Khotbah Minggu Pagi Maret - April 2007

Gereja Pentakosta di Indonesia - Cianjur

Jalan Hasyim Asyari 75, Cianjur 43214. Tel (62-263) 261161 - Indonesia

Minggu pagi, 11 Maret 2007

FIRMAN TUHAN KESUKAANKU

Kita buka Alkitab kita dalam Mazmur

119:24 Ya, peringatan-peringatan-Mu menjadi kegemaranku, menjadi penasihat-penasihatku.

Di dalam bahasa Inggris tidak ada kata ya. Tetapi disebut, kesaksian-kesaksian-Mu juga adalah kesukaanku.

Dalam bahasa Indonesia sehari-hari, menjadi kegemaranku bahkan menjadi penasihat-penasihatku. Jadi kalau saya salin artinya yang sebenarnya begini bunyinya: Kesaksian-kesaksian-Mu juga adalah kesukaanku dan penasihat-penasihatku.

Saudara, kita ikut Tuhan tidak monoton, terus-terusan begitu. Datang ke gereja, pulang ke rumah, begitu terus. Tidak. Kita musti ada peningkatan. Kita musti ada disiplin. Baik dalam soal waktu, dalam soal kerja, dan dalam soal kerohanian.

Nah, dikatakan oleh Daud, katanya, kesaksian-kesaksian-Mu juga menjadi kesukaan kita. Dan ini berkata tentang firman Tuhan. Sama sebentar sore saudara akan dengar kesaksian yang belum pernah saya dengar kesaksian seperti itu. Luar biasa. Dia punya cara bersaksi yang unik, yang aneh. Saudara harap datang. Mereka akan bersaksi. Dia jadi kristen itu bukan karena manusia. Manusia ajak dia, dia bilang, jangan banyak omong kalau soal Yesus, jangan banyak omong. Tapi Tuhan sendiri. Caranya? Nanti saudara dengar, sore.

Firman Allah juga disebut Kitab Kesaksian. Kita membaca kesaksian tentang Tuhan, kesaksian tentang Paulus, kesaksian tentang Petrus. Kesaksian tentang janda yang kekurangan, tidak punya uang, diberi kelimpahan. Kesaksian dari Bartimeus yang buta, melihat. Kesaksian dari Yesus yang jalan di air. Kesaksian-kesaksian itu ada di dalam alkitab. Itu dikatakan oleh Daud ... menjadi kegemaranku. Bahasa Indonesia sehari-hari, menjadi kegembiraanku.

Kita harus meningkat sampai satu kelas, satu tingkat, saudara senang kepada firman Tuhan. Amin? Saudara gembira kalau baca firman Tuhan. Saudara mempunyai sukacita kalau membaca firman Allah. Saudara senang kalau ada di kebaktian. Bahkan katanya, kesaksian firman Tuhan itu sudah menjadi penasihat-penasihatku. Jadi lebih dari satu. Jadi di dalam hidup kita ada penasihat, yaitu firman Allah. Dalam hidup kita ada kesaksian, yaitu firman Allah. Ini menjadi kegembiraan kita. Ini menjadi kesukaan kita. Saya mau tanya tapi saudara jangan jawab. Apa tadi pagi saudara baca Alkitab?

Sebelum saya kemari, saya buka dulu komputer. Saya baca firman Tuhan. Saya renungkan firman Allah itu yang saya akan berikan kepada saudara. Di dalam bahasa Ibrani kata kegembiraanku itu dipakai kata sasua. Sasua itu jadi hobi, senang. Sama orang kalau senang mancing, hobi. Sama dengan orang senang bunga anggrek. Di sana ada bunga anggrek aneh, yu dicari. Di Gunung Gede ada bunga anggrek, di cari. Biar hujan. Sama dengan hobi orang jalan kaki. Ada orang Cianjur senang jalan kaki sampai Gunung Pangrango. Hobi, senang. Nah, saudara pikir, jalan di Gunung Pangrango itu berapa jam? Dan berapa jam kita pakai untuk firman Allah? Berapa jam kita merenungkan sabda Tuhan?

Itu sebabnya dikatakan oleh pemazmur, ini dipakai kata peringatan. Tapi dalam bahasa aslinya, kesaksian.

Kesaksianku menjadi kesukaanku. Jadi gini lah, saya pendekkan omongannya. Nurut firman Allah itu jadi kesukaanku. Mendengar firman Allah itu lain, membaca firman Allah itu lain. Tapi melakukan firman Allah itu menjadi kesukaanku. Dia senang melakukan firman Allah. Dia suka melakukan firman Allah, menjadi kegembiraanku. Kita baca ayat 77,

119:77 Biarlah rahmat-Mu sampai kepadaku, supaya aku hidup, sebab Taurat-Mu - atau Firman-Mu - adalah kegemaranku.

Rahmat di dalam bahasa Ibrani adalah raham. Allah yang kita sembah adalah Allah yang rahmani dan rahimi. Di sini dipakai kata rahim, raham, rahmat. Tuhan, biarlah rahmatmu pagi ini turun kepadaku supaya aku hidup sebab firman-Mu adalah kesukaanku, kegemaranku. Amin? Rahmat Tuhan hanya datang kepada orang-orang yang menggemari firman Tuhan, menyenangi sabda Tuhan. Saya bisa duduk satu, dua jam di rumah saya duduk sambil merenungkan firman Allah. Sambil berbicara kepada Tuhan. Duduk saja saya.

Tapi saya merenungkan, berbicara, merenungkan, membaca, merenungkan. Rasanya nikmat sekali, tidak terbayar dengan uang. Kalau saudara mau kesaksian, hari minggu yang lalu, sore. Itu saya ingin bicara mengenai belas kasihan. Saya sudah siapkan firman mengenai belas kasihan. Sampai saya main organ, masih belas kasihan. Saya sudah catat, saya sudah siap bicara dari belas kasihan. Tiba-tiba waktu saya sembahyang, Tuhan bilang, bicara tentang korupsi. Begitu jelas Dia bilang, bicara tentang korupsi. Jadi khotbah itu khotbah dadakan.

Jadi, saudara-saudara, senang kalau kita bisa sampai kepada tingkatan saudara menyenangi firman Tuhan, menggemari sabda Tuhan, menyukai firman Allah, membuka sabda Tuhan. Banyak kesaksian-kesaksian, cerita-cerita yang luar biasa dari Firman Allah. Yang saya mau khotbah kepada saudara adalah ayat 92,

119:92 Sekiranya Taurat-Mu tidak menjadi kegemaranku, maka aku telah binasa dalam sengsaraku.

Kita semua manusia ini sama. Saya tidak lebih hebat dari saudara karena berdiri di belakang mimbar, berdiri di atas. Kita sama di hadapan Tuhan. Ada kalanya kita mengalami kesukaran. Orang yang tidak menyukai firman Tuhan, dia mengalami kesukaran langsung mati, binasa. Hanya oleh percobaan yang kecil, dia akan hancur berantakan. Tetapi karena pemazmur ini menyukai firman Allah, menyenangi sabda Tuhan, mengasihi firman Allah, menjadi kegemaranku, menjadi kesukaanku sabda Tuhan.

Kalau dalam bahasa Inggris, kalau saja firman-Mu tidak menjadi kesukaanku maka aku telah mati dalam sengsaraku. Tahukah saudara bahwa yang menyangga kita tiap hari, yang membungkus kita, supaya kita tidak binasa, itu adalah firman Tuhan. Saya mau cerita satu kesaksian anak Tuhan di Surabaya. Anak Tuhan di Surabaya satu kali dia kehabisan uang. Gajian kira-kira tinggal satu minggu lagi tapi dia sudah habis uang. Dan anak yang perempuan yang kecil sakit keras, perlu beli obat. Dan dia adalah guru sekolah minggu. Ini kejadian benar.

Jadi dia berjalan dengan menangis, dengan air mata: Tuhan, saya tidak punya uang. Anak saya sakit, Tuhan. Dia berjalan entah nggak tahu mau kemana. Dia masuk di satu jalan yang agak sempit. Dia lihat di halaman satu rumah, satu sepeda. Pikiran jadi gelap. Dia masuk dalam rumah itu, sepeda tidak terkunci. Dia bawa sepeda keluar. Saudara sudah tahu, dia mau jual. Karena terpaksa, dia tidak ada uang. Dia bawa keluar sampai di depan dekat pagar. Ini firman Tuhan yang jaga. Dia ingat, dia ngajar di sekolah minggu: Anak-anak, tidak baik untuk mencuri. Anak-anak, jangan mencuri.

Sekarang saya, gurunya sendiri mau mencuri. Dia nangis, dia balikkan lagi sepeda. Tuhan, ampuni, saya berdosa. Itu firman Tuhan yang jaga. Ketika dia kembali ke rumah, ada keluarganya datang dari luar kota. Dia cerita kesulitan. Keluarganya bilang, pakai ini uang, nggak usah diganti, pakai uang ini. Dari situ dia tertolong, tertolong, tertolong, tertolong, terus sampai sekarang menjadi pengusaha besar. Siapa yang jaga? Firman Allah.

Bagaimana kalau guru sekolah minggu tidak menyukai firman Tuhan, dia tidak mengasihi firman Tuhan? Sepeda itu sudah diboyong. Dia bisa dapat uang beberapa puluh ribu. Tapi harga dirinya hancur. Dia binasa. Itu sebabnya katanya Daud, kalau saja firman-Mu tidak menjadi kesukaanku. Saya agak tidak suka ini salinan. Jadi sebetulnya begini. Kalau saja firman-Mu tidak menjadi kesukaanku dulunya, aku ini sudah mati sekarang dalam kebinasaan. Siapa yang pelihara saudara? Pendeta? Tidak. Gereja? Tidak. Tuhan yang pelihara saudara. Tuhan yang jaga saudara. Firman-Nya yang melindungi saudara.

Perlindungan firman Tuhan kepada saudara itu jauh lebih baik dari satpam manapun juga. Maka katanya Daud: Maka perkataan-Mu telah .. Ku taruh dalam hatiku .. Supaya jangan .. Supaya jangan .. Aku berdosa pada-Mu. Sudah menjadi terang di dalam hati. Di dalam ayat 143,

119:143 Aku ditimpa kesesakan dan kesusahan, tetapi perintah-perintah-Mu menjadi kesukaanku.

Di sini agak lain sedikit. Karena kata kesukaan ditulis sampai dua kali seharusnya. Aku ditimpa kesesakan dan kesusahan. Bahasa Inggris, aku dikejar. Sama seperti mobil. Saudara naik mobil, ada yang mengejar dari belakang. Aku dikejar oleh kesusahan dan kesesakan, overtaken. Dalam bahasa asli dipakai juga, dikuasai. Aku dikuasai oleh kesusahan, ditimpa kesesakan dan kesusahan. Tetapi perintah-perintah-Mu adalah tetap menjadi kesukaan-kesukaanku. Luar biasa.

Saya sudah beri 4 ayat  dari Mazmur 119. Ayat 24, ayat 77, ayat 92, ayat 143. Empat ini bicara bahwa firman Tuhan menjadi kesukaanku. Dengan lain kata, pemazmur berkata, kita harus memperhatikan firman Tuhan. Jangan biasa, tuman, terlambat datang di gereja. Itu saudara tidak menghargai firman Tuhan. Saudara rasa lebih penting dari firman Allah. Saudara rasa bisa jalan tanpa firman Allah. Usahakanlah saudara datang di kebaktian tepat waktu karena saudara memerlukan firman Tuhan.

Bukan Tuhan yang perlu kita, kita yang perlu Tuhan! Bukan Tuhan yang membutuhkan kita, kita yang membutuhkan Tuhan! Itu sebabnya, kasih lihat kebutuhan kita sama Tuhan dengan kebaikan, dengan kesetiaan, dengan kemauan untuk beribadah. Jadi kita diminta untuk memperhatikan. Seorang rasul namanya Petrus, dia menulis satu ayat yang indah sekali. Saya pikir belum pernah saya baca ayat ini seindah apa yang dimaksudkan oleh Petrus di dalam surat II Petrus 1. Tetapi apa artinya keindahan kalau kita tidak menurut. II Petrus 

1:19 Dengan demikian kami makin diteguhkan oleh firman yang telah disampaikan oleh para nabi. Alangkah baiknya kalau kamu memperhatikannya sama seperti memperhatikan pelita yang bercahaya di tempat yang gelap sampai fajar menyingsing dan bintang timur terbit bersinar di dalam hatimu.

Apa kata Petrus? Perhatikan firman. Ini kita musti kembali ke 2.000 tahun yang lalu. Sama seperti orang memperhatikan pelita. Zaman dulu kalau malam nggak ada listrik seperti sekarang, nggak ada air condition. Mereka memakai pelita atau semacam lampu teplok. Zaman dulu. Tapi biasanya pelita, seperti lampu Aladin begitu ya, terus diisi minyak.

Apa maksudnya memperhatikan pelita? Jangan sampai padam. Karena kalau padam, sudah, kita tidak bisa lagi lihat apa-apa dalam malam. Perhatikan pelita biar dia menyala sampai fajar menyingsing.

Ketika fajar menyingsing, kita tidak perlu lagi pelita. Sebelum fajar menyingsing ada bintang timur. Saudara kalau pagi-pagi, saudara bangun jam setengah empat. Saudara lihat ke arah timur, itu ada bintang paling terang. Itu disebutnya bintang fajar. Paling terang, paling bercahaya. Bintang yang lain nggak terlalu terang. Dia sendiri di sebelah timur. Itu bintang fajar. Dia mengawali fajar menyingsing, ada bintang dulu. Bintang fajar di sini terbit di dalam hatimu. Berarti bintang fajar ini bukan bintang yang kita lihat di langit. Di dalam Wahyu 

22:16 "Aku, Yesus, telah mengutus malaikat-Ku untuk memberi kesaksian tentang semuanya ini kepadamu bagi jemaat-jemaat. Aku adalah tunas, yaitu keturunan Daud, bintang timur yang gilang-gemilang."

The Morning Star. Sebelum fajar menyingsing nanti kedatangan Tuhan yang kedua kali, Dia mengawali kehidupannya dengan bintang fajar. Menurut Petrus, biarlah kita memperhatikan firman, memperhatikan sabda Tuhan, mencintainya, mengasihinya, menyukai firman sampai bintang timur, bintang fajar itu menjadi terang di dalam hati kita. Amin? Haleluyah? Sampai bintang fajar terang di dalam hati kita. Jangan baca asal baca saja. Tidak. Tidak ada terang. Baca sampai bintang terang, bintang fajar itu menerangi hati kita.

Sampai sekarang belum ada pendeta seperti John Sung di Tiongkok. Saya mau coba-coba seperti dia, nggak bisa, nggak kuat. Setiap malam sekitar jam dua sampai jam lima subuh, dia membaca Alkitab berlutut, dengan lampu teplok. Dua, tiga jam dia baca. Ini kesaksian saya dengar dari orang yang punya rumah di mana John Sung itu menginap. Maka saya paling marah, paling kesal kalau lihat murid sekolah alkitab malas dalam membaca firman. Ongkoh sekolah alkitab tapi malas baca alkitab. Bagaimana mau dipakai Tuhan?

Nanti saudara lihat sore, lulusan Cianjur tahun 95, yang sudah melanglang buana kemana-mana, seluruh negara Asia. Dia membikin kelompok. Bagaimana kita mau dipakai Tuhan kalau kita malas? Bagaimana Tuhan mau memberikan kekuatan kepada kita kalau kita malas membaca firman? Kita lebih rajin baca koran dari pada baca firman. Kita lebih senang baca komik dari pada baca firman. Kita lebih senang dengar warta berita, nonton sepak bola dari pada baca firman. Bagaimana kita mau dipakai Tuhan? Bagaimana kita mau bertumbuh kepada satu kelas di mana bintang timur itu bercahaya di dalam hati kita? Dalam Yohanes 

5:35 Ia - Yohanes Pembaptis - adalah pelita yang menyala dan yang bercahaya dan kamu hanya mau menikmati seketika saja cahayanya itu

Orang Yahudi itu mau lihat terang cuman asal saja, sebentar saja. Saya mau belajar firman Allah. Ya, sudahlah empat puluh lima menit satu minggu, cukup. Sudah. Yohanes Pembaptis pelita. Ya, tapi saya mau menikmati sebentar saja. Tidak bisa demikian. Kita harus menikmati firman sampai firman itu ada di dalam hati, sampai meresap. Kita harus jadi kristen sampai firman Tuhan itu meresap. Jangan cuma sebentar saja. Nggak usah kita semangat menggebu-gebu, hilang ... semangat coca cola. Api kecil tapi tidak mati, sampai firman Tuhan itu meresap. II Korintus 

4:3 Jika Injil yang kami beritakan masih tertutup juga, maka ia tertutup untuk mereka, yang akan binasa,
4:4 yaitu orang-orang yang tidak percaya, yang pikirannya telah dibutakan oleh ilah zaman ini, sehingga mereka tidak melihat cahaya Injil tentang kemuliaan Kristus, yang adalah gambaran Allah.
4:5 Sebab bukan diri kami yang kami beritakan, tetapi Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan diri kami sebagai hambamu karena kehendak Yesus.
4:6 Sebab Allah yang telah berfirman: "Dari dalam gelap akan terbit terang!", Ia juga yang membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita, supaya kita beroleh terang dari pengetahuan tentang kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus.

Kalau kita mau jujur sama diri sendiri, problem datang kita nggak bisa atasi karena kita meninggalkan kebaktian, karena kita tidak menikmati kebaktian, itu lebih tepat. Ada orang ke gereja, masuk keluar. Dia rajin ke gereja. Tapi dia nggak meresapi firman, nggak menikmati. Nggak menikmati, meresapi firman. Terangnya Tuhan tertutup Injil kepada orang yang akan binasa. Dia tidak tulis untuk orang kafir sebab surat Korintus untuk orang kristen. Kalau Injil yang aku beritakan tertutup sama kamu, kamu nggak mau ngerti-ngerti berarti kamu akan binasa.

Sebab apa? Tuhan berkata, ayat 6, dari dalam gelap akan terbit terang. Aduh Tuhan, saya sedang dalam gelap. Aduh Tuhan, saya sedang dalam percobaan. Aduh Tuhan, saya sedang dalam problem. Aduh Tuhan, saya sedang dalam persoalan. Itu gelap. Tapi ada firman yang menjadi terang di dalam hati kita. Dia akan membuka jalan, Dia akan memberikan terang. Oh, saya harus begini. Oh, saya harus begitu. Dia yang menerangi. Ini sudah diuji berabad-abad: Yang meninggalkan Dia, dia akan ditinggalkan Tuhan. Yang mencintai Dia, dia dicintai Tuhan.

Tidurlah dengan firman. Tinggikanlah firman, turutilah firman. Jangan teori saja tapi hidup kita ada di dalam dosa. Tinggikan firman, jaga mulut. Sebab apa yang di dalam ini akan keluar melalui mulut. Sebelum kita mengkritik orang, pikir dulu, kita sudah benar belum? Ada hak apa kita mengkritik orang? Kita lihat dalam Amsal

18:4 Perkataan mulut orang adalah seperti air yang dalam, tetapi sumber - atau mata air - hikmat adalah seperti batang air yang mengalir.

Perkataan mulut orang, kita semua secara umum ... perkataan mulut orang terbagi dua. Yang pertama adalah seperti air yang dalam. Dia dalam tapi nggak ngalir. Dia dalam, dalam tapi nggak mengalir. Lama-lama bau. Saudara lempar sampah saja, dia di situ. Lempar daun, dia di situ. Lempar kertas, dia di situ. Apa saja di situ. Sampai akhirnya kadang-kadang kita lihat itu air jadi kotor. Saya mau tanya, saudara mau minum air seperti itu?  Tetapi ayat berikutnya, mata air itu seperti air yang mengalir. Dia mengalir.

Kenapa? Karena ada mata air, membual. Mengalir, mengalir, mengalir. Saudara lempar kertas, kertas terbawa arus. Saudara lempar daun, daun terbawa arus. Ini bicara dari omongan. Ada omongan yang seperti air nggak ngalir. Ngomongin orang, kritik orang. Sebab belum ada terang. Biar dia pantekosta, biar dia hamba Tuhan, calon pendeta, tapi kalau mulutnya masih ngomongin orang, dia seperti air yang dalam. Tidak mengalir. Tapi biar dia jiwa baru, jemaat baru tetapi kalau dia seperti sumur yang mengalir. Sumur ditimba, keluar air. Sumur ditimba, keluar air. Mengalir. Seperti sungai yang mengalir. Sungai kecil. Itu akan jadi berkat. Berikutnya ayat 6,

18:6 Bibir orang bebal menimbulkan perbantahan, dan mulutnya berseru meminta pukulan.

Ada orang ribut. A sama B ribut-ribut. Satu pukul, pecah bibirnya. Dibawa ke polisi dua-duanya. Polisi bilang, siapa yang pukul? Dia pukul saya, pak. Kamu salah, yang mukul salah. Tapi firman Allah ini nggak bilang begitu. Yang salah itu yang ngomongnya nggak ditimbang. Bibir orang bebal menimbulkan perbantahan. Dia punya mulut yang bikin keributan. Dan mulutnya berseru minta pukulan. Lain ya hukum manusia dengan hukum Tuhan. Kalau hukum manusia, yang pukul itu salah. Tapi hukum Tuhan, kenapa sampai kamu memukul? Dia menghina saya. Dia menghina ibu saya. Dia menghina bapa saya. Dia menghina saya. Jadi  saya pukul, pak. Itu karena mulut. Berikut ayat 7,

18:7 Orang bebal dibinasakan oleh mulutnya, bibirnya adalah jerat bagi nyawanya.

Bibirnya jadi jerat. Kenapa? Karena belum ada terang. Sama dengan nubuat. Nubuat ada nubuat palsu, ada nubuat asli. Nubuat palsu datang dari pikiran, dipaksa-paksa orang bernubuat. Itu palsu. Kalau nubuat asli, nggak dipaksa-paksa. Kita nggak bicara tentang nubuat, tahu-tahu ada yang bernubuat. Kalau nubuat palsu, itu tidak datang dari terangnya Tuhan tapi dari terang diri sendiri, dari maunya diri sendiri. Itu sebabnya firman Allah katakan, ujilah nubuat, ujilah Roh, apa itu datang dari Tuhan atau bukan? Bagaimana kita mau menguji kalau kita tidak punya terang, bintang timur tadi. Kita tidak memperhatikan firman.

Sama seperti nubuat ada dua, orang kristen juga ada dua. Yang pertama, orang kristen yang positif ngomongnya. Dan yang kedua, orang kristen yang negatif. Saya sering dengar, saya nggak bisa, nggak bisa deh. Saya nggak bisa, nggak mampu.  Dia terjerat, terperangkap. Dia nggak bisa kemana-mana, dia nggak bisa apa-apa. Karena ngomongnya saya nggak bisa, saya nggak mampu. Jangan saudara ngomong yang negatif. Bicara yang positif. Katakan kata-kata yang mengalir.

Maaf saudara, sorga sering dikotori oleh sampah dari mulut kita. Yang ngeluh-ngeluh, kenapa begini Tuhan? Kenapa begini Tuhan? Kenapa begitu Tuhan? Tuhan kenapa ini, kenapa itu? Sampah. Dia itu ingin dengar saudara itu ngomong yang baik. Tuhan, Engkau baik, Engkau mengasihi kami. Terima kasih Tuhan. Saya pun mengasihi Engkau, Tuhan. Tuhan jaga saya. Tuhan kasih nafas sama saya. Tuhan jaga anak-anak saya sehat, sekolahnya baik, pinter-pinter. Tuhan, terima kasih, saya ada untung waktu dagang. Terima kasih, toko saya diberkati. Tuhan, terima kasih. Eh, nanti nggak lama saudara akan mengalami apa yang saudara ngomong. Karena apa yang saudara ngomong akan kembali kepada saudara. Ayat 8,

18:8 Perkataan pemfitnah seperti sedap-sedapan, yang masuk ke lubuk hati.

Maaf saudara, telinga kita mendengar fitnah itu seperti snack. Kalau habis makan kita di pesta, orang suka ini kue mangkok kecil, kue talem kecil. Itu snack. Kalau kita lagi dengar orang ngomongin fitnah, aduh demen, bagus. Kalau kita dengar gosip, aduh enak. Telinga kita jadi tempat sampah.

Tapi katanya firman, masuk ke lubuk hati ... dia meracuni lubuk hati. Kalau saudara lihat ke dapan, ini lingkaran. Lingkaran tubuh. Di dalam lingkaran ini saudara bikin lingkaran yang lebih kecil, itu nyawa. Di dalam lingkaran ini, saudara bikin lingkaran lagi yang lebih kecil, itu lubuk. Itu the inmost, paling dalam. Itu yang dirusak kalau saudara suka dengar gosip, omongan orang, membawa-bawa omongan orang. Bukan membawa terang tetapi membawa omongan orang. Itu yang rusak saudara. Yang dengar juga rusak. Yang bawa-bawanya lebih rusak lagi. Itu merusak lubuk hati.

Sekarang saudara terserah, mau lubuk hati saudara dirusak oleh diri saudara, oleh mulut saudara sendiri. Atau terang Tuhan, matahari kebenaran, bintang timur masuk di dalam hati saudara. Dan saudara menjadi terang. Pilihan sama saudara. Cuma kalau saya boleh nasehatin, pilihlah bintang timur, pilihlah Tuhan Yesus, pilihlah firman!

Pada pagi hari ini, adakah di antara saudara sedang dalam susah, yang sedang dalam gelap, yang sedang dalam problem. Problem kan ada kecil ada yang besar. Tapi saudara ingin didoakan, saudara ingin ketemu dengan Bintang Timur itu. Hati saudara gelap, saudara ingin diterangi Tuhan. Saudara ingin dapat kekuatan. Saudara ingin pulang itu puas. Saudara ingin dapat kemenangan. Saudara ingin dapat penghiburan. Mau didoakan, silakan maju ke depan. Kita berdiri bersama-sama. 

-- o -- 

Minggu pagi, 18 Maret 2007

JALAN TUHAN BUKAN JALAN KITA

Kita buka Alkitab kita dalam Amsal 

14:12 Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut.

Di dalam bahasa Inggris: Ada jalan yang kelihatannya benar kepada manusia tetapi akhirnya adalah kematian.

Dan ini firman Allah dan ini adalah kekurangan manusia, kekurangan kita secara umum. Kita sering mengambil keputusan ketika kita lihat jalan nampaknya benar tapi nggak bagus. Karena itu kita terburu-buru mengambil keputusan tanpa kita sadar bahwa jalan itu menuju kepada kebinasaan. Manusia dengan kesombongannya, dia tidak mempedulikan Tuhan, tidak mempedulikan nasihat firman Allah, tidak mempedulikan siapapun juga. Pokoknya jalanku harus jalan.

Padahal di dalam kitab Yesaya, Tuhan berkata: Seperti tingginya langit dan bumi, demikianlah jauhnya, bedanya jalan-Ku dari jalanmu. Sudah tahu itu dari Tuhan bahwa jalan kita itu bukan jalan Tuhan sebab Tuhan bilang jalan-Ku bukan jalanmu. Tapi kita keukeuh, bersikukuh memilih jalan itu karena kita anggap sudah benar. Itu akan menjadi awal dari kejatuhan kita. Karena kita tidak menanti kepada Tuhan, tidak bertanya kepada Tuhan, apa yang harus kita perbuat. Di dalam Mazmur 

27:11 Tunjukkanlah jalan-Mu kepadaku, ya TUHAN, dan tuntunlah aku di jalan yang rata oleh sebab seteruku.

Tunjukkanlah jalan-Mu kepadaku, ya Tuhan. Bahasa Inggris, ajar aku jalan-Mu dan tuntunlah aku kepada jalan yang lembut karena banyak musuhku. Hidup kita di dunia ini selalu ada musuh. Sama seperti Daud demikian juga kita ada musuh yang mau menjatuhkan kita, yang mau menghancurkan kita. Itu sebabnya kita dihadapkan kepada jalan yang begitu banyak, bercabang. Saudara bisa bayangkan, Daud itu raja. Dia bisa pilih apa yang dia mau. Dia bisa ambil apa yang dia mau. Tapi setelah dia terperosok kepada kasusnya Batsyeba sehingga dia dihukum Tuhan maka dia bertobat dan dia bilang: Kalau begitu Tuhan, tunjukkanlah jalan. Saya sudah buktikan jalan saya salah, jalan saya keliru. Tunjukkanlah jalan.

Pernah saya menasihati satu gadis, jangan menikah dulu, tunggu satu tahun. Kenal masing-masing dulu adat. Tapi gadis ini tidak dengar nasihat saya. Siapa saya kan? Saya, pendeta yang tidak punya kuasa apa-apa. Saya hanya kasih nasihat, jangan pengen cepat kawin, nggak bagus. Tunggu satu tahun, lihat. Masa baru kenal saja belum, sudah kawin. Tersinggung. Dia kawin. Ya sudah, kita kawinkan.

Hanya kuat lima bulan. Dia harus tinggalkan laki-laki itu karena laki-laki itu menjadikan dia istri yang ketiga. Dipukuli, ditendangi. Perkawinan apa, baru lima bulan saja sudah dipukulin, ditendangin?

Itu sebabnya Daud berkata: Tunjukkanlah kepadaku Tuhan jalan-Mu dan pimpin aku di jalan yang rata, dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa Inggris, jalan yang lembut, jalan yang tidak bergelombang, yang tidak berbatu tapi jalan yang lembut. Dan cuma Tuhan karena Dia berkata dalam Yohanes 14:6 Akulah jalan, kebenaran dan hidup. Cuma Dia yang bisa memberitahu kepada kita jalan yang sebenarnya.

Kita seringkali salah jalan. Walaupun kita sudah kenal Tuhan, kita sudah tahu Tuhan tapi kita suka pakai jalan kita. Perhatikan loh tadi ayat, kelihatannya betul. Perasaan kita, bener nih jalan tapi ujung-ujungnya ada sampai kepada maut. Di dalam Matius, Tuhan Yesus berkata 

7:13 Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya;
7:14 karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya."

Ini firman bukan untuk orang yang belum kenal Tuhan. Ini firman untuk murid Yesus. Karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan - perhatikan - dan banyak orang yang masuk melaluinya. Jadi kalau dibandingkan dua ayat ini, yang salah jalan lebih banyak dari pada yang tepat jalannya. Yang menuju kepada kebinasaan lebih banyak dari pada yang menuju kepada hidup. Aneh tapi nyata. Minggu ini saya kehilangan dua teman. Yang sangat mengerikan saya, dia teman baru ketemu.

Pada hari kamis saya ketemu dengan satu bapa yang sudah berpuluh tahun tidak ketemu. Tapi ketemu terakhir satu tahun. Dan selama satu tahun itu saya berusaha membimbing dia kepada Tuhan. Dia suka ikut kebaktian di sini. Dia sudah kebaktian di gereja Bethel Tabernakel di Bandung. Umurnya baru empat puluh sembilan tahun. Pada hari rabu yang baru lalu, dia mengambil keputusan sama temannya mau ke Cianjur, mau ketemu saya. Tetapi keputusan itu tidak jadi karena dia main badminton. Main badminton satu set, dia istirahat.

Ketika dia istirahat, orang main dobel, main dobel, ada satu orang yang berhenti karena cape, dia ganti lagi. Main lagi. Tiba-tiba dia bilang, saya cape. Dia duduk. Jongkok dulu, udah jongkok duduk, celentang, dia kelojotan. Dibawa ke rumah sakit. Dokter bilang, sudah terlalu lemah. Meninggal. Saudara bayangkan, hari kamis saya di Surabaya, naik kereta api jumat pagi ke Solo. Di Solo KKR. Hari sabtu saya ke Jakarta naik pesawat. Dari Jakarta sampai jam setengah satu langsung ke Bandung. Ketemu pendetanya. Sebelum meninggal, bapa ini, dia atur mau bikin KKR buat gereja dia. Dia undang saya.

Nyeletuklah pendeta ini: Ya, jalan kita bukan jalan Tuhan. Meninggal. Sementara saya di Solo, saya dapat telepon. Saudara Wi Cong di Cianjur meninggal. Itu saya ketemu hari minggu. Saya jabat tangan sama dia suami istri. Saya bilang: Cong, badanmu itu terlalu gemuk, hati-hati. Iya, iya, iya. Dia tertawa. Teman lama. Meninggal. Nah, saya telepon teman satu ini, yang bapa di Bandung ini, sebelum paginya itu, rabu paginya itu ngomong begini: Kita bertobat saja nanti tujuh hari sebelum meninggal. Tujuh hari sebelum mati kita bertobat. Ngomongnya terus gitu.

Tujuh hari sebelum mati, kita bertobat. Nantilah kita bertobat setelah tujuh hari sebelum mati. Dia tidak tahu sorenya dia mati. Empat puluh sembilan tahun. Kakaknya masih hidup, mamanya masih hidup. Jadi pikiran dia, jalan dia, dia pikir maut masih lama, masih jauh. Pikiran dia, tidak, masih lama, belum waktunya, saya masih sehat, masih kuat. Tapi itulah, jalan-Ku bukan jalanmu. Hanya sedikit orang yang mendapatinya atau menemukannya jalan yang sempit ini.

Orang yang sudah dewasa di dalam kristen, dia tidak suka ngomel-ngomel lagi. Dia suka dengan kesunyian. Dia suka dengan kesempitan. Kenapa? Karena dia sudah dewasa. Kalau orang yang belum dewasa di dalam Tuhan, dia suka keramaian, dia suka los, dia tidak suka rem, dia suka semau-maunya saja. Tapi kalau orang sudah dewasa, dia banyak mengalah, dia banyak diam, dia kurangi ambisi. Dia tidak bertumbuh keluar, tapi dia bertumbuh ke dalam. Itu orang yang dewasa. Tapi orang yang masih muda, dia jalan di jalan yang luas. Dia berbuat apa yang dia suka. Dia tidak tahu ujungnya itu kepada maut.

Betul kata firman, jalan-Ku bukan jalanmu. Ada jalan yang kelihatannya bagus, tapi akhirnya membawa orang itu kepada maut. Kalau damai itu ada dalam hati kita, kalau kita sering melihat ke dalam, kita tidak perlu lagi damai yang kita impor dari dunia. Kita tidak perlu lagi damai yang kita sadap dari dunia. Kita sudah mempunyai damai, sungai, mata air hidup itu di dalam hati kita. Yesus berkata dalam Yohanes 4:14, barangsiapa yang minum air ini akan haus lagi, tapi barangsiapa minum air yang Aku berikan kepadamu, dari dalamnya akan membual akan mengalir mata air hidup sampai kepada hidup yang kekal.

Saudara pikirkan dan bayangkan lumpur lapindo, dia tidak bisa ditutup. Seorang ahli Jepang berkata: Tiga puluh satu tahun baru dia berhenti. Tapi ambil yang positifnya. Mata air hidup akan mengalir sampai hidup yang kekal. Jadi sampai kita mati, sampai kita di sorga, mata air hidup dari Tuhan itu akan selalu keluar. Jadi kalau orang sudah dewasa, dia tidak perlu lagi bonus dari dunia. Kalau dia sudah mempunyai hadiah, dia tidak perlu lagi sesuatu dari dunia. Dia tidak akan takut dengan kesempitan karena dia tahu kesempitan itu akan membawa dia kepada hidup yang kekal. Dalam II Korintus

12:10 Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.

Ini orang yang sudah dewasa. Dia tidak lihat lagi kesempitan itu sebagai satu percobaan. Dia tidak lihat lagi kesesakan itu jadi permasalahan. Dia lihat itu jalan menuju kepada kekuatan. Dia lihat itu jalan menuju kepada kebahagiaan. Dan ini adalah paradoksnya dari Injil. Sesuatu yang kita tidak bisa mengerti kalau kita belum alami. Sesuatu yang kita tidak akan mengerti kalau kita tidak mau mengalami. Dalam II Korintus 

11:22 Apakah mereka orang Ibrani? Aku juga orang Ibrani! Apakah mereka orang Israel? Aku juga orang Israel. Apakah mereka keturunan Abraham? Aku juga keturunan Abraham!
11:23 Apakah mereka pelayan Kristus? - aku berkata seperti orang gila - aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut.
11:24 Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan,
11:25 tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut.
11:26 Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu.
11:27 Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian,
11:28 dan, dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat.
11:29 Jika ada orang merasa lemah, tidakkah aku turut merasa lemah? Jika ada orang tersandung, tidakkah hatiku hancur oleh dukacita?
11:30 Jika aku harus bermegah, maka aku akan bermegah atas kelemahanku. - Jalan-Nya beda dengan jalan manusia. Dia bermegah kalau dia kaya. Dia bermegah kalau dia kuat. Dia bermegah kalau dia hebat. Tidak. Kekristenan itu, dia bermegah dalam kelemahan. -
11:31 Allah, yaitu Bapa dari Yesus, Tuhan kita, yang terpuji sampai selama-lamanya, tahu, bahwa aku tidak berdusta.
11:32 Di Damsyik wali negeri raja Aretas menyuruh mengawal kota orang-orang Damsyik untuk menangkap aku.
11:33 Tetapi dalam sebuah keranjang aku diturunkan dari sebuah tingkap ke luar tembok kota dan dengan demikian aku terluput dari tangannya.

Kesempitan, kesukaran, lapar, kedinginan, telanjang. Telanjang, saudara. Paulus pernah ditelanjangi. Dan dia bilang, saya tidak berdusta, Tuhan saksi saya. Tapi dia bilang; Aku bermegah atas kelemahanku. Ini orang yang sudah dewasa rohaninya. Dia akan melihat ke dalam. Jalan-Ku bukan jalanmu, kata Tuhan. Dia akan nampak segala sesuatunya di dalam hatinya. Kita akan melihat satu ayat di dalam Mazmur 

1:6 sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.

Saudara perhatikan itu, sebab ayat pertama yang kita baca, Amsal 14:12, banyak jalan yang disangka benar tetapi akhirnya menuju kebinasaan. Matius 7, jalan lebar menuju kepada kebinasaan. Ternyata di sini, jalan orang fasik menuju kebinasaan.

Beranikah kita berkata bahwa kalau kita memilih jalan yang lebar, jalan yang mudah, jalan yang gampang, jalan yang rame-rame, itu adalah jalan orang fasik? Beranikah kita berkata bahwa ketika kita dapat problem, dapat persoalan, tekanan, siksaan, aniaya, air mata, kita terima dengan sukacita di dalam Tuhan?

Dengan tabah, kita bisa merubah hidup menjadi satu kehidupan. Jalan Tuhan itu sempit di luarnya, dalamnya lebar. Jalan dunia itu lebar tapi akhirnya sempit. Boleh narkoba, boleh ini, boleh itu, tapi akhirnya sempit. Dia ditangkap, dimasukkan rumah sakit. Hidupnya sempit. Diawasi, tidak boleh kesana, tidak boleh ke sini. Sebaliknya kalau ikut Yesus, sempit - ini nggak boleh, itu nggak boleh, ini nggak bisa, itu nggak bisa, begitu jangan, begitu jangan. Sempit. Tapi kalau kita ikuti terus, belakangnya lebar.

Di dalam rumah Bapa-Ku banyaklah tempat kediaman, niscaya Aku memberitahukan kepadamu kalau Aku tidak membuatkan. Tapi Dia buat itu sebagai sorga yang kita tuju itu adalah tempat yang luas sekali, yang terhampar luas. 144.000 kilometer persegi. Tinggi, panjang dan lebarnya sama. Sebuah kota empat segi, kata Kitab Wahyu. Dan seratus empat puluh empat ribu kilometer panjang, seratus empat puluh empat ribu kilometer lebar, seperti kubus, seperti kotak. Cukup menampung berapa milyar manusia yang diselamatkan oleh Tuhan. Apakah saudara ada di jalan yang benar? Apakah saudara ada di jalannya Tuhan? Kita akan membuka Wahyu

15:3 Dan mereka menyanyikan nyanyian Musa, hamba Allah, dan nyanyian Anak Domba, bunyinya: "Besar dan ajaib segala pekerjaan-Mu, ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa! Adil dan benar segala jalan-Mu, ya Raja segala bangsa!

Jalan Tuhan itu adil dan benar. Milikilah, masukilah jalan yang benar dan adil dari Tuhan. Walaupun sempit, walaupun agak ini nggak boleh, itu nggak boleh ... rasanya. Itu nggak bisa, ini nggak bisa ... rasanya. Tetapi itu dibuat oleh firman Allah untuk memberikan kepada saudara hidup. Kenapa Taman Firdaus itu dibuat larangan? Semua kamu boleh makan. Semua kamu boleh makan, hanya satu jangan. Kenapa Tuhan bikin itu pohon? Tidak tahu. Kita belum ada, Tuhan sudah ada. Kita nggak bisa tanya kenapa sama Tuhan.

Kalau kita tanya kenapa sama hakim masih bisa, sama presiden masih bisa, sama polisi masih bisa. Kenapa anda menembak atasan? Masih bisa kita tanya tapi sayang dia sudah ditembak duluan, jadi mati. Kenapa ini terjadi? Kenapa garong merajarela tidak bisa ditangkap? Kenapa? Kita bisa tanya. Tapi Tuhan, siapa yang mau tanya Tuhan? Kok Tuhan, kenapa satu ini nggak boleh? Mau-maunya Tuhan.

Jadi kita harus tahu, Tuhan itu jalannya adil dan sangat benar di dalam kehidupan kita. Jangan sampai saudara-saudara memilih jalan yang saudara rasa baik, saudara rasa benar sendiri.

Kalau saudara rasa reuseup. Ah, ieu mah resep ... kalau yang ini saya suka, yang ini saya nggak suka. Nggak bisa! Jangan hanya cari suka. Tapi carilah kesukaan dari Tuhan. Apa yang Tuhan senang, apa yang Tuhan suka. Maka tadi saya katakan, orang yang dewasa, dia tidak mencari keluar. Dia tidak bertumbuh keluar, dia bertumbuh ke dalam. Dia tidak suka rame-rame. Dia suka dengan keheningan, dia suka dengan ketenangan, dia suka keteduhan. Dunia ini bukan firdaus. Belum tahu saja, dirampas oleh Tuhan dari Adam dan Hawa. Diusir Adam dan Hawa karena dosa-dosanya. Apalagi cuma dunia.

Dunia ini bukan firdaus. Dia nggak suka dengan keramaian dunia. Dia tahu ini bukan firdaus. Hanya di kaki Tuhanku. Nggak ada orang lihat, cuma sembahyang sendiri. Di situ hatiku teduh. Kita berteduh pada kaki Tuhan. Kita berteduh dengan tenang. Nggak usah ribut-ribut.

Tahukah saudara bahwa iman itu nggak diperlukan di sorga. Pengharapan nggak diperlukan di sorga. Nubuatan nggak diperlukan di sorga. Karunia kesembuhan nggak diperlukan. Dari tiga hal ini - iman, harap dan kasih -, kasih yang tinggal sampai selama-lamanya. Di dunia kita perlu kasih, di sorga tetap kita perlu kasih. Karena kita berhubungan dengan Kristus adalah di dalam kasih.

Itu sebabnya pada pagi hari ini, ada begitu banyak jalan ditawarkan oleh dunia. Ada begitu banyak jalan yang ditawarkan dengan kemudahan ini, dengan kemudahan itu. Hati-hati! Semua yang ketipu melalui handphone, yang ketipu jutaan rupiah adalah mereka yang ingin cepat senang. Kebanyakan orang yang senang hura-hura, dia ketipu. Banyak jalan yang disangka orang nampaknya benar tetapi akhirnya menuju maut. Tetapi saudara, kita ada di jalan yang benar, kita tidak mau tinggalkan Tuhan, kita ada di jalan dari Yesus Kristus. Saya ingin menutup dengan satu ayat dalam Kisah Rasul

18:26 Ia mulai mengajar dengan berani di rumah ibadat. Tetapi setelah Priskila dan Akwila mendengarnya, mereka membawa dia ke rumah mereka dan dengan teliti menjelaskan kepadanya Jalan Allah.

Saudara-saudara, apa yang kita pelajari ketika kita kebaktian, kita sedang memiliki, kita sedang mempelajari jalannya Tuhan untuk kebahagiaan, jalan Tuhan untuk hidup yang kekal, jalan Tuhan untuk berumah tangga, jalan Tuhan untuk perdagangan, jalan Tuhan untuk perekonomian - ada semua di dalam Alkitab. Tetapi saudaraku, ada dua macam jalan Di dalam dunia ada dua jalan ..  Lebar dan sempit .. Siapa mau pilih .. Yang lebar api .. Jiwamu mati .. Tapi yang sempit .. Jiwa berg'lori. Saudara mau pilih yang mana?

Saya harap saudara pilih jalan yang sempit, jalannya Tuhan yang bukan jalan kita, yang bukan kareuseup kita tapi pilih jalan itu sebab belakangnya ada menuju kehidupan. Kita berdiri bersama-sama.
 

-- o --

Minggu pagi, 08 April 2007

BANGKIT DI DALAM KRISTUS

Kolose  

3:1 Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.
3:2 Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.
3:3 Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.
3:4 Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamupun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.

Di dalam ayat ke-1, saudara, ini Yesus bangkit sudah 2.000 tahun yang lalu, tetapi artinya itu sangat mendalam dan tidak pernah berhenti. Contoh. Alam sudah jadi 6.000 tahun yang lalu ... Tuhan jadikan langit dan bumi ini. Tetapi matahari itu berputar terus setiap pagi baru, setiap pagi baru walaupun putarannya sama.

Demikian juga Kristus yang kita alami, Yesusnya sama dulu besok dan selamanya tetapi pengalaman yang kita hadapi dengan Kristus selalu baru. Nah, kita lihat kalimat yang pertama.

3:1 Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus,

Saya ingin mengajak saudara sebentar saja kita pegang Kolose 3, kita lihat Roma 6, apa yang terjadi pada waktu saudara dibaptis,

6:3 Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya?
6:4 Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. 

Bandingkan dengan Kolose 3. Karena itu kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus. Bagaimana kita bisa dibangkitkan  bersama dengan Kristus kalau kita belum dikuburkan bersama dengan Dia, kalau kita belum mati bersama dengan Dia. Dalam apa? Dalam baptisan air. Ada amin saudara?

Pada waktu kita dibaptiskan dalam air, kita mengindentikkan diri, kita dianggap ada di dalam Kristus, ikut mati dikuburkan bersama dengan Kristus. Itu rohaninya yang terjadi. Waktu dibaptis kita masuk dalam air tapi secara rohani kita diidentifikasikan mati dengan Kristus. Saya kasih contoh.

Saya dikandung oleh ibu saya 9 bulan lebih 10 hari, kurang lebih. Pada waktu ibu saya mengandung saya sudah 7 bulan, tiba-tiba - ini umpama - ibu saya meninggal. Pada waktu ibu saya meninggal, saya yang di dalam ibu saya ikut meninggal. Saudara yang di dalam Kristus pada waktu Yesus mati dan dikuburkan, kita yang ada di dalam Kristus, ikut mati. Bisa mengerti? Tiba-tiba dengan kemujizatan Tuhan, ibu saya yang sudah meninggal itu dia bangkit kembali, ini contoh. Begitu dia bangkit, bukan hanya dia bangkit tetapi kandungannya juga bangkit. Demikian juga dengan Yesus. Begitu Yesus bangkit, saudara dan saya dibangkitkan karena kita ada di dalam Kristus.

Nah, kita mengerti sekarang ayat 1, Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus. Berarti kita sudah dibangkitkan bersama dengan Kristus.

Saya mau tanya, waktu Yesus bangkit Dia berbuat apa? Dia bilang sama Maria Magdalena: Jangan jamah dulu Aku, Aku belum pergi kepada Bapa. Tetapi setelah Dia turun, Dia bilang: Coba masukkan tanganmu - sama Tomas - di dalam lobang tangan-Ku. Masukkan di rusuk-Ku. Inilah Aku.

Ada yang dikerjakan oleh Yesus. Nah, sebagai kita di dalam Kristus, ada yang harus dikerjakan oleh kita. Kita buka Galatia

2:19 Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus;
2:20 namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.

Sekarang kita mengerti, setelah dibangkitkan ada pekerjaan yang harus dikerjakan. Kita lihat ayat 1.

3:1 Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah.

Sebagai orang yang percaya, sebagai umat ketebusan Tuhan, kita diminta kalau kita sudah dibangkitkan bersama dengan Kristus, untuk mencari perkara-perkara yang di atas di mana Kristus ada, untuk duduk di sebelah kanan Allah.

Yesus duduk di sebelah kanan Allah, itu artinya Dia ada pada posisi otoritas. Cari perkara-perkara otoritas dari Tuhan. Cari perkara yang di atas. Kita adalah umat yang dari atas. Kita dipenuhkan dengan Roh Kudus yang dari tempat yang maha tinggi.
Kita dilahirkan dari atas. Secara manusia dilahirkan oleh ibu kita tetapi secara roh kita dilahirkan dari atas. Dalam Yohanes

1:12 Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya;
1:13 orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.

Saudara dilahirkan dari Allah, saudara dilahirkan dari sorga. Itu sebabnya Kolose 3 berkata, cari dong perkara yang di atas. Dalam Matius 6:33, Tuhan Yesus berkata:

6:33 Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.

Itu tugasnya. Tapi kita terbalik. Kita cari dulu segala sesuatu yang kita butuhkan kalau ada waktu, baru kita cari kerajaan Allah. Terbalik. Yang Tuhan suruh kita tidak kerjakan, yang Tuhan nggak suruh kita kerjakan. Yang Tuhan suruh bikin nomor 1 kita bikin nomor 2, yang Tuhan suruh bikin nomor 2 kita bikin nomor satu. Karena apa? Karena kita nggak mengerti kebangkitan Tuhan Yesus, Paskah itu untuk apa. Cari perkara yang di atas, cari perkara yang rohani, cari dulu kerajaan Sorga. Dengan segala kebenarannya. Maka segala sesuatunya akan ditambahkan kepadamu. Ada haleluyah, saudara? Segala sesuatu yang kita perlu akan ditambahkan kepada kita.

Jadi tugas kita mencari perkara yang di atas. Setelah tahu kita dibangkitkan bersama dengan Kritus kita cari perkara yang di atas.

Yang kedua,  

3:2 Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.

Tahun 69 datang keluarga di sekolah alkitab Beji. Saya waktu itu belajar dan mereka nyanyi  Oh, tadi pagi ku bangun .. Pikir Yesus .. Oh, tadi pagi ku bangun .. Pikir Yesus .. Oh, tadi pagi ku bangun .. Pikir Yesus .. Haleluyah .. Haleluyah .. Haleluyah. Tadi pagi saudara mikir apa? Nggak usah jawab. Pikir marah sama seseorang ... saudara belum dibangkitkan. Tadi pagi saudara pikir apa? Pikir takut menghadapi hari depan? Saudara belum dibangkitkan. Tadi pagi saudara pikir apa? Pikir bagaimana saya harus dagang. Aduh, itu sesuatu yang kita tidak usah pikirkan menurut Matius 6. Jangan pikir apa yang kamu makan, apa yang kamu minum, apa yang kamu pakai ... itu dituntut oleh orang kafir. Pikirkanlah perkara yang di atas. Ada haleluyah?

3:2 Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.

Sorga itu saudaraku datang dari kata syemayim. Dari kata syemayim datang istilah Tuhan bersemayam di dalam kerajaan Sorga. Langit itu syemayim, bumi itu erets.

Tapi bumi itu terbatas. Pikirkanlah sesuatu yang di sorga ... yang syemayim, yang tidak terbatas.  Murid-murid diajar berdoa, berdoalah Bapa kami yang di sorga, dipermuliakanlah nama-Mu. Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi - yang terbatas -,  seperti di sorga - yang tidak terbatas -.

Jadi kalau kita dibangkitkan bersama dengan Tuhan, diajarlah memikirkan perkara yang tidak terbatas. Pikirkanlah perkara yang tidak terbatas. Pikirkanlah perkara yang mustahil. Jangan bercita-cita yang di bumi, yang biasa-biasa saja tapi tarohlah ... Bung Karno bilang, cita-cita itu setinggi bintang di langit. Tetapi Paulus katakan, pikirkanlah perkara yang mustahil. Coba kita mundur ke belakang, jemaat mundur sampai tahun 84. Tidak ada pemikiran kita bakal punya Yayasan Kabar Baik, kita punya Sekolah SD, kita punya Sekolah Alkitab, kita punya Sekolah Tinggi Teologi. Pada tahun 84, kita tidak pernah berpikir punya gereja seperti ini. Tapi inilah Tuhan beri kalau kita memikirkan yang tidak mungkin Tuhan jadikan yang tidak mungkin itu jadi mungkin.

Maka calon hamba Tuhan belajar memikir hal yang besar, yang tidak terbatas. Bukan yang di bumi. Yang berikut ayat 3

3:3 Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.

Kata tersembunyi memang dalam bahasa Inggris disembunyikan, hide.

Saya ingat pendeta Bolang waktu di Bandung khotbah. Pendeta Bolang yang tua, yang sudah meninggal. Waktu bikin KKR, itu tukang-tukang beca bawa-bawa rantai sepeda mau bunuh sama Bolang. Dia ada di mimbar. Mana Bolang, mana Bolang? Mereka jalan, naik ke atas panggung, pake tangga. Bolang mana, Bolang mana? Naik ini tukang beca puluhan mau cari Bolang. Oom bolang turun. Seperti dibutakan, mereka nggak lihat. Sampai di panggung. Oom Bolang sudah di mobil. Waktu lihat ada orang sakit sembuh, orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, mereka marah-marah, mau bunuh Bolang. Tapi Tuhan sembunyikan. Saya yakin loh Tuhan itu bisa menyembunyikan.

Itu sebabnya saudara, apapun yang terjadi, kalau kita punya keyakinan, kita disembunyikan oleh Tuhan di dalam Allah. Ayat ke-4

3:4 Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamupun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.

Jadi indah sekali kebangkitan Yesus. Coba kita kembali dari mula-mula. Begitu kita dibaptis, kita mati bersama dengan Yesus  - menurut Roma 6:3 -, dikuburkan bersama dengan Kristus, dibangkitkan di dalam kuasa kemenenangan. Itu sebabnya orang yang mengerti, begitu dia keluar dari baptisan air rokoknya hilang, narkobanya hilang, kelakuan semuanya hilang - dia dibangkitkan kepada satu hidup yang baru, yang penuh dengan kemuliaan kemenangan di dalam Kristus Yesus. Sudah bangkit. Lalu karena dia bangkit, dia mulai memikirkan perkara yang di atas, dia mencari hal-hal yang rohani. Bukan lagi yang duniawi. Dunia tidak memuaskan dia, dunia tidak membuat dia senang. Uang bukan lagi urusan dia, dia tidak cari lagi hal-hal yang demikian, dia hanya memikirkan perkara yang di atas. Dia tidak akan rebutan warisan, dia tidak akan rebut minta bagian ... itu warisan dunia yang akan lenyap. Kita mencari perkara yang tidak akan lenyap, kita mencari perkara-perkara yang di sorga.

Lalu dengan kasih Tuhan dia menyembunyikan kita bersama dengan Kristus di dalam Allah sampai nanti kedatangan Yesus yang kedua kali dinyatakan kelak, kita ikut menyatakan diri bahwa kita sudah diselamatkan di dalam Kristus Yesus, bisa bilang amin?

Oom, buktinya apa orang itu sudah bangkit bersama dengan Kristus? Ada buktinya nggak? Ada. Buktinya apa? Kalau main layangan putus tali kamahnya, muter. Kenapa muter? Pegat tali kamahnya. Putus. Ada buktinya. Bagaimana buktinya main layangan itu kalah saya? Ngoleang. Itu buktinya layangan kita sudah putus. Bagaimana buktinya kalau orang kristen sudah menang di dalam Kristus ? Nah, ayat berikutnya.

3:5 Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala,
3:6 semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka).
3:7 Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya.
3:8 Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu.
3:9 Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya,
3:10 dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya;
3:11 dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.

Perhatikan saudara. Tanggalkanlah - itu berarti baju yang dibuka. Kau ubah kain kabungku. Saudara, pakaian dunia ini pakaian kain kabung. Hidup di dunia ini lembah air mata. Kau buka kain kabungku .. Kau ganti jubah pujian. Buka manusia yang lama. Yang penuh geram, mendustai, penuh pecabulan, kejahatan, keserakahan. Kita suka ngolok orang yang nyembah berhala, yang nyembah patung. Tanpa sadar kita serakah. Justru waktu kita serakah, rebutan warisan, sama kita menyembah berhala. Yang dibenci dihukum oleh Tuhan kepada orang durhaka. Buka itu karakter tabiat. Serakah itu. Buka. Ganti dengan jubah pujian. Bersatu dengan sesama.

Yang hebat ini pakaian yang baru terus menerus diperbaharui. Nggak usah beli lagi. Besok saudara pakai, eh, kenapa baru ya. Terus menerus diperbaharui.

Saudaraku, banyak jemaat sekarang bahkan ada orang kaya tidak mau pakai pakaian dua kali. Tidak mau. Asal sudah pakai baju sekali, sudah, out. Pakai sekali, buang. Tapi pakaian dari Kristus yang baru, tiap hari dibaharui. Begitu saudara pakai, eh, baru. Orang lain lihat, kamu punya baju baru ya. Ini yang kemarin. Dia tidak tahu diperbaharui oleh Kristus. Saya kalau ada toko yang jual pakaian yang tidak rusak-rusak dan selalu baru nggak usah disetrika, nggak usah dicuci, selalu baru, kita mau beli itu. Mahalpun kita beli. Baru selalu.

Saudara mau hidup baru di dalam Kristus?  II Korintus

5:17 Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.

Pakaiannyapun baru terus. Yang lama - marah, dendam, geram, percabulan ... semua sudah berlalu.

Yesus sudah bangkit, saudara, tetapi pertanyaannya apakah Dia bangkit di dalam diri kita? Mari kita berdiri bersama.

-- o --

Minggu pagi, 15 April 2007

ROH MENGAMPUNI

Mari kita buka Alkitab kita dalam Injil Markus

11:25 Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu."
11:26 (Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.)

Dari ayat ini kita mempelajari satu hal yang dianggap tidak penting tetapi adalah hal yang sangat penting. Pengampunan adalah jembatan dari dunia menuju sorga. Perhatikan itu. Dan di sinilah banyak kesalahan dari orang kristen. Dia sudah puluhan tahun ikut Tuhan tapi dia tidak punya roh pengampunan. Kalau kita mempunyai roh pengampunan, maka kita tidak akan membicarakan kesalahan, kekurangan orang ... walaupun dia sudah mengecewakan kita. Kita tidak akan keluar satu patah kata mengatakan pada orang cerita ini.

Karena dari ayat ini kita tahu pengampunan lebih tinggi dari doa. Banyak orang menganggap doa itu nomor satu, doa itu memindahkan gunung, dan sebagainya. Tidak. Kalau saudara berdoa, bernubuat, tapi hatimu mempunyai kebencian sama orang lain, tidak mengampuni, apa kata firman Allah? Tinggalkan doamu, bikin betul dulu sama orang itu, ampuni dulu orang itu. Lalu kamu kembali untuk berdoa.

Sangat sederhana tapi sangat sukar dilakukan. Kita lebih senang memilih berdoa berjam-jam di kaki Tuhan, asal roh tidak mengampuni ini kita boleh pelihara baik-baik. Kita tidak ada kesulitan untuk berdoa berjam-jam. Kita tidak ada kesulitan untuk berdoa berlutut di kaki Tuhan. Tapi pada waktu yang sama kita memelihara roh tidak mengampuni. Mengampuni lebih tinggi dari doa, sebab Tuhan nggak perlu doa. Dikatakan, jika kamu berdiri untuk berdoa ampunilah dulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang. Seseorang. Kita cuma salah sama satu orang. Kita cuma antipati sama satu orang, kita tidak suka sama satu orang. Ampuni dulu. Kerjakan dulu pengampunan itu. Jangan ngomong doa. Kira-kira Tuhan ngomong begitu.

Kamu mau datang berdoa kan? Berdoa itu kepada-Ku. Jangan berdoa, ampuni dulu. Jadi pengampunan jauh lebih tinggi dari doa. Ada orang berdoa dengan puasa, ada orang berdoa dengan bahasa Roh, ada orang berdoa sendirian di atas gunung, menyendiri, ada orang berdoa dengan iman. Tidak ada pengampunan, semua itu luntur!

Betapa mulianya, betapa indahnya pengampunan ini. Saya akan beri gambaran betapa indahnya pengampunan itu. Betapa indahnya pengampunan dari Yesus sampai Saulus seorang pembunuh - pembunuh orang kristen, pembunuh Stefanus, pembenci orang kristen - diampuni oleh Yesus. Sehingga dia menjadi rasul dari segala rasul yang hebat. Itu hebatnya pengampunan.

Pengampunan yang membuat Daud yang membunuh suami orang, mengambil istrinya, menumpahkan banyak darah. Tapi ketika dia minta ampun, Tuhan itu ampuni Daud. Sampai Dia katakan, tidak ada orang seperti Daud yang Aku sayangi. Betapa indahnya pengampunan ketika seorang yang tertangkap basah melacur, Yesus bilang: Tidak adakah orang yang menghukum kamu? Tidak ada. Kalau begitu Akupun tidak akan menghukum kamu. Tapi jangan berbuat dosa lagi. Apa tandanya orang kristen? Salib. Apa artinya salib? Pengampunan. Amin?

Betapa mulianya pengampunan. Itu disebutkan juga oleh ayat yang berikutnya,

Ayat 26, Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.

Saudara boleh berdoa semalam-malaman, berdoa kepala di bawah kaki di atas, berdoa nungging, berdoa mengatakan bahasa yang indah-indah, menyindir dalam doa, menyindir orang, menyindir kesalahan orang dalam doa. Berarti itu saudara tidak mengampuni. Apa tandanya? Bapa-Mu di sorga tidak akan mengampuni kamu.

Betapa indahnya mengampuni. Betapa indahnya, baiknya, manisnya pengampunan itu. Kita mau tahu bagaimana kita bisa mengampuni orang. Seseorang tidak mungkin bisa mengampuni orang kalau dia tidak mengasihi orang. Kalau kita tidak bisa mengasihi orang lain, omong kosong kita bisa mengampuni. Saya mengampuni pak, tetapi saya tidak mau ngomong lagi sama dia. Itu bukan pengampunan. Saya mengampuni pak, tetapi saya tidak akan melupakan. Itu bukan pengampunan.

Pengampunan adalah kita mengasihi orang itu begitu besar sampai kita mengampuni kekurangan dia, mengampuni kesalahan dia, mengampuni keteledoran dia, mengampuni kelalaiannya, mengampuni kealfaannya. Bolah saya katakan begini, kalau saudara memiliki roh pengampunan, saudara membawa sorga sepanjang jalan ke sorga. Betapa indahnya mengampuni. Sekarang kita meningkat lebih tinggi. Betapa indahnya mengasihi. Nggak mungkin kita mengampuni kalau kita tidak mengasihi.

Seorang ayah bisa pukul anaknya dengan rotan. Tapi setelah dia pukul dengan rotan, dia tetap mengasihi anaknya. Dia tetap mengasihi. Dihukum karena ada kesalahan. Pengampunan itu bukan berarti kesalahan dibiarkan. Pengampunan itu bukan berarti saudara melanggar batas-batas firman Allah, melanggar peratuan dibiarkan. Tidak. Orang yang berdosa akan mengalami ada hukumannya. Tapi tidak menghilangkan pintu hatinya Tuhan, Dia mengampuni. Lihat saja anak terhilang.

Anak terhilang itu sudah membawa warisan. Anak terhilang itu sudah mendoakan bapanya cepat mati karena dia perlu warisan. Anak terhilang itu menjauh dari bapanya. Anak terhilang sudah pergi meninggalkan bapanya. Dia hidup dengan berdosa, dengan berfoya-foya. Sampai dia akhirnya tersungkur di tempat makanan babi. Tidak. Mungkin kalau orang tua biasa sudah akan bilang kurang ajar itu anak, bikin malu orang tua, dan sebagainya, dan sebagainya.

Tetapi ketika anak itu compang-camping pulang ke rumah. Masih dari jauh bapanya sudah lihat. Dia berlari, memeluk anaknya. Tanpa menjawab perkataan anaknya, jangan jadikan saya anak, jadikan saya pembantu rumah, jadikan saya kacung, jadikan saya budak, asal boleh saya kembali. Saya sudah berdosa kepada sorga dan kepada bapa. Nggak dijawab. Ambil jubah yang terbaik. Tuh, pengampunan itu begitu. Pengakuan orang mengaku dosa, kita tidak ada. Bawa jubah, pakaikan kepada anakku yang telanjang ini. Tuh, pengampunan itu begitu.

Ketika Tuhan melihat Adam dan Hawa, dia bertelanjang, ketahuan makan buah terlarang. Marah Tuhan. Ada hukuman. Dia telanjang. Tetapi itu kasihnya Bapa, Dia mengampuni, Dia ambil kulit domba. Berarti ada domba yang disembelih. Dia tutupi ketelanjangan Adam dan Hawa.

Mengampuni itu menutupi ketelanjangan, kekurangan orang lain. Bukan diceritakan ke sana, ke mari. Ah, saya kecewa sama dia. Ah, saya kecewa sama ini. Dia begini, begini, begini. Dia begini, begini, begini. Keliru. Keliru kita. Betapa indahnya pengampunan. Betapa mulianya pengampunan. Betapa tingginya pengampunan karena dia adalah hasil yang tidak bisa dibantah dari orang yang mengasihi. Dalam Matius

5:43 Kamu telah mendengar firman: Kasihilah sesamamu manusia dan bencilah musuhmu.
5:44 Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.

Hebatnya ini pengampunan adalah hasil dari mengasihi. Bahkan yang paling tinggi, yang paling mulia: Mengasihi musuh. Kita belum punya musuh, kita satu saudara seiman, kita satu gereja, satu Tuhan, satu baptisan, satu Roh, satu gembala, kok kita bisa tidak mengasihi? Itu saya bingung. Sedangkan Tuhan Yesus berkata mengajarkan kita untuk mengasihi musuh.

Bagaimana kita mau naik kelas, kalau mengasihi saudara saja tidak becus? Bagaimana kita mau mengasihi sesama manusia di kiri kanan kita ... sesama saudara, kita jadi Kain membunuh Habel, yang senior membunuh yang yunior.

Saudara tahu nggak, bahwa orang yang memotong-motong mayat. Orang kristen, pelajar, masih SMP, diculik, dua gadis, dipotong-potong, mutilasi, dibuang. Itu ketangkap, ada tiga orang. Diadili di Jakarta. Kemarin di televisi orang tua dan keluarga yang dipotong ini mengampuni mereka. Bayangkan saudara, musuh diampuni. Itu hebat. Saya bilang, orang itu sudah mencapai tingkatan yang dikatakan oleh Yesus mengampuni musuh. Orang yang membunuh itu tetap harus dihukum oleh karena undang-undang pemerintah. Tapi dia sudah diampuni. Kalau kita punya kasih, kita bukan hanya mengampuni. Kita tidak akan menggosipkan orang karena kita mengasihi, karena kita mengampuni.

Ada satu kalimat begini: Orang kristen itu lebih mulia mengasihi dari pada dikasihi. Kita seringkali terbalik. Kita berusaha begitu rupa supaya kita dikasihi orang. Tapi lupa yang tertinggi, mengasihi orang. Padahal kata Tuhan, kasihilah. Dia tidak bilang, berusahalah kamu dikasihi orang. Tidak. Kasihilah. Kita yang berusaha. Sebab Tuhan tahu, di belakang kasih ada pengampunan. Di belakang pengampunan ada sorga. Sebab itu pengampunan adalah jembatan dari dunia menuju sorga.

Kalau kita mau mendendam, kita yang rugi. Kalau kita mengata-ngatai orang, nanti saudara rasa ada sesuatu yang nggak enak di hati kita. Tetapi kalau kita tidak pernah ngata-ngatain orang, kalau kita mengasihi orang, lebih banyak salah orang itu, lebih kita mengasihi, kita ganda dengan senyum saja. Kita mengasihi, kita tidak mau dinajiskan. Kita jadi seperti Daniel. Raja dunia, Nebukadnezar, mau kasih makanan dan minuman supaya kita najis. Dunia juga mengajarkan makanan minuman kebencian supaya kita benci. Biar dia orang kristen nggak apa-apa asal dia benci saja, kita menang, kata iblis.

Justru kemenangan orang kristen bukan waktu membenci, tapi waktu mengasihi. Bukan membenci, kemenangan kita waktu mengampuni. Begitu hebatnya pengampunan, begitu tingginya pengampunan sampai pintu sorga saja tertutup atau terbuka karena kita mau mengampuni atau tidak mengampuni. Masih dalam Matius 

5:21 Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.
5:22 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.
5:23 Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,
5:24 tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.
5:25 Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara.
5:26 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.

Saya mau kasih tahu, hakim itu adalah Yesus. Dia adalah Hakim di atas segala hakim. Pembantunya itu Roh Kudus. Baik hakim maupun Roh Kudus, baik Yesus maupun Roh Kudus, tidak suka punya rakyat yang tidak mengampuni. Berdamai, lekas. Sementara ketemu di jalan, katanya. Jalan itu adalah Yesus sendiri: Akulah jalan, kebenaran, dan hidup. Ketika kita bersama dengan Yesus, berjalan dalam Yesus ... belum masuk sorga, masih di dunia, lekas berdamai. Supaya jangan orang yang dibikin semena-mena itu ngadu sama Tuhan.

Oh Tuhan, saya kenapa dibenci sama orang itu? Kenapa saya dibenci sama broer itu? Kenapa saya diomongin sama zus itu, Tuhan? Ngadu dia sama Aku. Hakim kasih tahu sama pembantunya, Roh Kudus: Roh Kudus, bawa orang itu - saudara - yang kita berdosa, tidak mengampuni - masukkan dalam penjara. Hati saudara tidak ada damai. Kalau orang kristen sampai dipenjara oleh Roh Kudus - Roh Kudus itu bukan hanya lemah lembut, Dia juga keras. Kalau kita membenci orang, Dia keras kepada kita.

Kita makan firman Tuhan rasanya nggak enak. Makan firman yang seperti manna, manis seperti madu, rasanya kaya nasi aking, nggak enak. Di mana saudara dengar khotbah, nggak enak. Apapun saudara makan, nggak enak. Saudara berdoa, itu langit kaya tembaga. Lalu saudara mulai salahkan kebaktian. Saudara mulai salahkan pengkhotbah. Saudara mulai salahkan worship leader. Padahal persoalan ada di dalam kita. Seringkali kita begitu. Ketika persoalan, dosa ada di dalam kita, kita nyalahkan orang. Kita nyalahkan tetangga. Kita nyalahkan orang luar. Kita nyalahkan cuaca. Kita nyalahkan pergaulan orang lain.

Padahal persoalannya di dalam kita, tidak mengasihi, tidak mengampuni. Kalau harus dipilih - harus dipilih - mengasihi atau dikasihi? Orang kristen yang rendah rohaninya, dia pasti pilih dikasihi. Tapi orang kristen yang tinggi rohaninya, dia memilih mengasihi. Dia nggak peduli dia dikasihi apa nggak. Yang dia mau, dia mengasihi sesama manusia. Amin? Betapa mulianya kita mengasihi. Dalam surat I Petrus 

2:11 Saudara-saudaraku yang kekasih, aku menasihati kamu, supaya sebagai pendatang dan perantau, kamu menjauhkan diri dari keinginan-keinginan daging yang berjuang melawan jiwa.
2:12 Milikilah cara hidup yang baik - Bahasa Inggris: Milikilah cara hidup yang terhormat - di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka.
2:13 Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi,
2:14 maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik.
2:15 Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh.
2:16 Hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Allah.
2:17 Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah, hormatilah raja!

Disisipkan oleh Tuhan, mau hidup yang terhormat? Kasihi sesama! Betapa manisnya kalau saudara ke gereja, ketemu di pintu, ketemu di mana, saudara saling menyapa, saudara saling mengasihi, saudara saling menghormat sebagai orang kristen. Karena pamong desa saja katanya harus dihormati karena Allah. Bukan hanya Bupati, RT, RW, kita musti hormat karena Tuhan. Apalagi sesama manusia. Kasihilah, itu perintah. Kasihilah saudaramu. Kenapa? Ini problemnya, seringkali kita tidak mengasihi. I Petrus

3:8 Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati - Sayangi, saudara. Kita kan orang kristen kan minoritas di Indonesia. Minoritas. Masa sudah minoritas, kita saling cakar. Salah-salah sedikit, ya sudah lupakan, jangan diomong-omongin lagi. Apalagi saudara sudah lama ikut Tuhan. Saudara harusnya sudah dewasa. Berikutnya, -
3:9 dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat - Ada rahasia besar. Saudara mau memperoleh berkat? Apa kata ayat firman Allah? Bagaimana cara saya memberkati orang? Mengasihi, menyayangi. Aduh, orang itu rasa diberkati. Aduh, bapa itu ramah ya, ibu itu ramah ya. Sebab: -
3:10 "Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu.
3:11 Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, ia harus mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya.
3:12 Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat."

Apakah kalau kita membenci orang, dendam sama orang, mengata-ngatai orang, kita patut disebut orang benar? Jangan jawab. Apakah saya sebagai orang kristen, kalau membenci orang, dendam kepada seseorang, marah kepada seseorang, ngomongin, ngerumpiin orang, mengata-ngatai, dan sebagainya, saya patut disebut orang benar?

Mata Tuhan tertuju kepada orang benar - yang mau mengasihi, yang mau mengampuni. Tertuju. Tertuju itu diawasi. Jangan sampai celaka, jangan sampai nggak diberkati. Tertuju terus. Tapi Dia melawan orang yang jahat.

Saya punya kerinduan, pagi hari ini, saudara semua dalam golongan orang yang benar. Sebab mata Tuhan akan tertuju kepada saudara. Kalau saudara sanggup mengatasi ini halangan, ulangan umum, ujian ini, yaitu saudara tidak lagi membenci tetapi selalu mengasihi, saudara tidak perlu orang mengasihi saudara. Saudara tidak peduli orang itu mau nanya sama saudara.

Satu kali buka puasa, hari rabu, saya duduk selalu di bawah tangga. Aduh Tuhan, saya bilang, kok, saya kecewa. Masa dua orang, tiga orang yang nanya sama saya. Kan saya gembalanya, Tuhan. Wah, ditegor saya sama Tuhan: Lebih penting kamu mengasihi dari pada dikasihi. Lebih penting kamu memperhatikan dari pada kamu diperhatikan. Buang perasaan itu jauh. Lebih baik kamu memperhatikan dari pada ingin diperhatikan. Lebih baik kamu menghormati dari pada kamu ingin dihormati. Lebih baik kamu mengasihi dari pada kamu dikasihi. Malu kalau sampai kamu diampuni sama orang. Lebih baik kamu mengampuni.

Pagi hari ini, Dia yang berfirman ada di tengah-tengah kita. Dia berjalan bukan di antara gong dan gang nya, lorong-lorong kursi, memeriksa saudara, tidak. Dia berjalan di antara hati saudara! Maukah saudara serahkan kebencian, kemarahan, dendam kepada Tuhan. Dan ketika kita makan perjamuan kudus, kita tahu kita sudah satu dengan Tuhan. Kita satu dengan sesama. Tidak lagi ngomong. Tidak lagi banyak cerita. Yang kita hanya cerita adalah tentang Yesus. Dari pada kecape-cape mulut kita ngomongin orang, mari kita cerita tentang Yesus.

Saya tidak akan larang, kalau saudara mau ngomong tentang Yesus, bersaksi tentang Yesus, saya mau dorong. Lekas ngomong tentang Yesus, bicara tentang Yesus kepada sesama. Ayo, kita berdiri bersama-sama. Dia ada di tengah-tengah kita.

-- o -- 

 _________________________ 

 

(Kembali ke Halaman Utama)

_________________________