan. Tuhan memberkati saudara.
Mari kita berdiri bersama-sama.
-- o --
Rabu, 21
Oktober 2009
DOA UNTUK JEMAAT
I Tesalonika
3:12 Dan kiranya Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam
kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang, sama seperti kami
juga mengasihi kamu.
3:13 Kiranya Dia menguatkan hatimu, supaya tak bercacat dan kudus, di hadapan
Allah dan Bapa kita pada waktu kedatangan Yesus, Tuhan kita, dengan semua orang
kudus-Nya.
Ada haleluyah? Pada bagian yang penting ini saya ingin menerangkan betapa baiknya rencana Tuhan bagi kita dan ini adalah doa rasul Paulus untuk jemaat di Tesalonika.
Betapa rendah hatinya rasul Paulus, dia tidak bilang: Oh, saya pasti datang tanggal sekian akan mengunjungi kamu, tanggal sekian kami akan datang saya akan begini, saya akan begitu. Tidak. Tetapi sekarang biarlah, jadi dia menyerahkan sama Tuhan ... biarlah Allah Bapa kita dan Tuhan Yesus Kristus akan mengarahkan jalan kami kepada-Mu. Kalau kita bicara jalan, kita tidak bisa jauh dari Tuhan Yesus sebab Yesus berkata: Akulah jalan, kebenaran, dan hidup. Amin, saudara? Jadi kalau saudara tertutup jalan dalam segala hal bidang kehidupan, jangan lupa Yesus karena Yesus berkata: Dia adalah jalan.
Jadi sebetulnya tidak ada yang tertutup jalan sebab Yesus yang kita percaya adalah jalan. Jadi saudara pasti saudara ada jalannya, selalu Tuhan memberikan jalan kepada saudara. Salah satu ayat yang disukai banyak orang kristen adalah I Korintus
10:13 Pencobaan-pencobaan yang kamu alami
ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab
Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui
kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar,
sehingga kamu dapat menanggungnya.
Pada waktu dicobai Ia akan memberikan kepadamu apa, saudara? Pada waktu apa? Waktu dicobai. Tidak ada percobaan saudara tidak akan lihat jalan keluar karena tidak ada percobaan tetapi pada waktu dicobai, Tuhan tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.
Jadi Tuhan itu tahu kepasitas kita, Tuhan itu tahu kemampuan kita. Itu sebabnya soal jalan jangan kita jauh dari Tuhan. Kalau saudara sabar sedikit, kita lihat Mazmur 23, yang biasa kita baca dan dengar. Dalam Mazmur 23, di sana saudara membaca satu kebenaran firman Allah.
23:1 Mazmur Daud. TUHAN adalah gembalaku,
takkan kekurangan aku.
23:2 Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air
yang tenang;
23:3 Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena
nama-Nya.
Jadi Tuhan tidak mungkin salah, Tuhan tidak mungkin sesat, Tuhan tidak mungkin kasih jalan yang bikin bahasa Sunda bilang paciweuh, tidak. Dia akan memberikan jalan keluar, Dia akan membawa kita di jalan yang benar. Ada banyak jalan. Amsal Salomo berkata, adalah jalan yang disangka orang benar tetapi akhirnya menuju kepada kebinasaan. Jadi kalau saudara jadikan Yesus jalan kita, Yesus cara kita hidup, Yesus cara kita hidup dalam Tuhan maka Dia akan, Paulus pertama bilang di Tesalonika, akan mengarahkan jalannya aku kepada-Mu. Satu, mengarahkan. Dua, Dia mempunyai jalan keluar ketika kita dalam percobaan. Ketiga, Dia membawa kita di jalan yang benar. Berarti ada jalan yang tidak benar.
Kita mau lihat jalan orang benar. Dalam Amsal 4, di sana janji Tuhan kepada umat-Nya,
4:18 Tetapi jalan orang benar itu seperti
cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari.
4:19 Jalan orang fasik itu seperti kegelapan; mereka tidak tahu apa yang
menyebabkan mereka tersandung.
Ayat 18 bilang, jalan orang benar seperti cahaya fajar. Saudara lihat nggak, jalan orang benar seperti cahaya fajar. Ayat 19, jalan orang fasik seperti kegelapan. Kenapa dia gelap, kenapa jalan orang benar terang? Itu di dalam ayatnya yang ke-20,
4:20 Hai anakku, perhatikanlah
perkataanku, arahkanlah telingamu kepada ucapanku;
4:21 janganlah semuanya itu menjauh dari matamu, simpanlah itu di lubuk hatimu.
4:22 Karena itulah yang menjadi kehidupan bagi mereka yang mendapatkannya dan
kesembuhan bagi seluruh tubuh mereka.
Jadi dari dengar-dengaran akan membawa saudara di jalan yang benar atau gelap, itu
dari cara kita mendengar Tuhan, cara kita menurut kepada Tuhan, cara kita taat kepada
Firman-Nya.
Kita kembali lagi kepada Tesalonika. Di dalam ayat berikutnya, ada lagi kata kiranya, itu tidak ada kata kiranya. "Dan biarlah Tuhan menjadikan kamu bertambah-tambah dan berkelimpahan dalam kasih seorang terhadap yang lain dan terhadap semua orang sama seperti kami juga mengasihi kamu."
Ini kasih yang paling tinggi. Kasih ini adalah kasih yang harus kita bukan cuma pelajari tetapi harus kita alami.
Biarlah saudara saling mengasihi kiranya biarlah Tuhan menambah menjadikan kamu bertambah, sudah lama kita tidak bernyanyi Bertambah kumau bertambah, bertambah-tambah dan berkelimpahan. Maksudnya berkelimpahan itu luber, diambil dua tiga ember tidak habis wah, limpah, dalam kasih seorang terhadap yang lain.
Masih saya berbicara tentang mulut. Kalau saudara mengasihi saudara yang lain, kita tidak akan mengata-ngatai dia, mulut kita tidak akan menjelek-jelekkan dia. Demikian juga saudara yang lain tidak akan saling menjelekkan karena kasihnya itu limpah. Sebab bertambah-tambah, limpah, tidak akan saling menjelekkan. Biasanya keadaan dalam peperangan bikin orang bersatu tapi ketika aman gontok-gontokan satu sama yang lain, jadi setan tidak usah bikin ribut kalau orang kristen sendiri suka ribut. Suka ngomongin orang, suka ribut, suka meureukeudeuweung. Saudara tahu nggak arti meureukeudeuweung itu apa? Iblis tidak usah kerja, dia diam saja, nonton dia, orang kristen ribut sendiri.
Tetapi karena kita limpah dengan kasih seorang terhadap yang lain, saya bilang ini yang paling tinggi ya paling berat, dan terhadap semua orang. And to all. Tidak ada batasnya dia bangsa apa, dia suku apa, dia agama apa, dia teroris, saudara tetap harus mengasihi. Dia membom di sana-sini, dia ngomong membom perbuatan orang suci, tetapi kasih yang melimpah akan tetap mengasihi orang yang paling jahat sekalipun.
Tahukah saudara bahwa Yesus mati, dia mati juga untuk dosa barabas. Amin? Yesus Barabas dan Yesus dari Nazaret ini, Barabas bebas itu justru karena Yesus mati maka darah-Nya pun menebus dosa Barabas. Kasih Yesus tidak bisa dibatasi karena Barabas orang jahat. Gara-gara ada Barabas, Yesus disalib dan Yesus berhenti tidak mengasihi, tidak. Hal ini tidak bisa kita paksakan, ini nanti bertumbuh sendiri. Bertumbuh sendiri sampai pada satu tingkat kita akan sama seperti Yesus, kita akan bertumbuh seperti Yesus.
Saya akan buka satu ungkapan supaya saudara mengerti pertumbuhan ini. I Yohanes
3:2 Saudara-saudaraku yang kekasih,
sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak;
akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan
menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang
sebenarnya.
Mari saudara perhatikan kata 'anak-anak' di sana. Di dalam bahasa Yunani, kata anak-anak di sana dipakai kata teknion ... anak yang baru lahir, seorang yang dilahirkan baru ia disebut anak-anak Allah, seperti saudara dan saya sekarang anak-anak Allah. Kalau sekarang kita buka Roma
8:14 Semua orang, yang dipimpin Roh Allah,
adalah anak Allah.
8:15 Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut
lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh
itu kita berseru: "ya Abba, ya Bapa!"
8:16 Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak
Allah.
8:17 Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya
orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya
bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia,
supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.
8:18 Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat
dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.
8:19 Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan.
Dalam Roma 8:19, dia tidak ditulis teknion tetapi ditulis huios ... anak yang sudah dewasa. Tapi I Yohanes 3, kita anak Allah. Kita tidak tahu kita nanti akan jadi apa. I Yohanes 3 tadi kita nantinya akan jadi sama seperti Yesus. Jadi dari anak yang biasa akan jadi seperti Yesus itu ada tahapannya. Proses. Saya banyak memberkati pengantin-pengantin. Jemaat yang menikah saya berkati. Tahu nggak saudara bahwa pengantin itu dulunya bayi? Ngedot, ngompol, nangis. Nggak bisa ngomong. Panas nangis, kedinginan nangis, lapar nangis.
Tapi kalau sudah dewasa kalau lapar, apa nangis dulu nggak? Makan. Karena sudah dewasa. Minum, buka kulkas, minum air putih dingin. Karena sudah dewasa. Ada nyamuk, nggak nangis, dipukul nyamuknya. Panas kepanasan, masuk ke gereja ada AC, dingin. Karena sudah dewasa, sudah tahu ke mana. Hujan, buka payung. Nggak nangis lagi. Anak bayi nangis.
Makanya orang kristen, saya juga harus ngerti kegembalaan. Ada yang bawel, nangis, dia itu belum dewasa. Kalau bayi belum bisa ngomong Abba, ya Bapa, nggak bisa. Tapi kalau sudah dewasa, dia panggil Yesus ... Abba. Karena kita sudah tahu, kita tuh punya Bapa. Nggak mungkin Bapa kita itu membiarkan kita keleleran, nggak terurus. Nggak mungkin. Saudara itu adalah anak-anak Allah. Cuma sekarang yang mana, apa saudara teknion ... anak yang baru dilahirkan, atau huios ... anak yang dewasa? Kembali lagi kepada Tesalonika, kita membaca ayat ke-12,
Pertama, kita akan mengerti kasih Bapa, Yesus, kepada kita. Lalu kita akan mengerti kasih di antara kita orang kristen, satu sama lain saling mengasihi. Nggak yang muda, nggak yang tua saling mengasihi, saling menghargai. Kepada yang lebih tua, saya harus menghormati. Kepada yang lebih muda, saya harus mengasihi. Lalu kalau sudah berkembang lagi, saudara punya kasih itu kepada semua orang. Saudara orang kristen tapi kasih saudara itu kepada semua orang. Saya kasih contoh ya, ini ilustrasi. Coba buka dulu Kolose
1:27 Kepada
mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara
bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu - Bahasa Inggris,
di dalam kamu -, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!
Roma 8:19 tadi, seluruh alam menunggu anak-anak Allah dinyatakan. Huios dinyatakan, yang ditunggu oleh alam. Alam sekarang rusak oleh gempa, oleh longsor, oleh banjir. Rusak alam. Tapi mereka lagi menunggu. Semua ciptaan. Nggak binatang, nggak bulan, matahari. Semua alam ini menunggu. Jangan takut sama alam. Alam itu menunggu huios. Dia tidak menunggu teknion. Teknion nggak bisa apa-apa. Huios, anak Allah dinyatakan. Kalau Kolose 1:27 berkata, Kristus di dalam kita adalah pengharapan beroleh kemuliaan.
Sekarang saya anggap saudara-saudara mempunyai Kristus di dalam saudara. Amin? Kristus di dalam saudara. Sekarang kalau saya bilang, saudara ada Kristus di dalam saudara, apa yang ada di pikiran saudara? Apa yang ada di pikiran saudara kalau Kristus ada di dalam kita? Kalau saudara tidak lagi teknion tapi saudara jadi huios, saudara tahu ada Kristus di dalam saudara, masuk rumah sakit, apa yang terjadi? Ada yang sakit, saudara berdoa. Bukan saudara yang menyembuhkan, Kristus di dalam saudara menyembuhkan itu. Sebab Kristus di dalam kita pengharapan beroleh kemuliaan.
Coba kalau saudara yang ada Kristus di dalam diri kita, dia buka toko, dia buka usaha, kalau usahanya nggak diberkati Tuhan. Pasti diberkati Tuhan. Sebab ada Kristus di dalam kita. Makanya berhenti dari teknion, jadilah huios, jadi anak yang dewasa. Ibrani
6:1 Sebab itu marilah kita tinggalkan
asas-asas pertama dari ajaran tentang Kristus dan beralih kepada perkembangannya
yang penuh. Janganlah kita meletakkan lagi dasar pertobatan dari
perbuatan-perbuatan yang sia-sia, dan dasar kepercayaan kepada Allah,
6:2 yaitu ajaran tentang pelbagai pembaptisan, penumpangan tangan, kebangkitan
orang-orang mati dan hukuman kekal.
6:3 Dan itulah yang akan kita perbuat, jika Allah mengizinkannya.
Jadi ayatnya yang ke-1 dan ke-2, langsungkanlah kepada kesempurnaan. Bahasa Indonesia ayat 1, beralih kepada perkembangannya yang penuh. Let us go on to perfection, marilah kita beralih kepada kesempurnaan.
Jadi jangan di teknion terus, alihkan kepada huios. Karena limpah saudara dengan kasihnya, saudara nggak ada masalah lagi dengan sesama jemaat. Kasihnya itu besar sama sesama. Mengasihi benar, mengasihi. Nggak bisa benci, nggak bisa karena limpah kasihnya. Orang itu juga harusnya begitu juga kepada kita. Jadi saling mengasihi.
Tapi kalau sudah meningkat, semua orang saudara kasihi. Saya katakan tadi, kalau Kristus di dalam kita, Dia kaya magnit. Saudara lagi buka toko, sudah datang mau beli barang. Belum buka, baru mau buka toko. Kaya magnit sih saudara. Peribahasa bilang, di mana ada gula, di situ ada semut. Kalau kasih itu ada limpah di dalam hati saudara, semut akan datang, berkat akan datang. Jadi Kristus yang ada di dalam kita itu magnit, menarik segala sesuatu kepada dirinya sendiri, kepada Yesus. Saudara tidak akan kekurangan.
Saudara tidak perlu jual rumah, kecuali mau beli rumah yang lain, mau beli rumah yang lebih besar. Jangan jual rumah karena harus bayar ini, harus bayar itu saya musti jual rumah. Jangan ... saudara nggak punya Kristus. Tapi kalau ada Kristus di dalam kita, biar Dia yang berfungsi, biar Dia yang bekerja, biar Dia yang menjadi magnit. Kembali kepada Tesalonika.
Lalu kasih yang terakhir yang harus kita pelajari adalah kasih sama seperti kami - rasul Paulus - juga mengasihi kamu. Di dalam kasih, Yohanes bilang, tidak ada ketakutan. Orang yang masih takut belum sempurna kasihnya.
Saudara kalau tahu saya mengasihi saudara, saudara tidak boleh takut. Kalau mau tulis surat, susah-susah tulis surat, ngomong di depan saya, mau begini, mau begini, mau begini, setuju nggak? Nggak usah pakai surat. Saya lebih senang segala sesuatu dibikin sederhana. Karena saudara belum tahu, kami mengasihi kamu. Saudara belum tahu. Kalau saudara sudah tahu kasih Allah kepada kita, kasih sesama manusia, kita mengasihi semua orang, apa saya dianggap orang apa tidak? Dianggap orang kan. Kasih yang benar membuang ketakutan. Kita baca I Yohanes
4:7 Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu
berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan
mengenal Allah.
4:8 Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah
kasih.
4:9 Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa
Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup
oleh-Nya.
4:10 Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang
telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi
dosa-dosa kita.
4:11 Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita,
maka haruslah kita juga saling mengasihi.
4:12 Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi,
Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita.
4:17 Dalam hal inilah kasih Allah sempurna di dalam kita, yaitu kalau kita
mempunyai keberanian percaya pada hari penghakiman, karena sama seperti Dia,
kita juga ada di dalam dunia ini. - Jadi selama kita hidup di dalam dunia, kita
diminta sama seperti Dia. Saudara belum tahu ini. Ayat 18 -
4:18 Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan
ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak
sempurna di dalam kasih.
4:19 Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.
4:20 Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya,
maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang
dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.
4:21 Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia
harus juga mengasihi saudaranya.
Saya kasih tahu, make-up yang terbaik adalah mengasihi. Sebab begitu saudara mengasihi orang, mengampuni, memaafkan, jangan lihat jeleknya, jangan lihat kejelekannya, saudara mengasihi. Jangan diracuni hati kita. Mengasihi dia, tetap. Bahkan Firman Tuhan bilang, musuhpun harus dikasihi. Saudara tahu nggak wajah saudara itu bagus, hati saudara bagus, pernafasan saudara sehat, semua sehat, tekanan darah normal. Kita punya kasih. Biar kasih itu nanti yang make-up saudara.
Tapi kalau kita benci, itu yang bikin keriput, cepat tua. Hati kita penuh kebencian, hati kita penuh kemarahan, hati kita penuh kejengkelan. Curiga saja, curiga, itu hatinya nggak ada kasih. Mau make-up bikin saudara ganteng, saudara tetap cantik, tetap sehat, tetap moleh, tetap montok, sampai usia lanjut, sehat.
Saudara mau punya make up dari Tuhan? Kasih Allah melingkupi saya .. Lingkupi saya selama-lamanya. Natal mah kita hanya memperingati kasih Allah. Kita bikin pertunjukan, kita bikin musik, kita bikin nyanyian. Kita cuma merayakan kasih Allah. Kalau saudara dipenuhi dengan kasih Allah, aduh sorga dah. Nggak bisa benci, nggak bisa marah, nggak bisa diprovokasi, nggak bisa. Saudara terlalu penuh dengan kasih. Saudara penuh sayang. Lihat orang ingin ngajak ke gereja, ingin ngajak kepada Yesus supaya selamat.
Saya ingin saudara nanti pulang dengan kasih ini. Kristus di dalam kita pengharapan beroleh kemuliaan. Haleluyah. Ayat terakhir,
Bahasa Indonesia,
3:9 Jadi bagaimana? Adakah kita mempunyai
kelebihan dari pada orang lain? Sama sekali tidak. Sebab di atas telah kita
tuduh baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, bahwa mereka semua ada di bawah
kuasa dosa,
3:10 seperti ada tertulis: "Tidak ada yang benar, seorangpun tidak.
3:11 Tidak ada seorangpun yang berakal budi, tidak ada seorangpun yang mencari
Allah.
3:12 Semua orang telah menyeleweng, mereka semua tidak berguna, tidak ada yang
berbuat baik, seorangpun tidak.
3:13 Kerongkongan mereka seperti kubur yang ternganga, lidah mereka merayu-rayu,
bibir mereka mengandung bisa.
3:14 Mulut mereka penuh dengan sumpah serapah,
3:15 kaki mereka cepat untuk menumpahkan darah.
3:16 Keruntuhan dan kebinasaan mereka tinggalkan di jalan mereka,
3:17 dan jalan damai tidak mereka kenal;
3:18 rasa takut kepada Allah tidak ada pada orang itu."
Ini keadaan kita di luar Kristus, sebelum kita kenal Tuhan. Tetapi setelah kita
kenal Tuhan, seperti tadi, dari teknion menuju huios ... dari anak biasa, anak yang
baru lahir sampai anak yang dewasa. Kita lihat sebagai ayat yang terakhir,
Efesus 5. Dalam Efesus 5 di sana rasul Paulus berbicara tentang kesempurnaan.
Efesus
5:25 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat
dan telah menyerahkan diri-Nya baginya
5:26 untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan
air dan firman,
5:27 supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan
cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat
kudus dan tidak bercela.
Tuh ini tujuan-Nya Tuhan. Jadi saya bukan duduk di atas sini saya lebih hebat dari saudara, tidak. Kita sama. Menurut Roma 3 sama kita. Saudara senang bahwa kita akan jadi serupa dengan Dia? Senang nggak? Kita lihat sekarang diri kita sendiri, ada cacat, ada kurang, ada ini. Tapi kalau kita jadi huios, nanti sedang ditunggu oleh semua makhluk, semua ciptaan. Kalau Kristus di dalam kita sudah berfungsi, kasih kepada sesama sudah luar biasa, kita mengerti kasih Tuhan, kita mengerti kasih gembala. Jangan heran kalau saudara duduk di mobil, orang bisa nangis.
Satu pendeta, saudaraku, pada abad 19, dia masuk restoran. Orang lagi makan, dia masuk restoran. Dia makan. Dia makan biasa, orang pada nangis, berlutut semua. Dia khotbah sekalian. Dia orang biasa tapi itunya penuh di dalam dia. Itu kuasa Roh Kudusnya, Yesusnya itu penuh, kasihnya itu penuh. Sampai orang di sekitar situ berasa. Ada pengaruh saya nggak bagi saudara? Ada pengaruh saya ada apa tidak ada, ada pengaruh nggak buat saudara? Ada apa tidak? Kalau saya ada atau tidak ada, ada pengaruh nggak buat saudara? Saudara senang, saudara akan jadi seperti Dia. Haleluyah.
Singer maju ke depan. Mari kita berdiri.
-- o --
__________________________
__________________________