Khotbah Minggu Sore Januari - Februari 2006

Gereja Pentakosta di Indonesia - Cianjur

Jalan Hasyim Asyari 75, Cianjur 43214. Tel (62-263) 261161 - Indonesia

Minggu, 15 Januari 2006

  TUHAN ITU BAIK

II Tawarikh

33:1 Manasye berumur dua belas tahun pada waktu ia menjadi raja dan lima puluh lima tahun lamanya ia memerintah di Yerusalem.
33:2 Ia melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, sesuai dengan perbuatan keji bangsa-bangsa yang telah dihalaukan TUHAN dari depan orang Israel.
33:3 Ia mendirikan kembali bukit-bukit pengorbanan yang telah dirobohkan oleh Hizkia, ayahnya; ia membangun mezbah-mezbah untuk para Baal, membuat patung-patung Asyera dan sujud menyembah kepada segenap tentara langit dan beribadah kepadanya.
33:4 Ia mendirikan mezbah-mezbah di rumah TUHAN, walaupun sehubungan dengan rumah itu TUHAN telah berfirman: "Di Yerusalem nama-Ku akan tinggal untuk selama-lamanya!"
33:5 Dan ia mendirikan juga mezbah-mezbah bagi segenap tentara langit di kedua pelataran rumah TUHAN.
33:6 Bahkan, ia mempersembahkan anak-anaknya sebagai korban dalam api di Lebak Ben-Hinom; ia melakukan ramal, telaah dan sihir, dan menghubungi para pemanggil arwah dan para pemanggil roh peramal. Ia melakukan banyak yang jahat di mata TUHAN, sehingga ia menimbulkan sakit hati-Nya.
33:7 Ia menaruh juga patung berhala yang telah dibuatnya dalam rumah Allah, walaupun Allah telah berfirman kepada Daud dan kepada Salomo, anaknya: "Dalam rumah ini dan di Yerusalem, yang telah Kupilih dari antara segala suku Israel, Aku akan menaruh nama-Ku untuk selama-lamanya!
33:8 Aku tidak akan membuat pula orang Israel berjejak ke luar dari tanah yang telah Kutentukan untuk nenek moyangmu, asal saja mereka melakukan dengan setia segala yang telah Kuperintahkan kepada mereka dengan perantaraan Musa, yakni segala hukum, ketetapan dan peraturan."
33:9 Tetapi Manasye menyesatkan Yehuda dan penduduk Yerusalem, sehingga mereka melakukan yang jahat lebih dari pada bangsa-bangsa yang telah dipunahkan TUHAN dari depan orang Israel.
33:10 Kemudian berfirmanlah TUHAN kepada Manasye dan rakyatnya, tetapi mereka tidak menghiraukannya.
33:11 Oleh sebab itu TUHAN mendatangkan kepada mereka panglima-panglima tentara raja Asyur yang menangkap Manasye dengan kaitan, membelenggunya dengan rantai tembaga dan membawanya ke Babel. 

Di dunia ini, tidak ada raja sejahat raja Manasye, seorang raja Israel yang pernah memerintah. Manasye adalah anak raja Hizkia, raja yang umurnya diperpanjang 15 tahun lagi oleh Tuhan. Pada masa usia raja Hizkia diperpanjang lagi inilah, Manasye lahir. Tuhan itu panjang sabar. Kejahatan Manasye sampai 55 tahun lamanya.

Ada 7 kejahatan raja Manasye. Ayat 2, kejahatannya sama dengan yang dilakukan musuh-musuh Israel. Ayat 6, yang ia korbankan itu manusia, bahkan anak-anaknya sendiri dikorbankan. Roma

1:26 Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar.
1:27 Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka.
1:28 Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas:
1:29 penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan.
1:30 Mereka adalah pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua,
1:31 tidak berakal, tidak setia, tidak penyayang, tidak mengenal belas kasihan.
1:32 Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-tuntutan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal demikian, patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, tetapi mereka juga setuju dengan mereka yang melakukannya.

Ayat 32, bahasa asli setuju adalah menikmati. Raja Manasye setuju, ia menikmati kekejian-kekejian ini. Jangan sampai bila ada perkelahian atau keributan, kitapun ikut menikmati.

Ayat 4 (II Tawarikh 33). Penghinaan kepada Tuhan. Pelecehan kepada Nama Tuhan. Ayat 10, suara Tuhan sudah tidak dihiraukan.

Bandingkan dengan Petrus ketika ia tidak memperoleh ikan dan disuruh menangkap ikan lagi oleh Yesus. Lukas

5:4 Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: "Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan."
5:5 Simon menjawab: "Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga."

Atau, Naaman yang akhirnya sembuh dari kustanya,
II Raja-raja 5:14 Maka turunlah ia membenamkan dirinya tujuh kali dalam sungai Yordan, sesuai dengan perkataan abdi Allah itu. Lalu pulihlah tubuhnya kembali seperti tubuh seorang anak dan ia menjadi tahir.

Tidak ada raja yang sejahat, sebodoh, yang menyakitkan hati Tuhan seperti yang raja Manasye lakukan. II Tawarikh

33:13 dan berdoa kepada-Nya. Maka TUHAN mengabulkan doanya, dan mendengarkan permohonannya. Ia membawanya kembali ke Yerusalem dan memulihkan kedudukannya sebagai raja. Dan Manasye mengakui, bahwa TUHAN itu Allah.

Raja Manasye berdoa setelah 55 tahun lamanya ia tidak berdoa kepada Tuhan. Dan Tuhan masih mendengar doanya! Dalam seri pertama dari back to basic ini, kita diingatkan bahwa:

1. Tuhan itu baik. Kebaikan-Nya tidak bisa diukur, kebaikan-Nya untuk selama-lamanya.

2. Dalam kesalahan kita, larilah kepada Tuhan serta merendahkan diri kepada Tuhan.

Dan Tuhan pasti mendengar doa kita. Tuhan bisa memulihkan usaha kita, peternakan kita - asal kita kembali kepada Tuhan. Eling. Dasar dari kekristenan adalah pengampunan. Orang yang suka mengampunilah, yang gampang diampuni Tuhan. Arti pertobatan adalah kita meninggalkan perbuatan kita yang salah.

Matius

1:1 Inilah silsilah Yesus Kristus, anak Daud, anak Abraham.
1:2 Abraham memperanakkan Ishak, Ishak memperanakkan Yakub, Yakub memperanakkan Yehuda dan saudara-saudaranya,
1:3 Yehuda memperanakkan Peres dan Zerah dari Tamar, Peres memperanakkan Hezron, Hezron memperanakkan Ram,
1:4 Ram memperanakkan Aminadab, Aminadab memperanakkan Nahason, Nahason memperanakkan Salmon,
1:5 Salmon memperanakkan Boas dari Rahab, Boas memperanakkan Obed dari Rut, Obed memperanakkan Isai,
1:6 Isai memperanakkan raja Daud. Daud memperanakkan Salomo dari isteri Uria,
1:7 Salomo memperanakkan Rehabeam, Rehabeam memperanakkan Abia, Abia memperanakkan Asa,
1:8 Asa memperanakkan Yosafat, Yosafat memperanakkan Yoram, Yoram memperanakkan Uzia,
1:9 Uzia memperanakkan Yotam, Yotam memperanakkan Ahas, Ahas memperanakkan Hizkia,
1:10
Hizkia memperanakkan Manasye, Manasye memperanakkan Amon, Amon memperanakkan Yosia, ...

1:16 Yakub memperanakkan Yusuf suami Maria, yang melahirkan Yesus yang disebut Kristus.

Ayat 10. Amon selamat dari dipersembahkan sebagai korban oleh Manasye, ayahnya, karena ayahnya bertobat. Tuhan mau menyelamatkan yang jahat juga; semua orang ada di dalam rencana keselamatannya Tuhan. Tuhan sanggup menyelamatkan kita. Taruhlah beban di kaki Tuhan, taruh hati kita serendah-rendahnya. Biar Tuhan memperbaharui visi dan penilaian kita. Kita akan rasa plong karena semuanya diserahkan kepada Tuhan.

Mazmur

32:1 Dari Daud. Nyanyian pengajaran. Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi!
32:2 Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu!

-- o -- 

Minggu, 22 Januari 2006

EUTIKHUS

Kisah Rasul

20:7 Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara di situ, karena ia bermaksud untuk berangkat pada keesokan harinya. Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam.

Ayat 7. Pada hari pertama dalam minggu itu.

The first day. Hari yang pertama ini adalah hari minggu. Kita beribadah pada hari minggu, hari yang pertama, karena Yesus bangkit pada hari minggu. Semua yang utama adalah untuk Tuhan. Dalam Perjanjian Lama, anak-anak sulung, anak yang pertama, adalah milik Tuhan. Matius 6:33. Beri yang utama, yang the best, yang terbaik untuk Tuhan. Ketika Abraham diminta Tuhan untuk mempersembahkan korban, ia memberikan Ishak, anaknya. Yang terbaik. Tuhan tidak mau dinomorduakan.

Yang dibicarakan mereka adalah tentang perjamuan kudus dan Firman Allah. Selama hari ini, apa yang kita bicarakan? Pada hari pertama kita berkumpul. Mazmur 133. Hanya orang rukun yang bisa berkumpul tapi orang yang  berkumpul belum tentu dia bersatu.

Ayat 8. Di ruang atas, di mana kami berkumpul, dinyalakan banyak lampu.

Di ruang atas. Kehidupan orang kristen ada di atas. Loteng kehidupan orang kristen ada tiga: 1. Percaya, 2. Bertobat, 3. Penuh Roh Kudus.

Kehidupan orang kristen di tingkat ketiga. Kitabnyapun disebut Kitab Suci. Perjamuan Kudus. Pernikahan Kudus.

Lampu. Hidup orang kristen harus terang. Kita bukan hidup di dalam kegelapan. Apa hubungan orang kristen dengan terang? Apa hubungan orang kristen dengan orang dunia? Tidak bisa disatukan! Kita seperti ikan di laut. Laut asin tapi ikannya tidak. Seperti bunga teratai di kolam lumpur. Lumpurnya kotor tapi teratainya tetap putih bersih. Tidak hanya hidup kekristenan kita tinggi tapi kitapun ada di dalam terang.

Ayat 9. Seorang muda bernama Eutikhus duduk di jendela. Karena Paulus amat lama berbicara, orang muda itu tidak dapat menahan kantuknya. Akhirnya ia tertidur lelap dan jatuh dari tingkat ketiga ke bawah. Ketika ia diangkat orang, ia sudah mati.

Seorang muda. Masih muda rohaninya. Lihat Yohanes 21:18 ~ Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan ke mana saja kaukehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulurkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kaukehendaki."

Arti Eutikhus adalah beruntung. Nama beruntung tapi pengalaman merugikan. Nama hebat tapi tidak sesuai keadaan. Eutikhus beruntung tapi jatuh dari loteng. Hati-hati menyandang Nama Tuhan!

Sudah mati. Bisa mati harga dirinya, mati perusahaannya, mati semangatnya, mati cita-citanya.

Ayat 10. Tetapi Paulus turun ke bawah. Ia merebahkan diri ke atas orang muda itu, mendekapnya, dan berkata: "Jangan ribut, sebab ia masih hidup."

Paulus gambaran Tuhan Yesus yang turun ke bawah, ke dunia. Manusia seperti Eutikhus yang mati karena dosa. Tuhan Yesus mendekap semua umat manusia yang mati karena dosa, dan Ia berkata: jangan ribut, karena ia masih hidup.

Jangan ribut. Bahasa Inggris: Trouble not yourselves ... Jangan membuat susah diri sendiri. Banyak kali kita meributkan diri sendiri, membuat susah diri sendiri. Jangan kita putus asa, jangan kita takut.

Ayat 11. Setelah kembali di ruang atas, Paulus memecah-mecahkan roti lalu makan; habis makan masih lama lagi ia berbicara, sampai fajar menyingsing. Kemudian ia berangkat.

Paulus mengangkat lagi Eutikhus ke ruang atas. Yesus turun dari surga ke dalam dunia untuk mengangkat kita yang sudah jatuh ke dalam dosa, kembali dijadikan sempurna sama seperti Tuhan. Surga ada di tempat yang terang. Asal kita mengikuti semua perintah-Nya, surga menjadi milik kita.

Ayat 12. Sementara itu mereka mengantarkan orang muda itu hidup ke rumahnya, dan mereka semua merasa sangat terhibur.

Ke rumahnya. Banyak anak muda lupa rumah sendiri. Kita punya rumah sendiri. Tidak ada yang bisa menggantikan rumah kita. Dunia ini bukan rumah kita.

I Korintus

15:50 Saudara-saudara, inilah yang hendak kukatakan kepadamu, yaitu bahwa daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mendapat bagian dalam apa yang tidak binasa.

Walau kita pernah berbuat salah, Tuhan mau merangkul kita.

-- o -- 

Minggu, 29 Januari 2006

TAKUTLAH AKAN TUHAN

Mazmur 128:1 Nyanyian ziarah. Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya!

Mazmur ziarah: mazmur yang dinyanyikan sementara orang jalan ke Yerusalem, ke Bait Allah. Ada 15 nyanyian ziarah di dalam Mazmur dan salah satunya dalam Mazmur 128 ini, yaitu nyanyian ziarah yang berhubungan dengan kebahagiaan rumah tangga.

Ayat 1, berbahagialah. Dalam bahasa Ibrani, esher atau ashar, yang berarti diberkatilah. Setiap orang, bahasa aslinya adalah setiap laki-laki. Apa yang dimaksud takut akan Tuhan? Takut berbuat dosa, takut berdusta, takut berzinah, takut selingkuh, takut berjudi. Pokoknya, takut membuat Tuhan sakit hati atau marah. Itu arti takut akan Tuhan.

Mazmur 112:1 Haleluyah! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya.

Seringkali kita punya agama kristen tapi cara hidup kita mau-maunya kita. Punya alkitab tapi tidak kita ikuti. Kita ada di dunia tapi cara hidup kita mestilah tidak seperti orang dunia. Cara hidup kita harus seperti duta besar Kristus dari Kerajaan Surga. Kita ada di dalam dunia tapi tidak pakai aturan orang dunia; kita tidak hidup seperti orang dunia. Jangan mengikuti cara hidup orang dunia.

Mazmur
115:9
Hai Israel, percayalah kepada TUHAN! --Dialah pertolongan mereka dan perisai mereka.
115:10
Hai kaum Harun, percayalah kepada TUHAN! --Dialah pertolongan mereka dan perisai mereka.
115:11
Hai orang-orang yang takut akan TUHAN, percayalah kepada TUHAN! --Dialah pertolongan mereka dan perisai mereka.

Tuhan menjadi pertolongan dan perisai kita. Ternyata Tuhan bukan hanya untuk kaum Israel dan kaum Harun tapi juga untuk kita orang berdosa, orang yang tidak berlayak tapi dalam Yesus sudah dilayakkan. Tuhan yang sama mau menjadi perisai dan pertolongan kita.

Bila kita takut akan Tuhan, menjauhkan diri dari segala kejahatan, otomatis Dia pasti menjadi perisai kita, menjadi pertolongan kita. Nggak usah kita minta-minta. Seperti sejarah membuktikan: ketika orang Israel ditekan dalam persoalan, justru Tuhan menolong mereka.  

Mazmur

115:12 TUHAN telah mengingat kita; Ia akan memberkati ... kita, memberkati kaum Israel, memberkati kaum Harun, 115:13 memberkati orang-orang yang takut akan TUHAN, baik yang kecil maupun yang besar.

Bhs Inggris, Psa 115:12 The LORD hath been mindful of us: he will bless us; he will bless the house of Israel; he will bless the house of Aaron.

Mindful. Tuhan sudah betul-betul memperhatikan kita. Dia bukan cuma mengingat, memperhatikan kita tapi Tuhan sudah - dulu - dan Dia akan, pasti di hari depan memperhatikan kita juga.

Ada 1 kata yang hilang, yaitu kita, di dalam Ia akan memberkati. Harusn

ya: Ia akan memberkati kita. Pertama kali, Ia akan menjadi perisai dan pertolongan bagi kaum Israel, kaum Harun lalu bagi yang takut akan Tuhan. Sekarang dalam Mazmur 115:12 ini, pertama Ia memberkati kita, kemudian memberkati kaum Israel, terus kaum Harun lalu orang yang takut akan Tuhan.

Tuhan tahu keperluan kita. Dia memberkati orang yang takut akan Tuhan. Dia akan memberi yang kita perlu, bukan yang kita mau. Asal kita takut Tuhan. Nggak usah kita bilang: air keluarlah - bila kran air kita buka. Demikian juga nggak usah kita minta diberkati bila kita takut akan Tuhan sebab Tuhan secara otomatis pasti memberkati.   

Mazmur 115:14 Kiranya TUHAN memberi pertambahan kepada kamu, kepada kamu dan kepada anak-anakmu.

Inggris, increase more and more, pertambahan ... lagi dan lagi.

115:16 Langit itu langit kepunyaan TUHAN, dan bumi itu telah diberikan-Nya kepada anak-anak manusia.

Tuhanlah yang memberkati kita! Bukan orang yang terkaya atau presiden sekalipun.  Ada 2 macam berkat, yaitu berkat Tuhan yang khusus dan berkat umum seperti matahari, hujan dan air yang juga dinikmati oleh semua manusia. Tapi berkat khusus datang dari Surga.

Mazmur 115:17 Bukan orang-orang mati akan memuji-muji TUHAN, dan bukan semua orang yang turun ke tempat sunyi,

Orang yang hidup yang memuji Tuhan. Maka mari kita memuji Tuhan.

Mazmur

34:9 Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!
34:10 Takutlah akan TUHAN, hai orang-orang-Nya yang kudus, sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia!
34:11 Singa-singa muda merana kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan sesuatupun yang baik.

Orang kudus saja disuruh takut akan Tuhan, karena apa? Ada jaminan tidak akan kekurangan. Ada pertolongan dari Tuhan. Itu sebabnya, takutlah akan Tuhan maka kita akan mengalami berkat yang luar biasa.

-- o --

Minggu, 05 Februari 2006

BERKATA

Yehezkiel 37:1-10

Penglihatan Yehezkiel. Ia dimasukkan ke dalam satu lembah. Di lembah itu banyak tulang-tulang kering berserakan. Kadang-kadang Tuhan izinkan kita untuk masuk ke lembah yang kering, yang berbau busuk, yang tidak ada gunanya, yang sepertinya sudah tidak ada harapan. Mungkin itu adalah pengalaman-pengalaman kita, yang kita mau jangan sampai orang lain tahu, sesuatu yang berbau busuk, yang rahasia. Sebuah lembah ... adanya di tempat yang kotor, yang rendah. Kalau tidak ada kehidupan, tulang itu hanya ada di dalam lembah. Pengalaman kita yang berbau, rahasia yang tersembunyi, perbuatan kita yang lama - seperti tulang-tulang yang kering.

Tuhan bertanya pada Yehezkiel: Yehezkiel, apa tulang ini bisa hidup tidak? Kadang Tuhan bertanya, toko kita yang hampir bangkrut bisa hidup tidak. Kita sudah putus asa. Kira-kira saya bisa disembuhkan nggak? Bisa tertolong nggak? Bisa berubah nggak? Lalu Yehezkiel bilang: Hanya Tuhan yang tahu, saya tidak berani jawab. Kita melihat tulang yang kering itu terlalu banyak. Bahkan dengan iman kita sekalipun.

Lalu Tuhan berkata: Coba kamu bernubuat!

Bernubuat adalah mengatakan segala sesuatu yang belum terjadi. Artinya, berkata dengan iman akan segala sesuatu yang kita inginkan. 

Ibrani 13:8
13:8 Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.

Di hari depan, kita pasti ditolong Tuhan. Ingat satu kata: Berkata!

Katakan pada tulang-tulang itu: Bangkit!

Katakan pada usaha kita: Dalam Nama Yesus, bangkit!

Katakan pada segala sesuatu yang hampir mati: Bangkit!

Dan tulang-tulang itu mulai menempel satu dengan lainnya.

Tuhan tanya lagi: Bisa hidup nggak? Yehezkiel menjawab: Tuhan yang tahu!

Kata Tuhan: Katakan kepada 4 penjuru angin, berhembuslah ...

Kalau tidak ada Roh Kudus, kita hanya tengkorak. Kalau tidak ada angin Roh Kudus, apapun yang kita kerjakan akan sia-sia. Berhembuslah angin. Tiba-tiba urat datang. Ayat 10. Lalu mereka hidup kembali.

Roh Kudus ada di 4 penjuru angin. Di Cina, USA, Yerusalem, di manapun - Roh Kudus ada di sana. Di 4 penjuru angin, Roh Kudus ada. Sekarang kita ada karena perbuatan kita dulu. Mulailah hari ini berkata dengan iman, maka hari depan ada di genggaman kita. Asal kita yakin. Katakan, hutang sudah terbayar.

Ayat 7. Kalau ada Roh Tuhan, kita bisa bertemu satu sama yang lain. Karakter lain tapi semua bisa bertemu karena Roh Kudus. Kaya - miskin, pintar - bodoh tapi karena Roh Kudus, bisa bertemu satu sama lain. Kalau ada Roh Kudus, semua sakit hati bisa dilupakan, kita bisa bersatu. Kalau rakyat bersatu, negara maju. Demikian juga bila jemaat bersatu, gereja maju. Bila ribut, hanya tengkorak yang berserakan. Lihat itu tulang bisa hidup lagi tidak. Kalau hidup benar di hadapan Tuhan, berkat datang. Berkata. Bernubuat. Jangan ngomong yang negatif. Kita punya Tuhan yang besar, kita bisa berkata dengan iman.

Jangan nengok ke belakang. Tugas kita: Berkata! Tuhan yang menolong kita kemarin, Dia juga yang menolong kita besok. Perkataan kita seperti echo, dia balik lagi kepada kita. Jangan ngomong negatif, berkatalah yang positif.

Seperti seorang laskar yang berkata kepada Yesus. Matius
8:8 Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: "Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.

Mazmur 34:13-14

Jangan ngomong yang susah-susah, katakan yang positif. Pekerjaan kita, rumah tangga kita, hubungan suami - istri, orang tua - anak, kendaraan kita, usaha kita - DIBERKATI. Katakan itu!

Amsal 18:20-21.

Jangan bilang tidak. Dengan pertolongan Tuhan, saya bisa. 

-- o -- 

Minggu, 19 Februari 2006.

KESELAMATAN DALAM KELUARGA

Selamat sore, selamat berbakti di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Kita buka buku Yosua  

24:15 Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!"

Ayat ini, kata-kata ini, dikatakan oleh Yosua kepada bani Israel ketika bani Israel itu tidak mau bertobat. Tuhan punya, tepekong juga dia punya. Tuhan punya tetapi dia juga pelihara jimat. Maka ditulislah dengan a kecil, allah. Dalam bahasa Indonesia lama dipakai kata illah, berhala. Jadi umat Tuhan zaman itu juga seperti zaman sekarang - ke gereja mah ke gereja ... beribadah, tapi jimat dia punya. Ke gereja mah ke gereja tapi tepekong juga dia punya.

Disebut kristen, dia ada di tepekong. Disebut di tepekong, dia ada di gereja. Tetapi Yosua lalu mengatakan satu perkataan yang sangat terkenal. Tapi saya, katanya, dan seisi rumah tangga saya, kami hanya mau beribadah kepada Tuhan.

Sore hari ini saya ingin berbicara mengenai pentingnya keselamatan di dalam keluarga kita. Kita tidak mau nanti suami masuk surga, istri masuk neraka. Orang tua masuk surga, anak masuk neraka. Anak masuk surga, orang tua masuk neraka. Tapi kita ingin semua keselamatan di dalam rumah tangga kita itu, kita mengalami semua. Ayah, ibu, kakak beradik, sekeluarga, istri, menantu, mertua - semua di dalam Tuhan. Betapa bahagianya kita kalau kita sampai di surga, semua keluarga kita itu ada. Inilah yang membuat Yosua berkata demikian: Kalau kamu sudah dinasehatin, kamu keukeuh mau pegang berhala, mau pegang jimat, silakan. Tapi saya bersama dengan keluarga saya, saya hanya ingin beribadah kepada Tuhan.

Saudara-saudara, pertanyaannya sekarang, apakah keluarga saya, keluarga kami, keluarga kita sudah ada di dalam Tuhan semua? Enak kan, manis kelihatannya kalau ayah, ibu, anak itu duduk bersama di dalam gereja, ada di dalam keselamatan. Sekarang ini tantangannya macam-macam. Ada narkoba, ada free sex, ada free love, ada pornografi, yang mau menghancurkan keluarga. Itu sebabnya coba kita mohon kepada Tuhan supaya Tuhan saya ingin keluarga saya itu selamat. Ada haleluyah? Di dalam Kisah Para Rasul pasal 1:8,

1:8 Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."
 
Di dalam cerita ini, ayat ini, Tuhan berkata bahwa murid-murid-Nya, kita semua anak Tuhan, akan menjadi saksinya Tuhan. Baik di Yerusalem - Yerusalem ini rumah sendiri. Yerusalem ini keluarga sendiri, intern rumah kita sendiri. Maupun di Yudea - Yudea adalah tetangga. Samaria - sekitar kampung. Bahkan ke seluruh bumi. Kalau dalam salinan lain ada kata in both, di dalam keduanya.

Jadi baik kita bersaksi di dalam rumah tangga, maupun bersaksi di luar rumah tangga, sampai di seluruh bumi, itu bobotnya sama, beratnya sama. Tapi Tuhan utamakan rumah dulu. Kamu akan jadi saksi-Ku di dalam rumah tangga. Sudahkah keluarga kita menerima Tuhan Yesus? Sudahkah keluarga kita diselamatkan? Kalau sudah, betapa bahagianya. Kalau belum, mari kita berusaha membawa berita sukacita supaya keluarga kita ini mendapat keselamatan dari pada Tuhan. Supaya keluarga kita ini diselamatkan oleh Tuhan.

Betapa pentingnya keluarga ini karena Kitab Kejadian dimulai dengan satu keluarga: Adam dan Hawa. Kitab perjanjian lama diakhiri dengan keluarga: ayah kembali kepada anak, anak kembali kepada ayah. Perjanjian baru Matius dimulai dengan keluarga: Yusuf dan Maria; diakhiri juga dengan keluarga: Tuhan Yesus dengan mempelainya, yaitu dengan jemaatnya.

Saya tidak percaya Tuhan sempurnakan gereja sebelum Dia sempurnakan keluarga dulu. Gereja Tuhan akan disempurnakan setelah Dia menyempurnakan keluarga. Kan kita sama-sama banyak kekurangan, banyak kekeliruan, banyak kesalahan, kealpaan, kelalaian. Tuhan mau sempurnakan melalui keluarga, melalui visi rumah tangga ini. Dalam surat Efesus, Paulus berkata keluarga Allah. Itu sebabnya kita setiap tahun bikin Family Camp karena kita tahu Tuhan bekerja melalui keluarga.

Ada orang tua terima Tuhan Yesus karena anaknya bersaksi. Kalau anak dibawa sama papa mamanya di gereja itu sudah tidak aneh lagi. Tetapi betapa indahnya keluarga ini, keluarga demi keluarga. Coba kita lihat di dalam Kejadian 43, di sana kita melihat satu cerita yang indah sekali.  

43:1 Tetapi hebat sekali kelaparan di negeri itu.
43:2 Dan setelah gandum yang dibawa mereka dari Mesir habis dimakan, berkatalah ayah mereka: "Pergilah pula membeli sedikit bahan makanan untuk kita."
43:3 Lalu Yehuda menjawabnya: "Orang itu telah memperingatkan kami dengan sungguh-sungguh: Kamu tidak boleh melihat mukaku, jika adikmu itu tidak ada bersama-sama dengan kamu.
43:4 Jika engkau mau membiarkan adik kami pergi bersama-sama dengan kami, maka kami mau pergi ke sana dan membeli bahan makanan bagimu.
43:5 Tetapi jika engkau tidak mau membiarkan dia pergi, maka kami tidak akan pergi ke sana, sebab orang itu telah berkata kepada kami: Kamu tidak boleh melihat mukaku, jika adikmu itu tidak ada bersama-sama dengan kamu."
43:6 Lalu berkatalah Israel: "Mengapa kamu mendatangkan malapetaka kepadaku dengan memberitahukan kepada orang itu, bahwa masih ada adikmu seorang?"
43:7 Jawab mereka: "Orang itu telah menanyai kami dengan seksama tentang kami sendiri dan tentang sanak saudara kita: Masih hidupkah ayahmu? Adakah adikmu lagi? Dan kami telah memberitahukan semuanya kepadanya seperti yang sebenarnya. Bagaimana kami dapat menduga bahwa ia akan berkata: Bawalah ke mari adikmu itu."

Yang dimaksud orang ini di sini adalah Yusuf di Mesir. Saudara-saudaranya beli gandum dari dia, dia belum kasih tahu. Tapi waktu itu Yusuf bertanya di dalam ayat ke-7: Masih hidupkah ayahmu? Padahal ayah Yusuf juga. Sudah jadi raja, sudah jadi orang kedua di Mesir, masih memperhatikan papanya: Masih hidupkah ayah? Adakah adikmu lagi? Karena Yusuf tahu ada adiknya Benyamin. Jadi dia tanya. Lalu saudara-saudara Yusuf yang belum kenal Yusuf dia cerita keadaan adiknya, keadaan ayahnya. Jadi Yusuf bilang, boleh nanti kamu balik lagi beli asal adikmu dibawa. Kalau tidak dibawa adikmu jangan lihat lagi. Memang itu politiknya Yusuf.

Tapi perhatikan ini Yusuf. Begitu dia jadi orang terkenal, masih ingat keluarga. Berapa banyak anak-anak sekarang kalau sukses berhasil, dia menyia-nyiakan orang tuanya, mengolok orang tuanya, meninggalkan orang tuanya, membiarkan orang tuanya.

Lihat Yusuf. Sudah sukses, sudah jadi raja dari Mesir masih ingat papa, masih ingat adik - karena ibu sudah meninggal. Apa saudara masih ingat papa mama? Saya ini sering kali ingat. Papa mama sudah meninggal, tapi saya masih suka ingat, bahkan terbawa dalam mimpi. Saya masih ada adik. Saya masih telephone anak adik saya yang sekarang sedang belajar di London. Sendirian di sana sudah satu tahun. Ulang tahunnya saya bilang selamat ulang tahun. Karena itulah keluarga kami, dua saudara.

Bagaimana dengan saudara? Apakah kita kalau berhasil, sukses, papa mama kita biarkan? Kita tinggal di gedung yang besar lalu mama kita karena sudah tua ditaruh di rumah jompo? Apakah kita seperti Yusuf, sudah kaya, sudah diberkati Tuhan, tidak lupa ayah, tidak lupa ibu. Dalam contoh yang pertama ini betapa pentingnya keluarga bagi Yusuf. Betapa berharganya orang tua. Betapa berharganya adik.

Saya pernah cerita, rasanya. Dulu di Cianjur ini papa saya dititipin satu anak. Karena anak ini mau bunuh adiknya. Jemaat. Adik kandung, kakak adik. Karena si anak ini menganggap mamanya lebih sayang adiknya. Dia tinggal di gereja. Saya masih kecil, kelas 4 SD kalau tidak salah. Dia bawa-bawa pisau, terjadi, penusukannya terjadi di gang Bombay. Adik ditusuk sama kakak. Berbeda dengan Yusuf. Yusuf sudah jadi raja, dia masih tanya adiknya. Apakah adik masih ada? Papa masih hidup? Sehatkah dia?

Saudara-saudara, kalau kita berhasil itu tidak jauh dari doa dari ayah dan ibu. Amin? Ketika kita masih kecil, mereka sudah berdoa supaya kita menjadi anak yang berguna, supaya kita berhasil di hari depan. Betapa pentingnya keluarga. Betapa pentingnya rumah tangga.

Di Jakarta ada satu orang kaya, yang cukup kaya. Anaknya ada empat orang, tiga laki-laki satu wanita. Karena dia sudah cukup kaya, tidak usah lagi bekerja, maka dia bagikan perusahaannya, bahkan dia bagikan kekayaannya kepada keempat anaknya. Setelah kekayaan dibagikan kepada empat anak-anaknya, dia jadi berubah. Bapanya ditaruh di satu rumah. Tiap hari hanya dikasih nasi rantangan. Udah aja. Nggak pernah ditanya, nggak pernah di telepon. Jadi bapanya ini karena ibu sudah meninggal jadi kesepian. Karena kesepian suka sakit-sakitan.

Lalu teman papanya ini lihat, merasa kasihan. Kenapa kamu begini? Kenapa, sakit apa kamu? Dia bilang, saya kecewa sama anak saya. Uang sudah saya bagikan sama mereka, mereka tidak pernah nengok sama saya, telepon pun tidak. Cuma tiap hari mereka kirim nasi rantangan buat saya. Itu anak-anak saya pu hauw semua, tidak baik. Lalu teman-temannya bilang, kita rembug saja. Kita bikin sandiwara. Kamu setuju nggak? Dia cerita sandiwaranya. Ya setuju dah demi kebaikan.

Lalu ini temannya pergi ke Hongkong. Dari Hongkong, dia telepon sama anaknya: Halo, bapa ada nggak? Bapa di rumah sana, satu lagi. Coba tolong tanya sama papamu, ini uang papa yang bermilyar-milyar di Hongkong sini mau dicairkan nggak nih sudah tahunan? Kaget anaknya begitu lihat ayahnya masih punya uang. Semua anaknya ditelepon. Coba tanya sama papa, ini uangnya yang berapa milyar ini dibiarin aja di bank. Apa mau diambil apa nggak? Apa mau dicairin apa nggak?

Sejak tahu papanya masih ada uang - padahal bohong - anak-anak itu ramah-ramah, baik, ngajak jalan-jalan, jemput pakai Baby Benz, pakai Mercedes, makan di restoran, dipijitin. Papa sakit apa? Itu pah, kata teman papa yang di Hongkong, itu uang mau dicairkan apa nggak? Papanya kan tahu ini pura-pura, dia bilang: nggak usah. Nggak usah dicairkan. Jadi terus baik ini anaknya supaya dapat lagi ini warisan.

Kasih yang seperti itu nggak ada harganya. Kasih kepada orang tua karena ada uang. Kasih kepada orang tua dia lagi jaya. Tapi kalau kasih kepada orang tua dia lagi sakit-sakitan, dia sudah tua tapi kita tetap mengasihi dia. Seperti Yusuf. Sudah jadi perdana menteri masih tanya, papa sehat apa tidak? Wah, itu orang tua, dia lebih dari dapat lotere. Orang tua mah nggak mau dikasih duit banyak-banyak. Nggak. Dihormati, disayang saja sudah cukup.

Jadi rumah tangga ini sangat penting, keluarga ini sangat penting. Contoh yang kedua, kita mau lihat di dalam Injil Lukas 16:19,

16:19 "Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan.
16:20 Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu,
16:21 dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya.
16:22 Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.
16:23 Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya.
16:24 Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.
16:25 Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.
16:26 Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.
16:27 Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku,
16:28 sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini.

Kita semua setuju orang kaya ini mementingkan diri sendiri, tidak menolong Lazarus sampai waktu mati dia masuk neraka. Tapi kita belajar satu hal. Walaupun dia sudah di neraka, dia ingat papanya, dia ingat saudara-saudaranya ada lima, belum selamat. Tolong, katanya, kalau bisa Lazarus atau siapa saja hidup kembali, tolong ayah saya. Karena dia menderita sangat di neraka. Abraham bilang: Yang dari surga nggak bisa ke naraka, yang dari neraka nggak bisa nyeberang ke sini. Jangan saudara kira nanti kalau masuk neraka itu ya cuma sebulan sekali ke surga dulu. Satu hari di surga terus ke neraka lagi sebulan. Begitu. Nggak bisa. Ada satu jurang yang tak terseberangi. Orang kaya yang di neraka ini masih ingat papanya loh, masih ada saudara. Kepada saudara kami, supaya mereka jangan masuk, lima saudaraku.

Kita harus seperti orang kaya ini tapi jangan di neraka. Sementara di dunia kita musti ada kerinduan untuk menyelamatkan keluarga, untuk menyelamatkan teman. Untuk menyelamatkan 'ayah', anak-anak dan keluarga yang belum terima Tuhan. Kalau dia sudah di peti mati, kita mau nangis kaya nangis bombay, udah nggak ada gunanya. Dia sudah di peti mati. Tapi mumpung masih hidup, kita ajak dia terima Tuhan, kita ajak dia.

Sampai Yosua berkata, kalau kamu mau menyembah berhala, silakan. Kalau kamu mau menyembah dewa-dewa, silakan. Sama orang Israel loh. Tapi saya dan keluarga saya, saya jaga, saya mau menyelamatkan keluarga saya, saya mau beribadah hanya kepada Tuhan. Sementara saudara duduk di dalam rumah Allah ini, coba ingat, apakah ada kakak, adik, saudara, saudari, family, keluarga, yang belum di dalam Tuhan?

Di dalam Yesaya pasal 6, Tuhan bertanya sama Yesaya: Siapa yang akan Ku-utus? Siapa yang akan jadi utusan-Ku? Siapa yang akan memberitakan berita ini? Yesaya menjawab begini: aku adalah hamba-Mu, Tuhan. Utuslah aku. Kita suka ngomong begini: aku adalah hamba-Mu, Tuhan. Utuslah adik saya, utuslah kakak saya, utuslah ayah saya. Kita tidak mau jadi utusan. Apa menurut Yehezkiel? Kalau ada orang berdosa kamu tidak bicara lalu dia mati di dalam dosanya, darahnya akan aku tuntut dari padamu.

Jadi kita ini harus memberitakan kabar kesukaan, kabar kasih sayang dari Tuhan kepada keluarga kita. Kalau kita baca ayat 29.

16:29 Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu.
16:30 Jawab orang itu: Tidak, bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat.
16:31 Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati."

Telat. Bukan di sini. Kamu ingin menyelamatkan papa dan saudaramu, bagus. Tapi kamu sudah di neraka. Telat, keliru, terlambat. Nasi sudah jadi bubur, nggak bisa lagi. Kalau kamu masih hidup, bisa tolong ayahmu, saudaramu. Sedang pengemis saja, Lazarus, kamu biarkan. Dibiarkan anjing-anjingmu menjilat boroknya. Kamu biarkan dia. Kamu hidup senang sendiri. Sekarang kamu di neraka baru ingat papa, baru ingat saudara. Ternyata orang ini, pendek umurnya. Papanya masih hidup, saudara-saudaranya masih hidup, dia sudah mati duluan.

Jadi belum tentu kekayaan itu bisa bikin panjang umur. Belum tentu. Orang ini cukup kaya tapi dia mati duluan. Itu sebabnya ingatlah ayah, ingat keluarga, ingat papa mama, ingat koko, ingat paman, ingat bibi, ingat tante, ingat oom, semua. Sekarang ini saya baru sadar, saudara-saudara, bahwa saya tidak bisa mengurus semua persoalan. Sekolah Tinggi Teologi saya serahkan kepada satu orang, Bapak Pendeta Dr. Yan Lumempow. SAC juga saya pikir-pikir saya mau serahkan satu orang yang mengelola. Karena saya di MD saja, aduh, keteter. Saya duduk di Majelis Pusat juga, belum jemaat, belum penginjilan, belum di Jakarta, belum yang di Krawang. Keteter, nggak bisa.

Jadi yang paling baik keluarga demi keluarga. Saudara jadi penginjil, saudara membawa berita kepada papa, kepada mama, kepada orang tua, kepada adik. Supaya kita sama-sama di sana, di surga. Saudara mau?

Contoh yang ketiga, kita lihat dalam Kisah Rasul 16, di sana pernah terjadi gempa bumi di penjara yang Rasul Paulus sedang dipenjara. Ayat 25,

16:25 Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka.
16:26 Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua.
16:27 Ketika kepala penjara itu terjaga dari tidurnya dan melihat pintu-pintu penjara terbuka, ia menghunus pedangnya hendak membunuh diri, karena ia menyangka, bahwa orang-orang hukuman itu telah melarikan diri.
16:28 Tetapi Paulus berseru dengan suara nyaring, katanya: "Jangan celakakan dirimu, sebab kami semuanya masih ada di sini!"
16:29 Kepala penjara itu menyuruh membawa suluh, lalu berlari masuk dan dengan gemetar tersungkurlah ia di depan Paulus dan Silas.
16:30 Ia mengantar mereka ke luar, sambil berkata: "Tuan-tuan, apakah yang harus aku perbuat, supaya aku selamat?"
16:31 Jawab mereka: "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu."

Kalau sekarang saudara sudah selamat, percaya kepada Yesus, ingat, janji dari Firman Allah, bukan hanya kita yang selamat tetapi seisi rumahmu. Tapi bagaimana supaya seisi rumah ini selamat kalau kita tidak membawa berita? Contoh yang lain, Nabi Nuh. Dia bikin bahtera. Semua orang nggak percaya, semua orang menolak, semua orang menghina dia. Tapi dia, istri, tiga anak, tiga mantu, dia jaga baik-baik sampai mereka percaya bahwa banjir akan datang. Selamat mereka. Betapa pentingnya keluarga. Betapa pentingnya rumah tangga.

Percayalah kepada Tuhan Yesus, kamu dan seisi rumahmu akan selamat. Saudara mau percaya kepada Tuhan Yesus? Ingatlah bahwa kita dan seisi rumah tangga kita akan selamat. Coba renungkan kakak saudara yang belum selamat. Coba renungkan adik saudara yang belum selamat. Pegang ayat firman Allah ini. Tuhan, saya yakin, janji-Mu ya dan amin. Pasti keluarga saya akan diselamatkan. Tapi ada syaratnya. Kita harus memberitakan kabar kesukaan. Kita harus membawa berita kepada keluarga, membawa berita kepada keluarga kita. Mengajak.

Seperti tadi Kisah Rasul 1:8, baik di Yerusalem - rumah sendiri -, Yudea - tetangga -, Samaria - kampung -, sampai ke ujung bumi - ke seluruh dunia. Di mana saudara berada jadilah terompet bagi Tuhan. Jadilah berita yang baik. Bawalah kabar yang baik bagi nama Tuhan. Ajaklah mereka.

Saya sudah ratusan kali Jakarta-Cianjur, Jakarta-Cianjur. Kalau sudah mobil macet, lihat itu orang begitu banyak, selalu ada doa. Tuhan, entah siapa yang Engkau utus, kapan mereka, tapi selamatkanlah orang-orang ini. Karena mereka kan begitu lahir sudah bukan kristen kan? Mereka tidak ada pilihan. Tidak ada pilihan. Engkong saya, yang bawa tepekong macan dari Tiongkok sekarang tepekong macannya masih ada di Sukabumi. Tapi engkong saya sudah selamat, sudah terima Yesus. Dulu ada pemain liong, sekarang sudah jadi tua-tua jemaat di satu gereja di Sukabumi. Umur 79 tahun masih setir mobil, sehat, keluarga saya dari mama punya kakak perempuan. Satu masuk katolik. Tapi tepekongnya masih di kelenteng Sukabumi. Betapa jadi beban kalau kita melihat, orang-orang yang seharusnya selamat.

Mungkin di sini ada salah satu keluarga dari keluarga di Cibeber dulu. Di Cibeber dulu itu hampir tiga puluh orang itu anggota gereja kita. Tapi belum ada satupun yang dibaptis. Karena engkong, katanya, masih hidup. Engkongnya umur 90 tahun lebih, masih hidup. Itu engkong kalau datang kebaktian suka dengar firman Tuhan. Jadi tidak ada yang berani baptis, takut dimarahin engkong. Kalau dibaptis, nanti engkong marah. Karena engkong itu punya meja sembahyang.

Tapi heran, Tuhan selamatkan engkong. Dia percaya, dia minta dibaptis lebih dahulu. Haleluyah, saudara? Dia minta itu meja sembahyang dibuang di laut dan dia dibaptis. Ketika dia dibaptis, antri anak, cucu, semua pada dibaptis. Kalau Tuhan bekerja tidak ada yang bisa halang-halangi. Mungkin kita sudah putus asa. Bagaimana adik saya? Bagaimana kakak saya? Bagaimana ayah saya? Kok belum bisa selamat? Tuhan punya banyak macam jalan. Asal kita mau bersaksi. Asal kita mau berbicara, menolong kepada mereka. Memberitakan kabar kesukaan.

Saya mau tutup dengan satu ilustrasi. Ilustrasi ini sangat menyentuh hati saya. Di Amerika ada satu pemuda. Pemuda, dia punya pacar, saling mengasihi. Tapi pemuda itu terpanggil hatinya untuk menjadi misionari di Afrika. Dia yakin dia dapat suara dari Tuhan dia harus jadi misionari di Afrika. Dia ngomong sama pacarnya, saya mau jadi misionari. Pacarnya bilang, kalau kamu jadi misionari, saya tidak mau jadi istri kamu.

Masih ada tenggang waktu satu bulan sebelum berangkat, sudah diancam sama pacarnya. Kalau kamu jadi pendeta, jadi misionari pergi ke Afrika, putus, aku tidak mau ikut sama kamu. Kecewa ini pemuda, karena dia cinta sekali ini gadis. Tapi dia lebih cinta sama Tuhan. Dia ingin jadi misionari. Cerita yang panjang saya mau bikin pendek. Gadis ini tiba-tiba bertobat dalam satu kebaktian. Ketika dia bertobat, karena tinggal di tempat yang berlainan, dia tulis surat. Dia tulis surat, dia tulis surat, dia tulis surat kilat, dia mau pos kan itu. Dia mau bersaksi bahwa dia sudah terima Tuhan Yesus bahwa dia siap menjadi istri pendeta, dia mau jadi istri misionari, dia ingin, dengan suka hati ingin menjadi hamba Tuhan juga. Jadi dia mau pos kan itu surat, hujan turun besar. Karena hujan turun, dia nggak jadi pos kan, dia titipkan sama adiknya.

Tolong surat ini sampaikan sama pacar saya. Adiknya lelaki. Adiknya berangkat pergi. Seminggu tidak ada balasan. Dua minggu tidak ada balasan. Tiga minggu tidak ada balasan. Satu bulan tidak ada balasan. Sampai si pacarnya itu sudah berangkat ke Afrika. Dia kecewa kenapa suratnya nggak di balas? Bahwa dia sudah mau menjadi hamba Tuhan, dia sudah terima Tuhan. Ketika dia hubungi adiknya, dia kaget. Adiknya lupa mengirimkan itu surat. Surat itu masih ada di kantong jasnya. Berita sukacita itu tidak sampai kepada pacarnya.

Saudara-saudara, pacarnya itu adalah lambang saudara-saudara, keluarga kita yang belum terima Tuhan. Kita sudah terima Yesus. Kita mendapatkan berita. Banyak keluarga kita tidak tahu ada berita yang baik, yang seharusnya sampai kepada mereka tapi ketinggalan di kantong kita. Ketinggalan di alkitab-alkitab kita. Kita tidak pernah beritakan sama mereka. Kita tidak pernah ngomong sama mereka. Seminggu, sampai sebulan, sampai setahun, mereka tidak tahu - bahwa Tuhan Yesus sudah menyelamatkan saudara.

Pada petang hari ini, sudahkah saudara bersaksi untuk Tuhan? Sudahkah saudara menjadi utusan bagi Tuhan? Saudara nggak usah masuk sekolah alkitab, kalau bukan panggilan. Tapi saudara bisa menjadi utusan Tuhan. Saudara bisa bersaksi bagi Kristus. Berkatalah seperti Yesaya: aku adalah hamba-Mu, Tuhan. Utuslah aku! Utuslah saya. Masih ada keluarga saya, Tuhan, yang kerasnya luar biasa, tidak mau. Tapi saya mau doakan, saya mau tolong. Minta Tuhan tolong selamatkan suami saya. Selamatkan istri saya. Selamatkan keluarga saya.

Saudaraku, setiap tetes air mata saudara berdoa kepada Tuhan adalah berlian yang Tuhan akan jadikan ketika dia menjadi jiwa-jiwa. Saya tidak panjangkan firman Tuhan. Tapi mari kita berdiri bersama-sama, kita datang kepada Tuhan.

-- o --

Minggu, 26 Februari 2006

KEJERNIHAN HATI

Selamat sore, selamat berbakti lagi di dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Kita buka Alkitab kita dalam Pengkhotbah

3:1 Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.
3:2 Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam;
3:3 ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan; ada waktu untuk merombak, ada waktu untuk membangun;
3:4 ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari;
3:5 ada waktu untuk membuang batu, ada waktu untuk mengumpulkan batu; ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk;
3:6 ada waktu untuk mencari, ada waktu untuk membiarkan rugi; ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk membuang;
3:7 ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit; ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara;
3:8 ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai.
3:9 Apakah untung pekerja dari yang dikerjakannya dengan berjerih payah?
3:10 Aku telah melihat pekerjaan yang diberikan Allah kepada anak-anak manusia untuk melelahkan dirinya.
3:11 Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.

Ini adalah irama kehidupan. Irama kehidupan ini, saudara-saudara, bukan hanya untuk orang kristen tetapi untuk semua orang sama. Ada waktu kerja ada waktu untuk istirahat, ada waktu kita muda ada waktu kita menjadi tua, ada waktu kita berdiam diri ada waktu kita bicara, ada waktu kita untuk sakit ada waktu kita sembuh. Ada waktu kita menanam ada waktu kita menuai, ada waktu kita merombak ada waktu kita membangun, ada waktu kita makan ada waktu kita bekerja. Semua ada waktunya. Jadi apa bedanya kita sama orang dunia? Ini adalah irama kehidupan, semua tidak ada beda. 

Dan saya ingin kasih tahu kepada saudara, kalau hidup kita sama seperti ayat ini, kita nggak ada bedanya sama orang dunia. Sama. Orang dunia juga tahu ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk menuai. Kita ini harus sudah luput, harus sudah lebih tinggi dari pada jahat dan baik. Kita musti sudah lewati. Benar atau salah, itu sudah bukan urusan kita lagi. Jauh-dekat, maju-mundur, naik-turun, laki-laki-perempuan, gelap-terang, manis-pahit, senang dan susah. Kita sudah musti lebih tinggi dari itu. Kalau kita begini-begini saja terus, tiap bulan kita perjamuan kudus, kebaktian, bekerja, ada doa, ada amin - itu nggak habis-habisnya. Itu irama kehidupan, semua juga tahu. Ada yang jahat, ada yang baik. Kita belajar dari yang jahat supaya kita tidak jahat. Kita belajar dari yang baik supaya kita jadi baik. Tapi kita sudah musti lebih tinggi dari itu. Rajin-malas.

Maka saya bingung ada jemaat yang berani ngritik gereja bahwa gereja GPdI kurang perhatian. Dia sendiri hidup bagaimana? Kalau dia hidupnya bener, hidupnya memang patut ditolong, ya kita perhatikan. Kalau hidupnya brengsek? Kok berani-beraninya ngritik gereja kurang perhatian. Nah ini, jadi mereka hanya hidup di lingkungan bawah saja: salah-benar, kurang diperhatikan-penuh perhatian, jauh-dekat, laki-laki-perempuan, plus-minus, kurang-tambah, makan kenyang-lapar, hujan-kemarau. Begitu-begitu saja tidak ada gunanya. Sampai kita mati kan begitu terus. Manis-pahit, jauh-dekat, besar-kecil, tua-muda ... terus begitu. Itu irama kehidupan. Kita musti mencapai sesuatu yang saya katakan "kejernihan" atau "kebeningan" ini. Tidak tertulis di dalam Alkitab tapi tersirat. Tersirat itu ada pesannya. Tapi tidak ditulis kata-kata kejernihan kebeningan.

Di dalam Mazmur 90, di sana kita melihat ada ayat yang dikatakan oleh nabi Musa.

90:10 Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, dan kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan; sebab berlalunya buru-buru, dan kami melayang lenyap.
90:11 Siapakah yang mengenal kekuatan murka-Mu dan takut kepada gemas-Mu?
90:12 Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.

Jadi umur manusia itu 70, 80 tahun. Lewat dari itu banyak susah. Panjang umur bisa tapi banyak kesukaran - itu kata firman Allah. Apa gunanya? Jauh-dekat, gampang-susah, maju-mundur, lemah-kuat - apa gunanya? Timur-barat-utara-selatan. Nah, kita harus sampai kepada kelas bijaksana. Di dalam bahasa Inggris, wisdom. Penerangan, penjernihan. Suatu yang diterangkan. Sama seperti Paulus dulu nggak kenal Yesus, dia bunuhin orang kristen tetapi dia ketemu terang. Sehingga dia ikut Yesus bukan lagi jahat dan benar, baik dan salah - tidak; dia hidup lebih tinggi dari itu sampai dalam II Korintus 12, dia naik ke langit yang ketiga, ke tingkat yang ketiga. Langit itu ada tiga, 3 tingkat. Sekarang, di atas, lalu ada lagi, lalu langit yang ketiga. Halaman, ruang suci, ruang mahasuci.

Ketika Paulus naik ke langit yang ketiga, dia mendengar satu bahasa yang mulutnya merasa kotor, merasa belum waktunya, merasa nggak cocok untuk mengatakannya saking sucinya itu bahasa. Bahasa apa itu, kan tidak dikasih tahu di dalam Alkitab. Yang didengar Paulus itu bahasa apa. Tetapi sekarang dia melihat penerangan, melihat kejernihan siapa dia - orang berdosa yang ditebus, siapa Tuhan yang Mahakuasa yang Mahakudus. Kita musti bisa sampai mencapai hal itu. Mencapai penjernihan. Kita tidak dipengaruhi orang jahat sama kita, kita tidak terpengaruh. Orang diberkati, kita tidak akan ngiri. Orang berdosa, kita tidak akan mengutuk; orang jatuh dalam dosa, kita tidak akan jadi orang Parisi. Biar urusan dia sama Tuhan. Tapi kita jaga diri kita jernih. Melihat kepada sesuatu dengan kejernihan hati.

Ada orang yang hidup masih di masa lalu. Dia dendam sama orang. Baik buruk kan? Ada orang yang suka muji-muji orang. Aduh, dia itu baik. Baik-buruk. Dia tidak hidup ke tingkat yang lebih tinggi. Nah, pada satu hari saya ketemu dengan orang yang pernah terjun payung. Saya bilang, apa yang kamu alami ketika kamu terjung payung dari ketinggian sekian ribu meter? Dia bilang, itu ketenangan; dia nggak dengar suara. Segalanya jernih, katanya. Tiupan angin dia bisa dengar. Ketika dia lihat ke bawah, dia lihat itu mobil jalan di jalan tapi dia tidak tahu yang mana truk, yang mana sedan, yang mana Toyota, yang mana Mercides, yang mana Kijang, yang mana Kuda, yang mana Nissan, yang mana Suzuki. Dia lihat sepeda motor, tahu sepeda motor tapi dia tidak tahu yang mana Honda, yang mana Suzuki.

Kitapun kalau kita hidup di atas segala sesuatu yang kita baca tadi, di atas sesuatu yang penuh keheningan - hanya bersama dengan Kristus, kita tidak akan nilai orang lain. Kita tidak akan menilai orang baik buruk. Kita tahu itu orang, kita tahu dia berjalan, kita tidak menilai lagi orang itu kaya atau miskin, tidak. Karena orang lagi lihat mobil di bawah, dia tidak tahu itu mobil berapa milyar harganya, itu mobil gerobak atau bukan, dia tidak tahu. Dia cuma tahu itu mobil. Karena dia ada pada ketinggian yang tertentu.

Demikian juga kita. Kalau anak-anak Tuhan hidup di dalam ketinggian yang tertentu, bukankah dalam Kolose 3 pasal 1 dan 2, rasul Paulus berkata: tetapkanlah pikiranmu pada tempat yang di atas, di tempat Tuhan ada. Kalau kita sampai kepada beningnya di sana, orang jatuh bangun nggak akan mempengaruhi iman kita, orang berhasil orang kaya sukses, kita tidak akan iri. Lihat kita orang susah, kita tidak akan sombong. Kita ada pada kebeningan pada kejernihan. Bolehlah saya katakan kalau ketinggian itu sama dengan kedalaman. Orang kalau masuk di dalam air, dia tidak dengar apa-apa.

Maka tidak heran pada waktu Yesus berdiri di atas perahu ketika perahu mau tenggelam lalu murid-murid-Nya berkata: Tidakkah Engkau peduli kami binasa? Nah, itu masih biasa kan. Binasa-hidup. Tidakkah Kamu peduli? Memperhatikan-tidak. Hanya hidup di bawah saja. Tuhan Yesus berdiri: Hei angin dan ombak, teduhlah engkau. Sstt ... tenang teduh dengan sebetul-betul tenang. Dia begitu tenang, begitu teduh. Jadi tempat yang tinggi adalah tempat yang tenang. Kenapa orang Jakarta mau bermacet ria tiap hari minggu ke Puncak? Sudah tahu macet tapi masih ke sana. Dia mau cari ketenangan. Karena sibuk di Jakarta, bingung dengar suara satu minggu, cape jenuh. Dia cari ketenangan. Kalau kita kan cari ketenangannya di kaki Tuhan, kita cari ketenangannya waktu berdoa. Pada waktu kita berdoa ini, kita musti mencapai satu tingkatan di mana kita ada di tingkat yang tinggi, sampai kita bisa saudaraku, tidak mendengar apa-apa, tidak melihat apa-apa dan tidak berbicara apa-apa. Kita tidak mendengar yang jelek, kita tidak melihat yang jelek dan kita tidak berbicara yang jelek. Karena kita ada di tempat yang tinggi.  

Mari kita renungkan kita yang terjun payung. Saudara ngomong sama siapa? Mau ngomong sama siapa kalau lagi  terjun payung? Sudah ada di antara udara dan darat. Kadang-kadang kita ngomong diri sendiri, mungkin denyut jantung kita, kita bisa dengar. Itu sebabnya Tuhan berkata kepada ketujuh jemaat di dalam kitab Wahyu: Barang siapa yang bertelinga, hendaklah ia mendengar. Kenapa kita tidak dengar? Karena kita tidak tenang, karena kita tidak di tempat yang tinggi. Kita tidak dengar suara Tuhan. Yang kita dengar suara yang biasa tadi: peduli-tidak peduli, binasa-tidak binasa, langit dan bumi, makan dan lapar, susah dan senang, kerja dan istirahat, sakit dan sembuh. Itu saja. Di dalam kitab Wahyu

8:1 Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang ketujuh, maka sunyi senyaplah di sorga, kira-kira setengah jam lamanya.

Dalam Lukas 15 ada ayat, 1 jiwa bertobat, seisi surga bersukaria. Di surga tak pernah ada satu kesepian, selalu ada sukacita bersukaria karena setiap hari selalu saja ada jiwa baru yang terima Tuhan. Bersukacita. Tetapi dikatakan di sini, ada satu kali nanti di mana setengah jam di surga sunyi senyap. Tidak ada suara. Menurut pelajaran, ini terjadi pada waktu Kristus Yesus kawin menikah dengan gereja. Tidak lagi ada keributan tetapi ketenangan.

Mari saya mau gambarkan Tabernakel kepada saudara-saudara sekalian. Anggaplah mimbar ini adalah Tabut Perjanjian yang ada di Ruang Mahasuci. Dan 4 tiang ini ditutupi oleh tirai. Dan meja perjamuan itu adalah mezbah dupa. Lalu di tiang ini ada kaki dian dari emas. Di tiang itu mezbah meja roti pertunjukkan. Lalu ada 5 tiang di belakang, lalu di halaman sana ada kolam basuhan. Di halaman lagi sebelah sana ada mezbah korban. Paling jauh di sana jalan masuk orang masuk dari sana, mezbah korban. Di mezbah korban itu ributnya luar biasa karena korban-korban disembelih dia menjerit, mengembik kalau domba dan kedengaran api membakar isi perut itu berdetak, tulang semua ribut. Dan ada kolam basuhan, orang ribut dengan mencuci tangan.

Ketika masuk ruang suci ada kaki dian dari emas, sudah tidak ada suara. Meja roti pertunjukkan tidak ada suara. Begitu sampai kepada mezbah dupa, tidak ada suara. Yang ada dupa, wangi-wangian yang bisa menembus dinding tirai dari Bait Allah Ruang Mahasuci ini, sampai kepada Tabut Perjanjian.    

Lebih dekat kepada Tabut Perjanjian lebih sunyi, lebih tenang, tidak ada keributan. Di luar sana ribut. Di halaman sana ribut. Kenapa Tuhan Yesus marah, itu Dia tendang orang-orang yang berjualan? Karena dia berjualan di halaman ributnya luar biasa. Dikira pekerjaan Tuhan itu pekerjaan bisnis, harus tukar uang. Semua Dia tendang, Dia terbalikkan meja. Tapi tambah dekat kita dengan Tabut. Tabut itu lambang Tuhan. Tabutnya ini gereja. Tutupan grafiratnya pertemuan Kristus dengan jemaat. Tambah kita dekat pada saat itu, tambah kita diam, tambah kita sunyi senyap, tambah kita nggak ada suara. Mezbah meja roti, cuma roti aja ditaruh - nggak ada suara. Kaki dian, cuma api saja menyala - tidak ada suara. Mezbah dupa, dupanya saja yang harum ke dalam ruang suci - tidak ada suara.

Maka kalau saudara mau dengar suara Tuhan, kita musti tenang. Hidup kita tambah dekat sama Tuhan, kita harus lebih tambah tenang, tambah tenteram, tambah diam. Tidak ribut. Diam. Mari kita buka Keluaran 

14:14 TUHAN akan berperang untuk kamu, dan kamu akan diam saja."
    
Coba saudara bandingkan, perang yang ribut - pedang ketemu dengan pedang. Ramai. Orang berteriak, orang menjerit terbunuh. Wah, ribut sekali - dengan kamu berdiam. Boleh saya pakai ini, keributan itu Tuhan biarin  urusan Tuhan. Kita diam, kita tenang, kita teduh. Tidak lagi ada urusan baik-jahat, rajin-malas, maju-mundur. Kita tidak terpengaruh itu lagi. Lelaki-perempuan, naik-turun, berat-ringan. Itu irama kehidupan. Semua juga tahu. Musim hujan-musim kemarau, jauh-dekat, kiri-kanan, benci-mengasihi, marah-memaafkan, mengampuni-dendam. Sama. Semua orang gitu. Ada waktu untuk membongkar-ada waktu untuk membangun, ada waktu untuk menyebar-ada waktu untuk menuai. Sama. Orang dunia juga begitu, sama.

Tapi kita sebagai umat Tuhan, kita mesti lebih tinggi dari hal itu. Ada haleluyah? Untuk mengingat ini perjamuan Kudus, kita mau membuka Kisah Rasul

8:26 Kemudian berkatalah seorang malaikat Tuhan kepada Filipus, katanya: "Bangunlah dan berangkatlah ke sebelah selatan, menurut jalan yang turun dari Yerusalem ke Gaza." Jalan itu jalan yang sunyi.
8:27 Lalu berangkatlah Filipus. Adalah seorang Etiopia, seorang sida-sida, pembesar dan kepala perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia, yang pergi ke Yerusalem untuk beribadah.
8:28 Sekarang orang itu sedang dalam perjalanan pulang dan duduk dalam keretanya sambil membaca kitab nabi Yesaya.
8:29 Lalu kata Roh kepada Filipus: "Pergilah ke situ dan dekatilah kereta itu!"
8:30 Filipus segera ke situ dan mendengar sida-sida itu sedang membaca kitab nabi Yesaya. Kata Filipus: "Mengertikah tuan apa yang tuan baca itu?"
8:31 Jawabnya: "Bagaimanakah aku dapat mengerti, kalau tidak ada yang membimbing aku?" Lalu ia meminta Filipus naik dan duduk di sampingnya.
8:32 Nas yang dibacanya itu berbunyi seperti berikut: Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian; dan seperti anak domba yang kelu di depan orang yang menggunting bulunya, demikianlah Ia tidak membuka mulut-Nya.
8:33 Dalam kehinaan-Nya berlangsunglah hukuman-Nya; siapakah yang akan menceriterakan asal-usul-Nya? Sebab nyawa-Nya diambil dari bumi.
8:34 Maka kata sida-sida itu kepada Filipus: "Aku bertanya kepadamu, tentang siapakah nabi berkata demikian? Tentang dirinya sendiri atau tentang orang lain?"
8:35 Maka mulailah Filipus berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil Yesus kepadanya. 

Filipus disuruh pergi ke jalan yang sunyi. Bukan yang ramai. Tempat sunyi di situ Tuhan mau bikin mujizat. Ada sida-sida, menteri keuangan, lagi baca kitab nabi Yesaya. Tapi dia tidak mengerti ayat yang dibaca itu seperti domba yang kelu. Kelu itu nggak bisa ngomong, bisu. Nggak bisa mengembik, nggak bisa. Kelu. Saya baru dengar ada domba kelu, bisu. Nggak bunyi, diam saja. Di pembantaian dipukulin mau dibunuh dipotong, diam. Nggak buka mulut, diam.

Tuh, kita musti sampai kepada tingkat rohani yang seperti itu. Kejernihan, penerangan, Tuhan memberi kepada kita. Bukan berarti kita tidak bersaksi, tidak. Tetapi ketika menghadapi problem, ketika menghadapi percobaan, kita diam, kita tenang. Biar Tuhan yang berperang ganti kita, kita berdiam diri saja. Tuhan yang berperang, Tuhan yang urus urusan kita. Dia yang mengelola, yang mengambil alih persoalan kita.

Itu sebabnya setiap kali kita makan perjamuan kudus, musti kita ingat itu. Tuhan itu ngalahnya luar biasa. Ditempeleng, ditarik janggut-Nya keluar darah, dipukul dari belakang kepala-Nya, Dia diam.  Dihina, diolok, Dia diam. Sampai Pilatus bilang: Apa kamu nggak mau buka mulut? Dia nggak keluar sepatah kata. Dia diam. Kita baru susah saja soal ekonomi sedikit, sudah ngomel. Kita masih di bawah ... susah-senang. Kurang-tambah.

Minta bantuan untuk tolong orang sakit. Sudah dikasih bantuan - kita nolong orang sakit - duitnya dipakai lain. Bagaimana kita mau maju? Bagaimana Tuhan mau berkehendak kepada kita? Bagaimana Tuhan mau tolong kalau kita sendiri nggak jujur terhadap diri sendiri? Kita musti sampai kepada penjernihan. Bening. Tenang, tidak ada apa-apa. Ketika jernih, bening, sampai Tuhan Yesus bilang mengenai Natanael: Ketika kamu duduk di bawah pohon ara, Aku sudah melihat kamu.

Kenapa Tuhan lihat Nathanael, kan banyak orang? Sebab Dia bilang, Nathanael ini seorang yang tidak ada tipu daya di dalam hatinya, seorang yang tulus, bening, jernih. Hatinya itu bening, jernih. Segala sesuatu juga, saudara, biarkanlah katanya airnya itu bening dulu, jernih dulu, nanti batunya kelihatan. Kenapa kita tidak bisa mengurus segala persoalan, banyak problem? Karena kita terlalu emosional, terlalu ingin cepat ini, ingin cepat itu. Kita seperti Petrus. Kita seperti Marta. Kita tidak seperti Maria yang duduk tenang, bening di kaki Tuhan. Diam. Orang menuduh macam-macam, dia diam. Diam. Saudaranya marah-marah sama Yesus, dia diam. Kita nggak dengar suaranya dia protes sama saudaranya, dia diam.

Sebagai ayat terakhir, kita mau buka Matius 13, kita akan baca satu ayat disana mengenai perumpamaan tentang benih. 

13:20 Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira.
13:21 Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad.
 
Kata Murtad dalam bahasa Yunani dipakai kata skandaliso, yang artinya tersandung. Kenapa kita sering tersandung? Urusan nggak ada yang aniaya, nggak ada penganiayaan, nggak ada penindasan. Hanya susah sedikit. Hanya urusan kecil, kita sudah tersandung, kita ngomel. Karena kita punya hidup tidak di atas. Kita hidup di bawah. Saya baru kembali dari Denpasar. Saya lihat di pesawat, kecepatan pesawat itu delapan ratus lima puluh km per jam. Tapi kaya nggak jalan. Tenang saja di atas. Coba di darat. Seratus km saja cepatnya udah luar biasa. Tapi karena di udara, lari delapan ratus lima puluh km seperti nggak jalan. Diam saja.

Demikianlah dengan orang-orang yang rohaninya tinggi. Kemajuannya cepat sekali. Tapi dia tenang. Kelihatannya nggak jalan tapi majunya luar biasa. Kenapa katanya tidak tumbuh? Karena nggak dalam, nggak berakar, nggak dalam. Sehingga ada kesulitan sedikit saja tersandung. Bahasa Inggris, kecewa. Begitu ada kesulitan sedikit, kecewa ikut Tuhan, kecewa ke gereja, kecewa sama pendeta, kecewa sama gembala kecil, kecewa sama sesama, kecewa karena ini. Ya, kalau kita hidup di bawah, lihat kiri-lihat kanan terus, ... ya kecewa. Karena kita hidup di bawah. Saudara lihat kiri, baik. Lihat kanan, buruk. Baik-buruk, jauh-dekat, senang-susah, kalau gini terus apa? Triping, narkoba.

Pandang t'rus pada-Nya .. Jangan menoleh jalan t'rus .. Jangan pandang salah orang lain .. Pandang saja Yesus. Saudara lihat kuda-kuda di Cianjur. Nggak ada kuda di Cianjur yang nggak pakai tutup mata. Saudara boleh lihat.  Saya tanya sama kusir, kenapa musti pakai tutup mata? Abis kalau lewat itu, katanya, di Ampera itu banyak benhur-benhur lagi parkirkan dia punya keretanya, ada kuda betina juga. Kadang-kadang manggil itu kuda betinanya, kalau dia nggak pakai ini, dia lihat. Berhenti dia. Boro-boro bawa dokar. Maka si kusir pinter, dia pakai ini tutup mata supaya kudanya lihat ke depan.

Kita semua manusia tapi kadang-kadang kita musti dikasih tutup mata supaya kita nggak lihat salah orang, supaya kita nggak lihat kesusahan dunia, kita nggak lihat. Kita belajar dari Nabi Nuh. Nabi Nuh itu perahunya pintunya ditutup bahteranya. Pintu ditutup, sudah nggak bisa lihat kemana-mana. Cuma satu jendela dibuka di atas. Dia nggak tahu jalannya kemana itu bahtera, ke kiri-ke kanan, ke timur-ke barat, dia nggak tahu.  Nggak didayung, banjir sih, seluruh dunia banjir. Bahtera terus ada di atas, dia nggak tahu kemana. Tapi Tuhan bilang, pakai satu jendela itu di atas. Artinya apa? Nggak usah lihat sekeliling kamu, nggak usah. Nggak perlu tahu lihat sekeliling. Lihat saja ke atas! Pandang saja kepada Tuhan Yesus.

Pada sore hari ini kita mau masuk dalam perjamuan kudus. Saudara mau pandang kepada Tuhan? Jangan lihat lagi kiri kanan, susah-senang, dan sebagainya. Pandang kepada Tuhan yang mengadakan dan menyempurnakan.

-- o --   

 _________________________ 

 

(Kembali ke Halaman Utama)

_________________________