Khotbah Family Camp VII - 2004

Gereja Pentakosta di Indonesia - Cianjur

Jalan Hasyim Asyari 75 Cianjur 43214. Tel (62-263) 261161 - Indonesia

Tema: keselamatan Total dalam Rumah Tangga

           Cipanas, Setia Hotel, 16-17 Agustus 2004 

16-17 Agustus 2004  

Kebaktian 1/4

Haleluyah. Nah saudara-saudara, pada dua hari satu malam ini, kita akan banyak belajar dari Firman Allah mengenai tiga macam berkat. Kembali kepada kita punya tema dari kemah, family camp, kemah keluarga, pada sore hari ini adalah mengenai tiga macam berkat, yaitu berkat secara rohani; yang kedua, berkat secara jasmani; dan yang ketiga, berkat di dalam kesehatan tubuh kita.

Tetapi saya tidak akan beberkan dengan satu per satu itu; saya akan bicara dari doa Bapa Kami. Dan bagian saya, saya  tidak tahu berapa kali, tapi saya akan usahakan supaya Doa Bapa Kami ini akan selesai. Mari kita semua buka Matius pasal yang ke 6. Saudara yang bawa catatan, harap mencatat. Matius 6, kita akan membaca ayat 9-13.

6:9. Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,
6:10 datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.
6:11 Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya
6:12 dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
6:13 dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.)

Saudara-saudara, Doa Bapa kami ini belum pernah saya akan terangkan seperti pada malam hari ini. Tidak di pendeta juga, tidak di mana-mana, tidak di Cianjur, tidak di Jakarta - ini baru keluar dari oven. Doa Bapa kami ini merangkum segala bidang kehidupan dari kita, baik secara rohani, materi, dan segala bidang kehidupan. Saudara-saudara, kita akan mulai dengan yang pertama, yaitu Bapa kami. Coba bersama-sama kita bicara Bapa kami. Bapa kami. Pada waktu kita berbicara Bapa kami, di sana kita melihat sesuatu sudah terbuka. Ini boleh saudara catat:

1. Fellowship atau hubungan. Hubungan yang terjadi ketika kita berbicara Bapa Kami adalah hubungan yang bergambarkan salib. Bapa ... Kami. Kita menyebut Bapa tetapi pada saat yang sama, kita berkata kami - bukan saya sendirian tetapi kami. Jadi ketika kita berbicara Bapa Kami, kita sedang berbicara hubungan antara kita dengan Bapa dan kita dengan sesama kita. Ketika kita sedang berdoa Bapa Kami, kita berbicara tentang apa, saudara? Hubungan. Hubungan antara kita dengan Tuhan, Bapa dan hubungan kita dengan sesama, kami ini.

Kita akan lihat pertama-tama, saudara-saudara, mengenai hubungan kita dengan Bapa dahulu. Ketika kita berbicara dengan Bapa, maka kita selalu ingat ini adalah kepala keluarga. Maka ketika kita berbicara doa Bapa Kami, kita sedang berbicara tentang keluarga kerajaan surga.

Dan yang pertama di dalam kata keluarga itu adalah adanya persekutuan, persatuan kasih. Jadi nanti kita makan malam, tidak berebutan. Jadi kita mengetahui persatuan dan kasih. Apa yang kita belajar ketika kita bicara Bapa? Apa yang kita belajar ketika kita berbicara Bapa? Persatuan dan kasih! Bahwa kita ada di dalam satu kesatuan. Nah, kasih yang kita sedang berbicara ini adalah dua pihak, yaitu, pertama, kasih kita kepada Bapa, kepada Tuhan. Jadi jangan kita datang kepada Bapa hanya kita datang untuk keperluan-keperluan semata-mata. Tidak. Kita mengasihi Bapa sebagai Tuhan. Dan sebaliknya, kasih Tuhan kepada kita sebagai anaknya. Harus ada reciprocate, dua arah kasih. Jangan kita minta Tuhan terus mengasihi kita. Tidak. Dengan mengatakan kita Bapa kepada Tuhan, itu kita harus mengerti, kita harus mengasihi Dia. Dan ketika kita mengatakan Bapa, sebaliknya kita harus yakin bahwa Bapa yang sama yang kita kasihi itu akan mengasihi kita. Ada haleluyah, saudara-saudara? Ini baru kita berbicara tentang Bapa. 

Di dalam perkataan Bapa ini, kita belajar lima hal. Yah, lima hal. Dari nomor satu tadi, kita belajar lima hal. Yang pertama,

a. Yaitu kita harus hormat kepada pribadi-Nya. Pribadi-Nya.

b. Kita harus mempunyai antusias atau semangat untuk kemuliaan-Nya. Jadi kalau kita ada di gereja itu, kita musti antusias. Jangan mau-mau nggak-nggak, jangan ngantuk di gereja. Antusias. Baik menyanyi, maupun baca alkitab, berdoa, bersorak ... itu harus antusias. Karena ini urusan Bapa.

c. Kita harus taat kepada kehendak Bapa.

d. Kita harus tunduk kepada hajaran, bukan ajaran; hajaran, cemeti, pukulan, dari disiplinnya Bapa.

e. Kita harus patut memantulkan karakter-Nya, memantulkan kepribadian-Nya Tuhan.

Kita mau lihat yang pertama mengenai hormat kepada pribadi-Nya. Maleakhi pasalnya yang ke 1. Dalam Maleakhi pasal 1, kita akan melihat bagaimana kita harus datang kepada Tuhan. Maleakhi

1:6. Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepada-Ku itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepada-Ku itu? firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina nama-Ku. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menghina nama-Mu?"
1:7 Kamu membawa roti cemar ke atas mezbah-Ku, tetapi berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami mencemarkannya?" Dengan cara menyangka: "Meja TUHAN boleh dihinakan!"
1:8 Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Apabila kamu membawa binatang yang timpang dan sakit, tidakkah itu jahat? Cobalah menyampaikannya kepada bupatimu, apakah ia berkenan kepadamu, apalagi menyambut engkau dengan baik? firman TUHAN semesta alam.
1:9 Maka sekarang: "Cobalah melunakkan hati Allah, supaya Ia mengasihani kita!"  - Sampai di situ saja -

Jadi ini yang pertama, kita harus menghormati Dia sebagai Bapa. Jadi jangan seenaknya kita nyanyi Bapa ya Bapa, aku ini anak-Mu, tetapi nggak ada hormat kepada Dia. Lalu Tuhan berkata, imam-imam nantang, dengan cara bagaimana kami harus menghormat? Kamu menghina Aku dengan cara membawa roti basi, membawa sesuatu yang mesum, membawa sesuatu yang basi.

Saudara-saudara, ada roti di dalam rumah Tuhan, itu harus diganti. Setiap hari harus diganti. Di hadapan Tuhan, roti, lehem panim, roti pertunjukkan itu harus diganti. Tuhan tidak suka yang basi - Dia ingin yang terbaik! Tapi seringkali kita, kita kan imam-imam di dalam 1 Petrus pasal 2, kita disebut imam-imam yang rajani. Kita imam-imam seringkali membawa roti basi. Kan ada nyanyian, Maukah kau jadi roti ... Yang terpecah bagi-Ku ... Maukan kau jadi anggur yang tercurah. Kita ini roti.

Coba periksa hidup kita. Coba, sebagai imam-imam di dalam rumah tangga, imam-imam di dalam keluarga. Apakah kita sanggup setiap hari membawa roti yang segar? Membawa hidup yang tidak mesum? Membawa hidup yang baik, yang kudus, yang suci di hadapan Tuhan? Ketika kita berlutut di hadapan Tuhan dan berdoa, Bapa kami ... apa kita ini kudus? Apa kita ini suci? Waktu kita berkata Bapa kami, apakah roti itu segar? Apakah roti itu basi?

Salah satu teguran dari Tuhan kepada jemaat Efesus dalam kitab Wahyu: Kamu meninggalkan cinta yang mula-mula. Apa artinya cinta yang mula-mula? Cinta yang mula-mula itu yang fresh, yang segar, yang luar biasa. Hujan angin tetap ke gereja. Membaca alkitab dengan antusias. Berdoa dengan antusias. Berbuat sesuatu untuk Tuhan dengan antusias. Menyanyi bukan untuk dipuji. Menyanyi tapi untuk antusias kepada Tuhan. Apa saja yang kita bermain untuk Tuhan itu antusias kepada Tuhan.

Kita membuat apapun yang terbaik untuk Tuhan sebagai sesuatu yang segar. Ini kita hormat kepada Dia. Di manakah hormatmu kepada-Ku, kata Tuhan, dalam jaman Maleakhi. Di mana hormatmu? Kembali kita baca Matius 15. Dalam Matius pasal 15, ya, inilah yang Tuhan paling tidak suka, yaitu ibadah dengan mulut saja. Matius 

15:7 Hai orang-orang munafik! Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu:
15:8 Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku.
15:9 Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia."

Jadi yang dibawa kepada Tuhan bukan sesuatu yang segar, bukan sesuatu yang baik tetapi sesuatu yang basi, sesuatu yang tidak enak. Sering saya dengar yang doa begini: Tuhan, sisa hidup saya, aku serahkan kepada-Mu. Aduh, Tuhan dikasih sisa. Waktu muda, waktu ganteng, waktu cantik ... untuk dunia. Mabuk-mabukan, berbuat dosa. Nanti kalau sudah kena sakit penyakit, sudah pucat pasi, banyak sakit, baru pada Tuhan. Sisa hidupku untuk Engkau, Tuhan. Kalau sudah sisa untuk Tuhan ... dudah bongkok, batuk, berdahak, saudara-saudara, mulai yang sisa kasih sama Tuhan. Nanti kalau nggak dapat kedudukkan, kalau nggak dapat ini, nggak dapat itu, cemberut mukanya, panjang. Dengan muka panjang, kita memberi sesuatu yang basi kepada Tuhan.

Ini yang pertama, kita harus ada hormat kepada-Nya. Mari, saya kasih ilustrasi, pendek saja. Lima perawan yang bodoh, dia tidak siapkan minyak karena dia tidak ada hormat kepada mempelai. Kalau dia ada hormat, dia pedulikan mempelai, dia siapkan dong minyak. Ini mempelai, Raja segala Raja, dia siapkan lampunya. Dia siapkan. Wai bagi kita, siapa yang sangka, saudara Semmy, umur 41 tahun. Kamis yang lalu bersiap mau ke family camp, Tuhan panggil. Tidak ada yang sangka. Jadi saudara-saudara, mari kita harus bersiap memberikan hormat selalu kepada Tuhan. Mari kita hormat kepada Dia. Amin?

Yang kedua, semangat atau antusias untuk kemuliaan-Nya. Kita tahu Bapa kita mulia. Kita harus antusias, kita harus semangat. Bapa Kami ini bukannya main-main. Ini yang kita harus antusias, kita harus semangat. Ada beberapa pengerja yang praktek di tempat saya: Ada yang tahan, ada yang tidak tahan. Yang tidak tahan dengan 1001 macam alasannya, ada yang kabur tanpa bicara. pokoknya tinggalkan aja. Itu nggak jadi, saudara. Saya ngitung, sudah setahun, dua tahun, tiga tahun, empat tahun, tujuh tahun, sepuluh tahun, nggak jadi. Nggak jadi. Nggak jadi. Karena kerjanya tidak antusias. Dia tidak antusias untuk kemuliaan Tuhan. Bahwa Tuhan itu mulia. Nggak usah kita keplokin tangan, nggak usah beri kemuliaan kepada Tuhan, Tuhan itu mulia. Nggak usah kita banyak ini, Tuhan itu sudah mulia. Luar biasa. Segala kemuliaan hanya bagi Yesus saja, hanya bagi Bapa.

Nah, kita harus semangat untuk memberikan kemuliaan untuk Bapa kita. Hati-hati kalau ada di dalam hati kita, ada ingin rasa ingin dipuji, ada ingin rasa ingin dibanggakan sama orang, ada ingin rasa wah, dipuji orang. Hati-hati. Semua kepujian, semangat, harus kita berikan kepada Tuhan karena Dialah yang mulia. Yang mulia itu hanya Tuhan! Maka kita nyanyi Mulia sembah Raja mulia. Kita harus yakin yang disembah oleh kita yang mulia itu adalah Bapa kita. Yang mulia. Pokoknya Dia mulia aja. Ada family camp apa nggak, Dia mulia. Kita hidup, tidak, Dia mulia. Percaya kita sama Yesus atau tidak, Dia tetap mulia. Dia tidak ada hubungan dengan kita, Dia itu tetap mulia. Dia tidak peduli, kita ini cuek sama Tuhan atau tidak, Dia tetap mulia. Kita ini mau memperdulikan Firman-Nya atau meninggalkan Firman-Nya, Dia tetap mulia. Apa kita percaya, akan yakin Sabda-Nya atau tidak, Dia tetap mulia. Nah, di dalam yang kedua kita harus semangat.

Anak terhilang itu tidak akan bisa sampai ke rumah kalau dia nggak punya semangat. Dia lihat kemuliaan Bapa. Berapa banyak orang upahan bapaku, yang makanannya berlimpah-limpah. Bahasa aslinya: Berlebih-lebih, sudah kenyang, masih berlebih-lebih, ... aku di sini mati kelaparan. Dia lihat kemuliaan bapanya. Berapa banyak. Apa kesalahan anak yang sulung? Dia tidak lihat kemuliaan bapa. Dia masuk ke rumah tidak mau. Dia mengkritik adiknya. Dia mengkritik ayahnya. Dia tidak ada semangat untuk kemuliaan bapanya. Masa bapa tidak pernah kasih anak kambing. Sampai bapanya bilang: Milikku ini milikmu. Maka itu kita harus mengerti, siapa yang kita doa, berkata Bapa kami ini, siapa? Dia adalah yang mulia.

Yang ketiga, ini yang agak berat adalah kita harus taat kepada kehendak-Nya. Taat kepada kehendak-Nya. Nggak semua jadi presiden, nggak semua jadi pendeta, nggak semua jadi insinyur, nggak semua jadi dokter - tetapi mari kita belajar taat kepada kehendak-Nya! Itu digambarkan dengan indah sekali oleh Rasul Paulus dalam Roma 12. Dalam Roma 

12:5 demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain.
12:6 Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita.
12:7 Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar;
12:8 jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.
 
Berbagai-bagai talenta. Siapa yang datang dari Denpasar? Bapa David Suhendra, dia pelukis dan dia wartawan. Dia khusus datang untuk meliput saudara. Yang dari Magelang? Cuman satu orang? Tadi saya lihat ada tiga, mana yang dua orang? Tidak ada? Tidak ikut? Ada tiga orang dari Magelang. Itu saudaraku, ahli bicara jual beli. Dia kalau udah bicara, orang yang nggak mau beli, bisa jadi beli. Itu ahlinya di situ. Disuruh khotbah, dia ampun-ampunan, dia nggak akan bisa. Saya disuruh jual, wah saudara, nggak bisa dah mau jual barang. Tapi dia pintar. Orang tukang gigi, dia ahlinya tukang gigi; nggak bisa tukang gigi disuruh, saudara-saudaraku, jadi tukang cabut rumput. Nggak bisa. Dia biasa cabut gigi. Orang tukang cabut rumput nggak bisa dia cabut gigi. Semua ada bagian-bagiannya.

Nah, yang saya rindu, dalam keluarga besar Kerajaan Allah ini, apakah posisi saudara? Di mana posisi saudara? Saudara nggak bisa begini di dalam Tuhan, ... jadi penonton - nggak bisa! Saudara harus tahu di mana tempat saudara. Di mana tempat saudara, saudara harus tahu. Saudara di mana? Saudara harus tahu, dimana saya punya bakat. Apa saudara seperti ibu-ibu tadi, nyanyi terus ...

Sekarang ada musim sekarang, orang yang sudah beristri mengejar gadis; orang yang sudah bersuami mengejar teruna. Ini musimnya sekarang. Apa pagar kita? Taat kepada kehendak-Nya. Dengan uang 50.000, saudara bisa kawin di Indramayu. Gadis. Ini saya dengar dari Gus Dur. Dengan 50.000 saja, saking miskinnya rakyat, mereka mau dikawin. Menghilangkan aib mereka sebagai gadis tidak laku. Mereka ingin menikah. 50.000? Jadi kalau CD porno 4.000, kawin 50.000. Pantes Kerajaan Allah, koran, 5.000, kurang laku, saudara. Tapi sekarang pasti laku, ya.

Jadi kita lihat, sekaranglah jamannya di mana, saudara-saudaraku, menurut Yesaya, tujuh wanita mengejar satu laki-laki. Maka saudara tidak boleh marah kalau laki-laki memang pasarannya tinggi sekarang ini. Karena perbandingan laki-laki dengan wanita sekarang sudah sampai kepada 1 pria berbanding 5 1/2 wanita. Waktu saya ngomong ini di Irian, ada pendeta angkat tangan, bagaimana bapa bisa ngomong ada 5 1/2 perempuan? Pikirannya kurang terbuka. Saya bilang, kalau 1.000 laki-laki dengan 5.500 wanita, kan 1:5 1/2. Oh, iya. Saya kira, katanya, ada wanita 5 dan 1/2. Jadi kembali lagi kepada Firman Tuhan, saudara-saudara, sekarang ini saatnya Kitab Nabi Yesaya. Nanti kalau sudah 1:7, Yesus pasti datang. Apa yang harus memagari keluarga kita? Rumah tangga kita? Taat!

Sekarang saya sedang mendoakan sepasang suami istri yang baru menikah satu tahun tetapi di jurang perceraian. Sekarang saya sedang mendoakan. Saya minta mujizat dari Tuhan: Tuhan, tolong. Aduh, saya bilang, iblis ini pinter sekali. Urusan kecil, urusan tetek bengek, urusan telephone, bisa bikin orang mau cerai. Ini kan sangat bodoh. Tapi terjadi. Apa kita punya pagar? Kecuali kita taat kepada kehendak Allah. Hai istri, tunduk kepada suami. Hai suami, kasihilah istrimu. Hai istri, tunduklah kepada suami. Susah ini.

Yang keempat. Kenapa Dia harus disebut Bapa? Adalah kita harus tunduk kepada disiplinnya. Saudara, Tuhan itu punya disiplin, ya. Tuhan itu punya disiplin. Tidak bisa sembarangan, Dia punya disiplin. Dia ada satu law, satu hukum yang kita tidak boleh langgar. Law itu apa? Salah satunya, saudara-saudara, dosa tidak bisa jalan sama-sama dengan Tuhan. Ketika kita berdosa, apa saja, sederhana saja kita berdosa, bersalah sama Tuhan, maka sukacita kita hilang, damai sejahtera kita lenyap. Kenapa? Karena Tuhan meninggalkan diri kita. Hadirat-Nya tidak bisa gabung dengan dosa. Nggak mungkin hati saudara diisi Tuhan di sebelah kamar, di sebelah lagi adalah dosa. Nggak mungkin.

Di Surabaya dulu ada satu losmen. Penuh sesak. Sudah mau lebaran. Tapi ada satu orang kaya dari Jakarta. Dia datang, dia bilang: Saya perlu kamar. Berapa saja saya bayar. Semua hotel sudah penuh. Hotel kami juga penuh. Tapi berapa saja saya bayar. Oke, ada kamar saya, kamar pribadi. Nggak apa-apa pokoknya. Saya cuma pakai waktu malam saja. Karena dari jam tujuh pagi sampai jam tujuh malam, saya ada di luar. Saya mau bisnis ini. Oke, kalau begitu, malam bapa bisa tidur di kamar saya. Dibayar dengan cukup tinggi. Sudah jadi eh, datang wartawan mau meliput cerita disana. Apa yang terjadi? Wartawan: Saya cuma perlu waktu siang saja; waktu malam saya akan meliput keadaan di sekitar Surabaya. Jadi saya perlu kamar hanya siang saja. Jalan nih otak. Jadi satu kamar disewakan untuk dua orang. Malam kepada orang kaya tidur. Siang untuk wartawan tidur. Malamnya terbalik-balik, tidak ketemu. Tapi pada satu hari, saudara-saudara, mereka ketemu. Yang satu mau masuk, yang satu belum keluar. Siapa anda? Saya ini yang menyewa kamar ini. Tidak mungkin, ini kamar saya. Saya sewa kamar ini. Oh tidak bisa, saya juga sewa kamar ini. Nggak mungkin. Ributlah. Sampai ditunjuk-tunjuk pemilik losmen ini.

Demikian juga kita, nggak bisa memberikan hati kita kepada dua orang. Di satu pihak kepada dosa, di satu pihak kepada Tuhan. Nggak bisa! Dan apa kata Tuhan Yesus dalam Yohanes 15? Tanpa Aku, satupun tidak ada yang bisa kamu perbuat. Jadi ketika kita berdosa, ketika kita bersalah, apa saja dosa itu - kita menolak kehadiran Kristus, kita menolak kehadiran-Nya, kita tidak tunduk kepada ajaran dan disiplin-Nya! Kita mau dosa bersama-sama dengan sorga - nggak bisa. Ketika kita berdosa, ketika kita melanggar kehendak Tuhan, Kristus, Dia menghilang. Dia tidak ada lagi.

Dan ketika Dia tidak ada, satupun tidak ada yang kita bisa berhasil: Bisnis tidak berhasil. Dalam keluarga tidak berhasil. Di manapun kita kerja, apapun yang kita kerjakan, tidak berhasil. Karena apa? Karena ada dosa di dalam hati kita. Dosa membuat Tuhan berpaling dari kita. Dia tidak mau melihat kita. Dosa membuat kita jauh dari Dia. Bagaimana kita harus Tuhan mau memenangkan kita lagi? Dia pakai disiplin. Kepada Daud, sampai ada orang mati, sampai anaknya mati. Pada Musa, dia tidak boleh masuk Tanah Perjanjian. Terus ada. Semua ada disiplinnya. Ada disiplin. Anak terhilang, begitu keluar dari rumah, jauh dari Bapa, dia miskin, jadi bangkrut. Sampai susah makan ampas babi juga. Demikian juga kita.

Jadi saudara, ini membawa kita kepada yang terakhir, yang kelima. Dari soal kasih kita kepada Tuhan adalah memantulkan karakter-Nya. Kita ini seperti bintang-bintang. Bintang-bintang bukanlah sumber terang. Tetapi bintang-bintang memantulkan terang matahari. Dalam Filipi pasal yang 2, di sana kita mendapatkan ayat yang indah. Filipi  

2:15 supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia,

Nelayan-nelayan zaman dulu belum ada kompas seperti sekarang. Kompasnya adalah bintang. Ada Bintang Waluku, ada Bintang Salib yang disebut Southern Cross, dia ada di bagian selatan. Kalau bintang yang berbentuk salib itu, itu adalah selatan. Jadi nelayan-nelayan tidak akan salah jalan, karena dia lihat bintang itu. Kalau Bintang Fajar, itu di timur. Ketika jam 4, keluar ada Bintang Fajar, orang tahu, nelayan tahu, itu timur. Kebalikannya adalah barat. Sebelah kanannya adalah ini, sebelah kirinya adalah itu. Sudah tahu. Kita harus jadi bintang. Kita bukan sumber terang. Kita bukan terang. Tetapi kita harus memantulkan terang dari Bapa itu. Memantulkan terang dari Kristus itu. Memantulkan cahaya dari Tuhan. Memantulkan, refleksi apa yang Tuhan berikan kepada kita dalam soal karakter-Nya. Karakter-Nya.

David Livingstone pernah bilang begini. Ia utusan Injil ke Afrika dua puluh tahun. Dia tinggalkan kekayaannya semua di Afrika. Dia bilang begini: Aku mau jadi seperti Yesus. Dia penginjil dan Dia selalu berjalan kesana kemari dan Dia memiskinkan diri-Nya. Ya, walaupun aku meniru Dia, tidak mampu cocok seperti Dia. Tapi aku ingin sedikit saja seperti Dia. Aku ingin seperti Yesus. Aku ingin seperti Kristus. Aku ingin seperti Dia. Inipun ditulis dalam Filipi pasal 3. Dalam Filipi  

3:7 Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.
3:8 Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,
3:9 dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.
3:10 Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,
3:11 supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.

Bisa bilang haleluyah, saudara-saudara? Ini kita memantulkan karakter-Nya. Pada waktu kita lihat kolam tenang, kita bisa lihat wajah kita sendiri jelas. Tapi kalau kolam itu digoyang, maka muka kita tidak jelas, goyang. Mari kita banyak berteduh diri dengan Firman Tuhan. Berteduh diri. Banyaklah baca Firman Allah. Karena ini kalau kita tenang, Dia akan menggambarkan seperti apa kita ini. Dia akan menunjukkan kemana kita pergi. Dia akan memberi tahu bisnis apa yang kita harus kerja. Dia akan memberikan pertolongan apa yang harus kita kerjakan. Ini membawa kita kepada yang berikutnya adalah lima lagi kemahaan Tuhan. Saya hanya akan baca saja. A, B, C, D, E.

Yang pertama kita akan buka 1 Raja-raja  

8:22. Kemudian berdirilah Salomo di depan mezbah TUHAN di hadapan segenap jemaah Israel, ditadahkannyalah tangannya ke langit,
8:23 lalu berkata: "Ya TUHAN, Allah Israel! Tidak ada Allah seperti Engkau di langit di atas dan di bumi di bawah; Engkau yang memelihara perjanjian dan kasih setia kepada hamba-hamba-Mu yang dengan segenap hatinya hidup di hadapan-Mu;

Yang pertama, Allah kita, Bapa kita itu Mahahadir. Apa saudara? Mahahadir! Sekarang saya suka berdoa tutup untuk jemaat, Tuhan akan bersama saudara dalam sukacitamu dalam dukacitamu. Dia bersama ketika kita senang, ketika kita susah. Mahahadir. Maaf saudara, saya akan ungkapkan satu hal yang mungkin baru dan saudara mungkin belum bisa terima. Kita suka menilai begini, kalau ada orang kristen mati dalam kecelakaan, kita bilang, dia di luar kehendak Tuhan; kalau ada orang kristen luput dari kecelakaan, dia ada dalam kehendak Tuhan. Keliru, saudara. Bahkan kalau penilaian kita seperti itu, keliru. Dia itu Mahahadir. Dimanapun. Ketika kita menangis, ketika kita bersuka, ketika kita untung, ketika kita rugi, Dia Mahahadir. Saya bicara ini supaya saudara tahu, ketika kita di dalam percobaan, rasanya langit itu runtuh, Dia tetap hadir. Dia tetap ada. Dia tetap berfungsi bersama dengan kita.

Ketika, saudara-saudaraku, 11 September, 3.000 orang mati. Yang mati orang Arab ada, orang Islam ada, orang Kristen ada, orang Yahudi ada, orang Budha ada, yang tidak beragama ada. Kenapa yang kita dengar yang luput saja? Banyak yang baik yang tidak tertolong. Banyak yang baik, saudara-saudaraku, dia mati. Kenapa? Ayat Firman Allah di dalam Injil Matius, Bapa itu baik, Dia turunkan hujan kepada orang yang baik, Dia juga turunkan hujan kepada orang yang jahat. Dia memberikan matahari untuk orang yang baik, Dia berikan matahari untuk orang yang tidak baik. Duren untuk orang yang baik dia tetap wangi, untuk orang yang tidak baik dia tetap wangi. Jeruk yang manis untuk orang baik, dia tetap jeruk manis untuk orang tidak baik. Itu Tuhan kita. Bapa kita secara umum. Jangan kita menghakimi, oh, dia mati karena kecelakan, itu hukuman Tuhan.

Memang Daniel luput dari kandang singa. Sadrakh, Mesakh, Abednego, luput dari api. Tapi Paulus? Dipancung. Stefanus? Dirajam. Petrus? Disalib kepalanya di bawah. Apa Tuhan tidak hadir? Dia hadir. Bahkan ketika Stefanus mau mati, Dia bilang, aku melihat Yesus berdiri di sebelah kanan Allah Bapa. Yesus menghormat orang yang mati sahid. Sekarang kalau di Poso ada pendeta-pendeta ditembak-tembak. Katanya saudara Hendrik, satu kepala pendeta 80 juta, apa berarti Tuhan biarkan mereka? Tidak, Dia tidak biarkan. Apakah kejadian itu Tuhan tidak mengerti? Tuhan mengerti. Kita mau protes sama Tuhan? Jangan. Dia Mahahadir - dalam air mata kita, dalam mata air. Sekarang saudara-saudara dalam percobaan, problem, mungkin nggak ada bisnis ... kurang lancar. Tuhan kan tahu. Belajar dulu, Dia tuh hadir.

Waktu Ayub, ketika dia anaknya tiba-tiba, sepuluh anak meninggal, apa Tuhan tidak hadir? Dia hadir. Ketika empat bisnisnya bangkrut, apa Tuhan tidak tahu? Dia tahu. Ketika istrinya repot sama dia, marah-marah, maki-maki, suruh dia mengutuk Tuhan, apa Tuhan tidak hadir? Dia hadir. Akhirnya memang, saudaraku, Ayub menyalahkan sama Tuhan sedikit. Dia ngomel sama Tuhan. Lalu Tuhan ngomong begini: Siapa yang mau kasih makan burung elang? Jawab sama Aku. Siapa yang mengatur segala masa? Jawab sama Aku. Sampai Ayub minta ampun sama Tuhan. Aduh, ampun Tuhan, saya sok pinter, ampun Tuhan.

Maka yang pertama kita mau belajar, Dia itu Mahahadir. Salomo berkata: Tuhan, Engkau yang ada mengisi langit dan bumi. Ketika saudara tinggi, dimuliakan, mempunyai berkat, berkelebihan - Dia ada, hadir. Tapi ketika kita ada di bumi, di jurang yang gelap - Dia tetap hadir!

Saudara mungkin lupa itu lagu Yesus di atas s'galanya ... Yesus di atas s'galanya ... Di atas bukit kemuliaan ... Atau lembah air mata ... Yesus di atas s'galanya. Di atas segala-galanya itu Yesus. Dia Mahahadir. Dia lebih dekat kepada kita dari pada nafas kita sendiri. Siapa diantara saudara malam hari ini sedang dalam problem, sedang dalam percobaan ... langit itu mau runtuh rasanya? Dia hadir, Dia ada. Dia ada.

Salah satu nama Tuhan adalah Yehova Syama, Aku hadir di sana. Ketika saudara, perahu saudara kosong, sedang mencuci pukat, tiba-tiba Yesus datang, dan tiba-tiba pukat yang kosong itu diisi oleh ikan. Dia hadir, Allah hadir, Tuhan hadir.

Yang kedua kita melihat 2 Tawarikh 20:5. Ini doanya baru Bapa Kami lho saudara, ya. Penuh nanti berkatnya.  

20:5 Lalu Yosafat berdiri di tengah-tengah jemaah Yehuda dan Yerusalem di rumah TUHAN, di muka pelataran yang baru
20:6 dan berkata: "Ya TUHAN, Allah nenek moyang kami, bukankah Engkau Allah di dalam sorga? Bukankah Engkau memerintah atas segenap kerajaan bangsa? Kuasa dan keperkasaan ada di dalam tangan-Mu, sehingga tidak ada orang yang dapat bertahan melawan Engkau.

Dalam bahasa Inggris dikatakan Tuhan itu Mahamulia. Pemain musik tolong naik ke atas. Tuhan itu Mahamulia. Bapa kita yang kita sembah di dalam Yesus Kristus bukan Bapa biasa - Dia Bapa yang Mahamulia. Haleluyah. Dan Dia tidak akan ijinkan anak-anak-Nya hidup di dalam ketakutan, di dalam kebimbangan, hidup dibawah standarnya Tuhan. Karena Dia adalah Bapa yang Mahamulia.

Itu sebabnya ketika kita berdoa Bapa Kami, haleluyah, kita memiliki Tuhan, Allah yang penuh dengan kemuliaan. Penuh, jadi kita harus tahu, hormat kepada pribadi-Nya, antusias kepada kemuliaan-Nya, taat kepada kehendak-Nya, tunduk kepada ajaran-Nya, dan kita harus memantulkan karakter-Nya. Dia Mahahadir. Dan malam hari ini Dia Mahamulia. Kita berdiri bersama-sama. Haleluyah.

 

Kebaktian 2/4 

Kita akan meneruskan soal doa Bapa Kami. Kita sudah sampai kepada bagian yang kedua atau B, mengenai Bapa yang kita sembah adalah yang pertama Mahahadir. Sekarang kita akan masuk pada yang ketiga, yaitu Bapa kita adalah Mahakuasa. Sama ayatnya dengan yang B, II Tawarikh 20:6.

Nah, kita cuma seringkali tahu Bapa kita itu Mahakuasa tapi di dalam penerapannya kita nih nggak percaya. Kita hanya tahu Bapa kita Mahakuasa tapi kita tidak bisa menerapkannya dalam hidup kita. Begitu ada kasus yang sangat minim sekali, kita sudah grogi, kita sudah sangat kuatir. Seolah-olah Bapa kita itu nggak bisa bikin apa-apa. Tetapi patut saudara tahu bahwa yang ketiga, Bapa yang kita sembah ini bukan Bapa biasa tapi bapa yang Mahakuasa.

Yang keempat, D, Dia adalah juga disebut Bapa yang Mahatahu. Di dalam Mazmur  

33:13 TUHAN memandang dari sorga, Ia melihat semua anak manusia;
33:14 dari tempat kediaman-Nya Ia menilik semua penduduk bumi.
33:15 Dia yang membentuk hati mereka sekalian, yang memperhatikan segala pekerjaan mereka.

Ketika saya baca ayat ini, ada dua hal yang terjadi. Saya tidak boleh bekerja dengan sembarangan. Saya tidak boleh bekerja dengan salah. Karena Bapa yang saya miliki di dalam Kristus Yesus, Dia memperhatikan dari surga. Di kegelapan apapun juga, kata Mazmur, jadi terang. Kalau kita berselimutkan kegelapan, kalau kita menutupi diri kita dengan kegelapan, maka kegelapan itu di hadapan Tuhan seperti terang. Saudara, singa melihat dalam gelap 10 kali lebih tajam dari manusia. Burung hantu melihat di dalam kegelapan, Tuhan kasih keistimewaan, 70 kali lebih tajam dari manusia. Apa yang kita tidak awas buat burung hantu jadi jelas. Apalagi yang bikin burung hantu. Apalagi Sang Pencipta, Tuhan.

Satu kali Yesus bilang: Mari kita menyebrang ke seberang, kamu dulu duluan. Yesus naik ke gunung bukit, berdoa. Di tengah danau, murid-murid menghadapi angin sakal, angin yang datang dari haluan. Tapi Yesus tahu. Dia tahu bahwa murid-murid-Nya sedang mengalami angin sakal. Jadi kita mengetahui di dalam Alkitab bahwa, Bapa yang kita miliki, yang kita suka berdoa Bapa Kami, itu adalah Bapa yang Mahatahu. Dia tahu dompet kita kalau isinya tinggal KTP dan kartu-kartu nama. Benar, saudara, karena saya pernah ngalamin. Jadi Dia tahu. Dia tahu ketika keringat kita keluar dari kelopak mata. Dia tahu ketika, saudara-saudara, haleluyah, kita itu ceumplang. Dia tahu. Dia tahu ketika kita bilang amin tapi pikiran kita ke hari depan, pada besok bagaimana? Dia tahu.

Saudara-saudaraku tidak usah, saudara-saudara, mencari tahu, kasak-kusuk mencari tahu asal usul saya, apa yang saya lakukan, nggak usah tahu. Sebab Tuhan tahu saya. Dia tahu duduk berdirinya saya, Dia tahu berlari dan berjalannya saya. Dia tahu jatuh bangunnya saya. Dia tahu. Jadi kita nggak usah repot urusan orang. Nggak usah kita urus orang lain. Nggak usah kita jadi seksi repot dari hal orang lain. Karena apa? Karena Allah Mahatahu. Jadi saudaraku, kadang-kadang saya, aduh Tuhan, bagaimana di sana ada problem, di sini ada problem, persoalan belum beres, si A sakit anaknya, si ini suaminya meninggalkan istri, istrinya, aduh bagaimana ini? Tapi Tuhan tahu dan Dia tidak pernah gugup, Dia tidak pernah bingung karena Dia Mahatahu apa yang akan Dia lakukan. Satu ayat memberikan kekuatan bagi saudara, Yohanes pasal 6. Dalam Yohanes pasal 6, saudara ingat ini adalah pasal bagaimana Yesus memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dengan dua ikan. Tetapi kita lihat latar belakangnya. Ayat ke 5,

6:5 Ketika Yesus memandang sekeliling-Nya dan melihat, bahwa orang banyak berbondong-bondong datang kepada-Nya, berkatalah Ia kepada Filipus: "Di manakah kita akan membeli roti, supaya mereka ini dapat makan?"
6:6 Hal itu dikatakan-Nya untuk mencobai dia, sebab Ia sendiri tahu, - Ia sendiri tahu. Haleluyah. Puji Tuhan - apa yang hendak dilakukan-Nya.

Mari saya kasih ilustrasi. Di hadapan Yesus ada lima ribu orang laki-laki yang belum makan tiga hari, mengikut Yesus. Belum anak-anak, belum perempuan. Menurut Cho Yong Gi kurang lebih lima belas ribu orang. Yesus tanya sama murid-Nya, dari mana kita dapat makan ini? Bagaimana mereka bisa makan ini? Yesus bertanya, saudara, bukannya bingung. Sebab Dia tahu! Jadi walaupun problem ada, sudah tiga hari Yesus belum kerja, Dia tahu apa yang Dia lakukan. Siapa di antara saudara, pada malam hari ini, dalam soal keluarga ada persoalan, ada problem? Dan nampaknya belum bisa diatasi. Jangan takut. Iblis datang kepada saudara dan berkata, mampus kau! Hancur kau sekarang! Kamu tidak bisa berbuat apa-apa. Saudara harus jawab dengan yakin penuh iman, Bapaku tahu! Apa yang Dia akan lakukan untuk menolong aku. Kamu bisa tuduh aku macam-macam, kamu bisa mengatakan aku macam-macam tapi aku yakin, Bapaku tahu.

Dia Mahatahu, dan tahu di dalam soal, saudara-saudara, yang paling kecil tahu untuk caranya bagaimana menolong kita. Dia tahu kok membuat Yunus yang bandel sampai ke Niniwe. Dia tahu bagaimana memimpin orang Majus hanya dengan bintang sampai ke Betlehem. Dia tahu, saudara-saudara, memimpin Rut, dibikin janda dulu, dibikin susah dulu, dibikin miskin dulu, untuk dikawinkan dengan bosnya Betlehem, Boaz. Dia tahu mengatur begitu rupa. Maka kadang-kadang saya suka menyanyi, Allah kuasa melakukan segala perkara ... Allahku maha kuasa. Saya suka neteskan air mata kalau sudah sampai pada kalimat ini Dia ciptakan seisi dunia ... Atur segala masa. Saya ini suka nonton binatang, dunia binatang. Saudara-saudara, bagaimana singa memakan singa betina yang pincang. Sampai ahli binatang bilang, kenapa singa jantan ini menggigit singa betina yang pincang, yang cacat sampai mati? Kita tidak tahu. Apa sebabnya? Buta. Kami tidak tahu kenapa singa itu berbuat demikian. Tapi Tuhan tahu.

Bagaimana kalau zebra tidak dimakan oleh singa? Afrika penuh dengan zebra karena sangat banyak. Jadi sudah Tuhan atur segala masa demikian rupa. Termasuk orang yang duduk di sisi saudara, istri saudara, suami saudara. Lupa, saya nih ditinggal sama suami. No problem, Tuhan tahu. Tidak ada satu gerak hidup kita, kejadian, air mata, keringat, yang terjadi dalam hidup kita, yang Bapa kita tidak tahu. Tidak ada satupun yang luput dari perhatian-Nya. Tadi Mazmur berkata, Dia memperhatikan pekerjaan kita. Sekarangpun Dia tahu. Dia melihat, memperhatikan. Dia jaga hati saya. Dia perlihatkan, Dia perhatikan, apa saya membawa Firman Tuhan ini hanya untuk uang, hanya untuk sok-sok an, hanya untuk dipuji orang, atau untuk memberi Firman, memberi jalan kebenaran bagi saudara-saudara. Dia nilai, Dia tahu kok. Jadi kalau tadi saudara jalankan kolekte, itu bukan buat saya.

Sudah 7, saudara-saudara, sudah 7 family camp, saya nggak pernah terima kolekte. Tamu kita kasih, tapi saya mah nggak pernah. Malahan kita nombok. Malahan kita bantu. Karena saya ingin supaya orang-orang tuh tahu bahwa memang ini family camp ini untuk kebaikan anda semua. Jadi kembali kita lihat, Dia tahu kok, Dia tahu semua, tahu. Semua kita tahu. Dia tahu kok presiden yang akan datang siapa. Dia tahu. Coba, saudara tahu nggak siapa? Ya, kalau nggak Megawati, SBY. SBY, Megawati. Tapi Tuhan mah tahu siapa. Tuhan juga tahu, saya juga nggak tahu, siapa yang bakal jadi presiden. Tapi Tuhan tahu siapa akan jadi presiden. Dia tahu, saudara-saudara. Haleluyah. Dia Mahatahu. Kesulitan, problem apa - semua Dia tahu!

Ada lagu kuno bilang begini, Dia tahu keperluanku - Ini kalau lagu lama, keperluan aja - Dia tahu keperluanku ... Dari dunia sampai di surga ... Dia tahu keperluanku. Dia tahu waktu kita mati, kita perlu sepatu tenis, Dia tahu. Saudara-saudara, biar kita orang kaya, biar apa, anak konglomerat, heran saya kalau sudah mati, meninggal, dikasihnya sepatu tenis. Baru saya mengerti. Tetapi saudara-saudara, kita lihat yang kelima. Di dalam Ulangan

26:15 Jenguklah dari tempat kediaman-Mu yang kudus, dari dalam sorga, dan berkatilah umat-Mu Israel, dan tanah yang telah Kauberikan kepada kami, seperti yang telah Kaujanjikan dengan sumpah kepada nenek moyang kami--suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya."

Yang kelima, Allah itu Mahasuci. Orang Islam memberi nama Yerusalem itu Al Quds. Tapi Al Quds juga diberikan nama untuk Tuhan, Yang Kudus. Biarpun bom di sana sini meledak, bom bunuh diri meledak, tapi dia kasih nama Yerusalem itu Al Quds. Quds dari kudus.

Nah, saudara-saudara, Allah yang kita sembah selain Mahakuasa, Mahahadir, Mahatahu, maha, maha, maha, maha, ada sekitar dua belas. Dia yang terpenting dalam yang kelima ini - Mahakudus. Kesucian, kita mau tidak mau, rela atau tidak rela, terima atau tidak terima, harus mengakui adalah warnanya dari orang kristen. Kitab kita disebut Kitab Suci. Perjamuan kita disebut Perjamuan Suci. Pernikahannya disebut pernikahan kudus. Kenapa? Karena Allah adalah Allah yang kudus. Kita disebut dalam alkitab disebut The Saints - orang-orang kudus, orang-orang suci, orang-orang yang suci. Nah, ini membawa kita kepada doa Bapa Kami yang selanjutnya, yaitu Matius  

6:9. Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu,

Kita naik sekarang. Surganya saja tadi, Ulangan 26, tempat yang kudus. Sekarang dikatakan, dikuduskanlah nama-Mu. Seolah-olah, ini bahasa Indonesia ini kurang tepat, seolah-olah nama Yesus itu kurang kudus, kita dikuduskanlah nama-Mu. Maksudnya bukan begitu, Hallowed be Thy name. Kalau kita mengatakan nama Bapa itu, kita tahu bahwa nama-Nya itu kudus. Jadi bukan hanya tempatnya, surga yang kudus. Bukan hanya kita disebut The Saints, orang kudus. Tetapi Firman-Nya disebut Firman yang kudus, Nama-Nya pun kudus.

Nah, kata dikuduskan itu dalam bahasa Yunani dipakai kata hagiaso yang artinya dipisahkan, terpisah, split, terpisah. Kita ini dengan dunia sama seperti minyak dengan air dalam satu botol. Botol itu dunia, kita minyak, dunia itu air. Orang dunia dengan kita hidup sama-sama, dagang sama-sama, makan sama-sama, bergerak sama-sama, berniaga sama-sama. Tapi dihadapan Tuhan terpisah.

Minyak tidak bisa gabung dengan air. Minyak selalu di atas, air di bawah. Saudara-saudara, minyak ini tidak bisa gabung dengan air. Tidak bisa. Demikian juga orang kristen, tidak bisa kompromi dengan dosa. Dia terpisah. Jadi kata hallowed be Thy name, dikuduskanlah nama-Mu, itu kita memakai mulut. Jadi artinya terpisah, dikuduskanlah nama-Mu, kalau kita sudah tahu nama Allah itu suci, maka mulut kita yang menyebut nama Allah itu suci, juga haruslah suci.

Ada lima bagian yang kita harus perhatikan di dalam kesucian ini. Yang pertama, catat, dengan bibir lidah kita, yaitu percakapan kita. Salahlah kita kalau kita nyanyi di gereja Suci, suci, suci, suci, Allah Mahakuasa ... tapi ngegosip. Dengan mulut kita hallowed, menyucikan nama Allah tetapi dalam waktu yang sama kita mengatakan yang tidak baik tentang saudara kita. Apa doa kita itu naik ke surga?

Jadi ketika kita berkata dikuduskanlah nama-Mu, mulut yang sama juga jangan fitnah orang, jangan ngegosip orang, jangan mengada-ada, yang tidak ada dibikin ada, cerita yang nggak ada jadi ada; jangan bawa berita dari sini ke sana, dari sana di bawa ke sini; ngadu domba orang supaya pecah, supaya berantakan. Jangan. Hati-hati. Walaupun mulut kita mengatakan yang manis, hati-hati, suka mengatakan janji-janji palsu, janji-janji angin surga, ngomong ini, ngomong itu, wah segala rupa ini, ke sini  ngasih harapan, ke situ ngasih harapan. Tapi dihadapan Tuhan, oh Tuhan, perlihatkan jodohku yang mana? Yang mana Tuhan, yang mana, yang mana? Haleluyah, haleluyah, yang mana Tuhan, yang mana? Tapi ke sini ngasih harapan, ke situ ngasih harapan.

Dulu ada satu pengerja, saudara, di Cianjur. Sekarang sudah jadi majelis daerah di Kalimantan. Dia sudah punya pacar, tapi berpacaran sama satu guru sekolah minggu. Dia sudah punya pacar, Susan, namanya Susana. Tapi sekarang dia pacaran dengan yang namanya Christine. Kasih harapan kepada Christine, kasih harapan sama Susan. Akhirnya dia bingung sendiri. Jadi saya tegur, nggak bisa begini. Kamu terima surat ini, tapi kamu kasih harapan ini. Kamu harus sembahyang, ambil putusan, sembahyang. Saya suruh dia sembahyang. Kamar kita cuma dua. Saya sama istri di kamar sebelah, pengerja di sebelah ini. Kebetulan pintunya ada kaca.

Saya intip, kok nggak ada haleluyah. Kalau biasa pengerja, haleluyah, oh haleluyah Yesus. Ah, itu dia lagi berdoa. Ini cuma bunyi ranjang, kecrek ... kecrek ... kecrek. Apa ini? Jadi saya ngintip dari bawah. Ketika saya ngintip, dia lagi pake tangan, saudaraku, dia lagi kocok-kocok, pantes bunyi itu tempat tidur, kecrek ... kecrek ... kecrek. Keluarlah satu lot, nama, gulungan kertas. Dia buka: Ya, Susana. Dia ngomong sendiri, Susana. Tapi kalau aku sama Susana, kasihan Christine. Nggak jadi, nggak jadi, masukin lagi. Tuhan, yang mana? Dibuka gulungan. Ya, Christine. Tapi bagaimana ya kalau Christine, kasihan Susana. Oh saya nggak tahan. Saya bentak: Buka, buka, buka. Nggak bisa begitu. Memangnya kamu dukun? Nggak bisa, lekas putuskan. Akhirnya dia sembahyang. Akhirnya dia pilih Susana. Itu lagu Susan, Susan, Susan, kalau gede mau jadi apa?

Mulut ngatakan hal manis: Nggak pernah maki, nggak pernah marah. Ngomong tapi kaya ular, kaya racun. Ada orang, aduh, gimana ya gua diomongin sama dia tuh. Oh, diomongin, sama siapa, Ci? Sama dia. Aduh, Ci, sabar. Ngomongnya sih betul. Sabar, Ci, udah jangan ditaruh dalan hati, ... memang dia mah begitu. Tapi Enci sabar aja. Udah gitu masih baguslah. Ini jeleknya, besok dia bawa ini omongan sama enci yang sana. Ci, bagaimana, apa kabar? Kasihan tuh si enci itu ada rasa nggak senang ama dia tapi saya sabar-sabarin. Kenapa, dia ngomong apa? Dia ngomong apa? Tapi enci jangan marah, sabar aja yah. Dia ngomong enci nih kurang ajar. Wah, dia juga sendiri gimana? Jangan marah, sabar, sabar. Dibawa lagi ini omongan. Akhirnya Perang Korea, saudara. Ini sebabnya apa yang terjadi dengan Korea Utara-Korea Selatan, Vietnam Utara-Vietnam Selatan, oleh karena mulut. Bukan rebutan kekayaan, satu bangsa kok. Oleh karena mulut. Jadi hati-hati, saudara-saudara, ketika kita mengatakan dikuduskanlah nama-Mu.

Yang kedua, kita harus kudus dalam pikiran. Karena pikiran ini seperti satu stir mobil, ya. Orang yang mencuri mobil dia tidak akan masuk ke bagasi. Ngapain dia di bagasi? Dia akan duduk di belakang stir. Satu kali dia sudah di belakang stir, mesin sudah dia bisa hidupkan, dia bisa bawa mobil itu kemana dia mau. Nah, iblis ingin menguasai pikiran, Tuhan ingin menguasai pikiran. Jadi pikiran ini harus baik. Pikiran ini harus kudus. Itu sebabnya jangan cari sampah. Di internet sekarang banyak sampah. Jangan buka. Sudah tahu itu sampah, sudah tahu itu kotor, jangan buka. Sudah tahu. Kalau saudara ke kuburan, saudara tahu ini peti mati dalamnya tengkorak, masa saudara buka? Ada apa ya di dalamnya? Ada apa di dalamnya? Sudah tahu tengkorak. Baru tiga hari dikubur, bau. Sudah, jangan dibuka. Sudah tahu di dalam situ ada busuk. Jangan dibuka. Di internet ada yang tidak baik, ada situs gereja setan, jangan dibuka.

Satu saudara di Jakarta bilang: Pak Awondatu, coba buka, ada situs gereja setan. Saya nggak mau buka. Ngapain? Kita sudah penuh dengan Yesus. Istri saya sudah seh Tan. Mau apa saya mau buka-buka yang begitu? Saudaraku, jangan mau. Sudah tahu itu mayat di dalam, jangan dibuka. Pikiran, saudara-saudara harus dikuasai. Nah, saya suka gambar begini kalau saya ngajar di sekolah alkitab. Kalau pikiranmu baik, kata-katamu akan baik; kalau kata-katamu baik, imanmu akan baik; kalau imanmu akan baik, engkau, aksimu akan baik, tindakanmu akan baik; kalau tindakanmu akan baik, engkau akan punya buah atau hasil yang baik; dan kalau hasilmu baik, pikiranmu akan baik. Muter lagi. Kalau pikiranmu baik, pengakuanmu baik, imanmu baik. Imanmu baik, kata-katamu baik, aksimu baik, hasilmu baik, jadi berputar terus. Sekarang kalau pikiran kita jelek, maka pengakuan kita jelek, iman kita akan jelek, dan aksi kita akan jelek, hasilnyapun akan jelek, pikiran kita jadi jelek. Itu sebabnya pikirkanlah hal-hal yang kudus, kata Filipi 4:8, apa yang baik, yang kudus, yang suci, hendaklah itu yang dipikirkan oleh kita.

Yang ketiga secara keseluruhan adalah hidup kita secara praktikal. Kita harus menjaga hidup kita kudus. Bukan hanya mulut saja tetapi, saudara-saudara, semua hidup kita. Dulu ada satu ibu di Cianjur, punya anak gadis sudah 40 tahun, belum menikah, belum dapat jodoh. Lalu ibunya datang sama saya: Aduh brur, brur, tolong bantu doa supaya anak saya ini menikah. Aduh, dia itu cuma mulutnya saja yang jahat, hatinya sih baik. Nah, saya berpikir, laki-laki mana yang mau menikah dengan wanita yang hatinya baik tapi mulutnya jahat? Siapa yang mau kawin? Firman Allah berkata, kalau hati kita baik, mulut kita baik. Markus 7:20-21 berkata, apa yang ada di dalam kita itu mengalir keluar. Maka bukan hanya mulut kita yang baik, tapi segala bidang kehidupan kita harus baik.

Dulu ada pendeta tahun 68, dia berkata begini, bersaksi di depan pendeta-pendeta. Saya masih sekolah, baru keluar sekolah kelas satu, tahun 68. Saudara-saudara sekalian, saya sudah melayani Tuhan dan saya sudah bertobat, dan hanya tangan saya yang belum bertobat. Sudah dua tentara saya pukul. Dia memang bekas RPKAD. Jadi tentara dia nggak takut. Tapi bukan untuk disaksikan begitu.

Nah, saudara-saudara, seringkali, inilah belum bertobat. Dulu ada pendeta juga orang Irian, dia bersaksi. Maksudnya baik, tetapi orangnya mikirnya tidak baik. Saudara-saudara, saya bekas pemain sepak bola. Nah, kalau orang Irian ngomongnya begitu. Saudara-saudara sekalian, dulu saya pemain sepak bola. Tendang bola masuk gawang. Tetapi sekarang saya tendang jiwa masuk surga. Ada jemaat bilang, kalau jiwa ditendang, kasihan dong benjut dia, katanya, masuk surga. Jadi kita jangan hanya kudus dalam kata-kata, tetapi dalam segala bidang kehidupan kita.

Yang keempat, ini yang sedang kita jalani sekarang adalah dalam keluarga. Dalam keluarga haruslah ada hal ini. Jangan hanya ibu salah sedikit, anak kasih muka asam. Ayah salah sedikit, menantu kasih muka asam. Atau sebaliknya. Menantu salah sedikit, ibu mertua kasih muka asam. Dulu saya di Bandung, ada satu mertua: Aduh, Yo, Yo, Yo. Dia orang Jawa. Dia panggil saya nama kecil. Yo, Yo, Yo. Kenapa? Menantuku itu. Kenapa? Masa bikin perkedel, isinya tuh kosong. Dia kering di luar tapi isinya kosong, kaya bola ping pong. Saya bilang, itu bagus. Bagus, Tante. Belum ada orang bisa bikin perkedel isinya kosong. Dia mau marah, salah. Mau ketawa, salah. Pikir betul juga ya. Betul, saya lihat perkedelnya tuh dalamnya itu kosong. Bagaimana bisa kosong? Saya juga aneh. Ini menantu teladan. Dia bisa bikin perkedel isinya kosong. Tapi itulah kalau mertua sudah ciong sama menantu ... begitu. Apa saja yang dibikin menantu rasanya jadi jelek.

Ada satu ibu muda dulu bilang: Pa, bapa sudah khotbah mengenai mengasihi sesama. Apa itu termasuk mertua saya? Kenapa? Bapa bilang harus mengasihi sesama manusia. Apa itu termasuk mertua saya? Ya, iya dong. Kalau mertuamu itu manusia bukan? Kan manusia. Suamimu kan manusia. Tapi bapa belum kenal sama mertua saya. Karena mertua saya setengah manusia, katanya. Karena dia ribut terus dalam kehidupan. Inilah saudara, saya seringkali berkata sebetulnya istri itu belahan jiwa. Itu dalam peribahasa Jawa. Istri itu belahan jiwa. Apalagi kalau tiap hari sama-sama. Tiap hari bareng. Tiap hari ke sana. Nggak ada aja satu hari, kosong jiwa. Itu yang bener, suami yang bener itu, nggak ada aja istri, kosong. Ada suami yang kalau nggak ada istri, MERDEKA, MERDEKA! Dia nyanyi di kamar mandi, Sekarang saya sudah bebas. Tapi di sini nggak ada. Di sini nggak ada. Sana sini, ada.

Yang kelima, saudara-saudara. Kita harus hallowed be Thy name, dikuduskanlah nama-Mu dalam bisnis. Memang dunia bisnis ini, dunia yang memang agak berat, saudara. Cuma saya suka bilang sama jemaat saya begini di Cianjur: Kalau modal kita 100 ribu, kita mau jual barang 125 ribu, ingin untung 25%. Orang sudah nawar 110 ribu, sudah ada untung sebetulnya. Tapi saudara belum mau jual, jangan ngomong begini: Belinya aja nggak segitu, nggak bisa segitu. Nggak bisa, belinya juga nggak bisa. Jangan. Lebih baik: Saya belum mau jual kalau begitu. Ngomong begitu saja jujur. Kalau 115, udah dah ko, ambil saja. Kalau 110 belum bisa. Jangan menipu. Jangan bilang begini. Nanti saudara-saudara akan dilihat oleh orang-orang.

Saya pernah saksikan kepada saudara, di Amerika ada orang yang jual kuda, orang kristen. Jual kuda, jual kuda. Ada orang paling kaya di kota itu, anaknya minta dibeliin kuda. Dia tunjuk satu kuda ini anak. Sudah, 200 dolar. Saya mau kasih 200 dolar. Ditawar, 150 dolar. Nggak bisa, pa, saya belinya 150 dolar. Saya ingin untung 50 dolar. 200 dolar. Ya, sudah. 200 dolar. Jadi. Sudah jadi, sudah uang cash, sudah beres. Kuda sudah dikasih. Sudah dua minggu, dia periksa pembelian kuda. Dia ingat kuda ini bukan 150 dolar dia beli 100 dolar. Kalau kita di Indonesia, ya itu untung kita, 100% untung kita. Modal 100, jual 200. Dia nggak. Dia ingat, dia orang kristen. Dia datangin suatu pagi: Bapa, minta maaf. Kemarin ini bapa beli saya punya kuda 200 dolar, terlalu mahal 50 dolar.

Setelah saya periksa, ternyata hanya 100 dolar saya beli. Jadi saya kembalikan 50 dolar. Tidak. Dia juga aneh, kenapa nih orang? Nggak usah, itu milik kamu. Aduh pa, saya tertuduh, pa. Karena saya ngomong sama bapa, modal saya 150 dolar. Padahal di buku 100 dolar. Jadi pa, terimalah kembali ini 50 dolar. Akhirnya diterima kembali. Keluarganya, orang-orang, temen-temennya bilang, kamu bodo. Ngapain dikembaliin 50 dolar? Orang bilang dia bodo. Tapi orang kaya yang beli, ngomong ke sana kemari. Gua baru tahu ada orang jual kuda, jujurnya luar biasa. Lu kalau beli kuda sama dia deh. Lu mau beli kuda sama dia. Dalam satu bulan, dia laku kudanya luar biasa. Karena jujur. Karena perkataannya bisa dipegang. Jadi hallowed be Thy name, tidak sembarangan. Oh, dikuduskanlah nama-Mu. Enak aja. Nanti dulu. Semua kekudusan harus ada pada beberapa bidang kehidupan kita. Berikut,

6:10 datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.

Datanglah kerajaan-Mu. Kita suka nyanyi, Kerajaan-Mu datanglah, ...

Matius 3:2  "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!"

Matius 4:17,
Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!"

Haleluyah. Ayat 23, Yesuspun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan di antara bangsa itu.

Matius 10:7 Pergilah dan beritakanlah: Kerajaan Sorga sudah dekat.

Mulai Yohanes Pembaptis, lalu Tuhan Yesus, kemudian Dia menyuruh murid-murid-Nya berkata: Beritakanlah, Kerajaan Allah sudah dekat. Sekarang dalam doa Bapa Kami, datanglah kerajaan-Mu. Saudara-saudara, saya harus baca semua, supaya kita semua dapat gambaran yang komplit. Ini bagian akhir dari keterangan saya. Lukas 

17:20. Atas pertanyaan orang-orang Farisi, apabila Kerajaan Allah akan datang, Yesus menjawab, kata-Nya: "Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah,
17:21 juga orang tidak dapat mengatakan: Lihat, ia ada di sini atau ia ada di sana! Sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu."

Jadi ketika kita berdoa, datanglah kerajaan-Mu, maksudnya Yesus, Kerajaan Allah di dalam kita. Kerajaannya berkerajaan di dalam kita. Kenapa saya mau ngomong ini? Karena ini ada hubungan dengan doa selanjutnya, yaitu jadilah kehendak-Mu. Karena setiap orang yang punya Kerajaan Allah di dalam hatinya, tidak akan sukar melakukan kehendak Allah. Jadilah kehendak-Mu. Kita mulai dulu datanglah kerajaan-Mu. Datanglah kerajaan-Mu. Saya tadi ingin gambarkan kepada saudara, bahwa Yesus berkata kerajaan tidak datang dengan lahiriah. Nggak kelihatan mata. Saya kasih ilustrasi. Saudara pernah sakit perut. Saya rasa semua sudah pernah rasa sakit perut. Tapi sakit perut tidak bisa dilihat. Kemarin cucu saya sakit perut. Ditanya sama dokter, yang mana yang sakit? Di sini. Kenapa dokter tanya? Karena dokter nggak bisa tahu, nggak bisa lihat. Walaupun dengan mikroskop di mana sakit perut itu. Sakit perut hanya bisa dirasa tapi tidak tahu, tidak bisa dilihat.

Apakah sakit perut itu sama dengan angin? Kita kepanasan sekarang karena tidak ada angin, jendela ditutup. Kadang-kadang angin berwarna merah kalau kita dikerik. Kalau kita dikerik, keluar merah, itu bukan berarti angin berwarna merah. Atau, uh, kemarin itu angin berwarna biru, berwarna hijau. Tidak. Angin ada tapi kita tidak bisa lihat. Demikian juga kerajaan Allah, itu ada dalam seseorang. Kita bisa rasa tapi kita tidak bisa lihat. Kita bisa rasa orang ini ada di dalam kerajaan Allah. Dalam percakapannya, dalam tindakannya, dalam semangatnya, dalam cara hormatnya sama Tuhan. Kita tahu ada Kerajaan Allah. Tapi kita tidak bisa lihat. Karena Kerajaan Allah itu ada di dalam kamu.

Nah, apa kerajaan Allah ini? Roma 14:17, nanti, jadilah kehendak-Mu, itu besok saja kita kerjakan. Roma 14, ini sebagai ayat yang terakhir dari yang terakhir. Roma 

14:17 Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.

Tadi saya katakan dalam sesi pertama, ketika kita berdosa, tidak ada damai sejahtera. Ketika kita mencuri, tidak akan ada sukacita. Ketika kita membenci, mendendam kepada seseorang, tidak akan ada sukacita, tidak ada Kerajaan Allah. Karena Kerajaan Allah itu disebut pertama kali disini, di dalam ayatnya yang ke 17, Kerajaan Allah bukan soal makanan tapi soal kebenaran dan damai. Kalau damai, tidak ada kebencian, tidak ada marah, tidak ada dengki, tidak ada kepahitan, tidak ada cemburuan, tidak ada iri hati. Sukacita, tidak ada kesedihan, tidak ada kemurungan, tidak memikirkan perkara-perkara. Ini Kerajaan Allah. Kan di surga semuanya malaikat-malaikat menyanyi, memuji kepada Tuhan di dalam Kerajaan Allah.

Di dalam Kerajaan Allah, besok kita akan bicara berkat materi, tentang daily bread. Tapi sekarang kita lihat dulu secara rohani. Ada kerajaan Allah. Ketika seseorang, saudara-saudara, kehilangan sukacita. Raja Daud, ketika dia berdosa, ia mengambil istri orang, ia berdosa. Dosa sangat najis. Kebencian kepada Tuhan. Ia bilang begini sama Tuhan, sembahyang: Kembalikanlah kesukaan selamat yang dari pada-Mu, yang datang dari Roh sukacita. Kembalikan! Artinya Tuhan ambil. Ketika seorang hidup dalam dosa, Tuhan ambil kerajaan, Kerajaan Allah tidak ada lagi dalam dirinya. Maka doa Bapa Kami ini sangat komplit dan sangat luar biasa. Belum seminggu Tuhan buka ini. Sangat komplit, sangat luar biasa. Kerajaan datang.

Di mana ada kerajaan, di situ ada raja. Tengoklah, Aku berdiri di muka pintu sambil mengetuk. Siapa yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk ke dalam dia, dan Aku akan makan dengan dia, dan dia dengan Aku. Izinkanlah, walaupun cuma dua hari satu malam, izinkanlah Dia yang mengetuk pintu itu, masuk di dalam hati saudara. Ketika Dia masuk dalam hati saudara, maka Kerajaan Allah, Kerajaan-Nya, waktu kita doa datanglah kerajaan-Mu, itu terjadi dalam hidup kita.

Saudara, seorang yang bernama Socrates atau Martin Luther, dia bilang begini: Jangan tidur sebelum menyelesaikan semua urusan. Jadi kalau dia mau tidur, dia bilang: Tuhan, saya ampuni kesalahan orang itu sama saya. Jadi dia geunah. Tuhan, orang itu marah sama saya tapi saya ampuni dia. Tuhan, dia salah paham sama saya, saya ampuni dia. Jadi dia tidur selalu nyenyak.

Jangan bawa problem di tempat tidur. Tidurlah dengan sejahtera. Jangan sesuatu menghalangi kita dari ketenangan. Maka itu saudara, saya nggak ada kesulitan tidur, nggak ada. Yang sulit tuh kalau bangun, karena saking nyenyaknya. Dan ini, saudara, sampai dengan cucu saya. Kalau kita sudah tidur bersama, oh haleluyah, puji Tuhan, susah bangun. Karena apa? Nyenyak.

Malam ini sebelum tidur nanti, selesaikan semua urusan-urusan. Hari ini tidak akan kembali lagi, urusannya urusan besok. Jangan pikirkan hari esok, jangan pinjam hari yang sudah lewat. Hidup hari ini. Mari kita berdiri bersama-sama.
 

Kebaktian 3/4

Kita akan meneruskan pelajaran kita dari berkat keluarga. Keselamatan total, keselamatan komplit dari keluarga. Kita sudah sampai kepada dikuduskanlah. Jadilah kehendak-Mu. Kita buka lagi Matius pasal 6. Kita membaca ayatnya yang menjadi pegangan kita. Matius

6:10 datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga.

Ada tiga macam kehendak, yaitu kehendak Tuhan, kehendak manusia .. kehendak kita, dan kehendak dari iblis. Kita tidak ada urusan dengan kehendak iblis. Tapi yang saling berperang di dalam kehidupan kekristenan, "berperang", yaitu kehendak kita dan kehendak Tuhan. Saya seringkali mendengar orang berkata begini, saya bergumul dengan Tuhan. Bergumul dengan Tuhan. Orang yang bergumul dengan Tuhan belum tahu kehendaknya Tuhan! Dia berperang antara kehendak diri sendiri dan kehendaknya Tuhan. Contoh, saya kasih dua. Pertama, Tuhan Yesus. Dia berdoa di Taman Getsemani itu sampai tiga kali. Dan Dia minta, doanya itu sama, yaitu Bapa, kalau boleh cawan dosa ini disingkirkan dari pada-Ku.

Dengan lain kata, Yesus sebetulnya tidak mau minum cawan dosa manusia itu. Dia punya kehendak kalau boleh, Bapa, singkirkan cawan dosa ini. Aku tidak mau minum. Tetapi Dia bilang, bukan kehendak-Ku yang jadi, kehendak-Mulah yang jadi. Tapi Dia masih bergumul. Karena kalau saat itu Dia sudah menyerah, sudah nggak usah lagi tetap sembahyang. Tapi Dia sembahyang untuk kedua kali, membangunkan Petrus: Kenapa kamu nggak bisa berjaga-jaga dengan Aku satu jam lamanya? Disitulah Dia mulai berkeringat sama seperti tetes-tetes darah, karena bergumul. Kehendak Dia: Kalau boleh, Bapa, ini cawan Saya tidak mau minum. Tetapi bukannya kehendak-Ku melainkan kehendak-Mu yang jadi. Tuhan nggak jawab. Bapa nggak jawab. Sampai tiga kali Dia berdoa. Doa yang sama. Seolah-olah Dia mau memberikan usulan sama Bapa. Ini saya punya kehendak ini, Bapa, kalau boleh singkirkan cawan ini.

Tiga kali loh sembahyang di Taman Getsemani. Kalau yang di film-film itu, The Passion of Christ, saya sih lihat vcd nya, itu sih ditambah-tambah, seperti ada iblisnya yang berbisik sama Dia. Mana mungkin Kamu bisa tahan. Sebetulnya di Alkitab tidak ada. Dia sedang bergumul antara kehendak Dia dengan kehendak Tuhan. Kalau saudara jujur terhadap diri sendiri, sebetulnya yang kita sedang bergumul adalah kehendak kita ... daging, dengan kehendak Tuhan. Lalu kemenangan datang, ketika Dia berkata: Bukan kehendak-Ku yang jadi, tetapi kehendak-Mulah Tuhan yang jadi! Lalu Dia balik sama murid-Nya, murid-Nya sedang tidur. Ya sudah, tidur kamu. Cape. Lalu begitu Dia bangun, orang menangkap Yesus. Tapi Yesus sudah menang. Jadi kemenangan kita, keteduhan kita dalam doa Bapa Kami, ini di sini. Jadilah kehendak-Mu.

Nah, kehendak Tuhan itu selalu baik. Ini harus selalu ingat, saudara. Walaupun nampak pada awalnya seperti tidak baik, seperti kurang baik, bahkan kelihatan jelek seperti Ayub alami. Tapi ujungnya, di belakangnya, selalu baik. Dan kalau saudara baca Ibrani 12, pada waktu seorang bapa mendidik anaknya dengan pukulan, katanya, kamu jangan patah hati, jangan patah semangat. Bapa mana yang tidak mendidik anak yang diakuinya dengan hajaran? Kalau kamu tidak mau dididik, tidak mau ditegur, tidak mau dihajar karena salah, kamu anak gampang, kamu anak, bahasa Indonesia lama, haram. Dibiarkan. Tuhan nggak ngomong, nggak apa, nggak didik, nggak kasih apa-apa. Jadi kehendak Tuhan ini, yang pertama, selalu baik!

Dan yang kedua, kehendak Tuhan itu selalu bijaksana. Aduh, selalu bijaksana. Sepertinya jalan-Nya itu rumit, ke sana kemari, ke sana kemari. Eh, pada akhirnya, oh Tuhan, segala sesuatu itu ternyata baik. Nanti saya akan sisipkan kesaksian-kesaksian.

Yang ketiga, kehendak Tuhan itu selalu suci. Ini jangan sampai saudara lupa. Ada orang yang nyeleweng, mungkin sudah kehendak Tuhan, pa, saya begini. Nggak. Kehendak Tuhan tidak pernah nyeleweng. Kehendak Tuhan tidak pernah melawan hukum-Nya sendiri. Kehendak Tuhan selalu baik, selalu bijak, dan selalu suci. Tadi malam saya berkata bahwa tidak ada dosa bisa berjalan bersama-sama dengan Tuhan. Tidak ada dosa bisa berjalan bersama-sama dengan Tuhan. Kita tidak bisa kompromi, kehendak kita dengan kehendak Tuhan.

Saya kasih lagi ilustrasi. Abraham. Tuhan bilang: Hei Abraham, Sodom Gomora Aku bakar habis. Aduh Tuhan, kalau ada lima puluh orang benar, Tuhan masih hukum nggak? Tidak, kata Tuhan. Kalau ada lima puluh orang benar, Aku nggak akan hukum. Saudara lihat, kalau saja ada yang benar saja, Tuhan tidak hukum. Tapi karena tidak ada, Aku akan hukum. Maaf Tuhan, jangan marah - Yahudinya keluar - kalau empat puluh? Nawar. Empat puluh kalau ada. Karena tidak ada. Kalau tiga puluh, Tuhan? Tidak ada. Sampai akhirnya bilang: Kalau sepuluh, Tuhan? Tidak ada. Kalau ada, Aku tidak akan hukum, tapi karena tidak ada. Saudara lihat sekarang, sepuluh orang benar bisa menahan amarah Tuhan. Sepuluh orang benar, cukup menyenangkan hati Tuhan untuk tidak membakar, untuk tidak membongkar balikkan Sodom Gomora.

Sampai Billy Graham berkata: Kalau Tuhan tidak hukum Amerika, Tuhan musti minta maaf sama Sodom Gomora. Karena apa? Karena Amerika mengiyakan, mengijinkan, saudaraku, laki-laki kawin sama laki-laki, beberapa negara bagian. Di Belanda pun demikian. Waktu saya khotbah di Belanda, mereka bilang, pak Awondatu, jangan khotbah mengenai homoseks kawin homoseks. Jangan, pak. Karena homoseks disini sudah diakui pemerintah. Ada pendeta ini, ada pendeta itu, khotbah begitu, wah, langsung diprotes. Diprotes sama jemaat yang homo. Saya bilang: Aduh Tuhan, saya masa takut sih digini-giniin? Jadi saya khotbah tapi saya khotbah pakai bijaksana. Saya bilang: Kalau saudara baca Alkitab, Tuhan tidak menciptakan Adam dan Edi tapi Adam dan Hawa. Mereka nyengir. Mau protes, nggak bisa, sebab betul di dalam Alkitab.

Betapa kita memaksakan kehendak kita. Saya mau kawin, laki-laki sama laki-laki. Presiden George Bush makanya dibenci karena dia tidak mentolerir laki-laki kawin sama laki-laki. Harus laki-laki sama perempuan. Dan ini November keputusannya. Negara bagian ada yang sudah terima, tapi masih ada yang nolak. Jadi, urusan dari dulu sampai sekarang adalah berperangnya, bertempurnya kehendak Tuhan dengan kehendak kita. Kita sering kali memaksakan kehendak kita yang tidak baik, tidak bijak, tidak suci, kepada kehendak Tuhan. Tidak mungkin. Maka kata Yesus, jadilah kehendak-Mu seperti di surga. Di surga tuh memang, menurut alkitab, banyak pekerjaan di surga.

Tapi saya mau pakai satu saja kata 'seperti di surga', demikian juga di bumi seperti di surga. Di surga, saudara, aktifitas di surga tidak ada yang malas. Semuanya rajin. Malaikat rajin memuji Tuhan. Malaikat rajin melakukan kehendak Allah. Rajin memuji, sukacita, ada orang bertobat seisi surga bersukacita. Mereka rajin bersukacita. Dan saya mau pakai rajin ini.

Saudara-saudara, kita harus rajin. Memang kita punya Bapa di surga, tapi bapa di surga tidak suka anak malas; Dia suka orang rajin. Kalau saudara lihat, murid-murid yang dipilih oleh Yesus tidak ada yang nganggur. Semuanya yang dipilih sedang kerja. Matius lagi kerja di bea cukai, saudara-saudara, ya. Lalu Petrus, Yohanes sedang tangkap ikan. Semuanya sedang bekerja. Semuanya bukan pengangguran. Semua sedang bekerja, bekerja, bekerja, bekerja, bekerja.

Nah, kalau sekarang yang masuk sekolah alkitab ada yang pengangguran. Ada yang, aduh, di sana ngelamar ditolak, di sini ngelamar ditolak. Ah, sekolah alkitab, ah. Siapa tahu, susuganan, sugan wae, siapa tahu saya bisa jadi pendeta. Karena di sana gagal, di sini gagal, di situ gagal. Oh, Tuhan mah nggak pernah pakai, saudara-saudara, yang nggak ada kerjaan, luntang lantung, bu tau lo. Tidak. Dia cari yang rajin. Nah, ini ada hubungannya, karena siang hari ini saya mau bicara tentang berkat jasmani, hubungannya dengan ayat yang berikutnya, ayat 11,

6:11 Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya

Dalam bahasa Inggris, Give us this day our daily bread. Berikan hari ini roti kami yang sehari-hari. Ini membawa kita, mengingat kita kepada zaman Israel, ketika makan manna dari surga. Mereka harus gelar tikar, gelar kain, untuk terima karena pagi-pagi, mereka akan dapat makanan yang cukup untuk keluarga. Yang anak dua, yang anak lima, yang anak tujuh, yang anak sembilan, sama. Dapat berkatnya dapat, cukup, pas, dari Tuhan. Jangan disimpan, kata Tuhan, besok ada lagi. Ada yang bandel, disimpan. Busuk, sorenya busuk. Jadi dia belajar, mereka belajar makan roti yang sehari-hari.

Nah, berkat Tuhan itu untuk kita sebetulnya sehari lepas sehari. Ini kita bicara materi, kita bicara daily bread ini. Dan berkat Tuhan itu, saudara-saudara, tidak pernah minggu lepas minggu. Tidak. Sehari lepas sehari. Kita pun nyanyi, Hari lepas hari bertambah-tambah, apa? Gemuknya. Karena kita makan dari hari ke hari itu semua yang cia pouw, semua kita makan, dari hari ke hari ini, Firman dari pada Tuhan, dari hari ke hari, daily bread.

Waktu saya buka komentator, ada 30 macam keterangan tentang ayat ini. Tetapi yang menarik saya, seorang yang bernama Thiofilak. Thiofilak berkata, dia salin ayat ini, roti yang cukup buat mengenyangkan tubuh kami. Kenyang saja. Kenyang, sudah berhenti. Roti yang mengenyangkan tubuh kami.

Mari kita belajar tiga hal yang penting pada hari ini. Yang pertama, Allah atau Tuhan adalah sumber berkat jasmani sama seperti sumber berkat rohani. Ingat saudaraku, bukan anak kita yang bawa hoki. Aduh, setelah saya punya anak yang ketiga ini, pak Awondatu, hoki saya, usaha, mata pencaharian maju. Ini karena anak yang ketiga. Makanya anak yang ketiga ini, aduh, bawa hoki. Dia lupa, yang kasih anak ini siapa? Tuhan! Jadi ingat, berkat ini sumbernya adalah Tuhan. Bisa bilang amin, saudara-saudara?

Walaupun kita kerja, walaupun kita dagang, walaupun kita berniaga, tapi yang menggerakkan orang belanja sama kita, yang menggerakkan orang pesan barang sama kita, itu Tuhan! Maka yang pertama kita harus belajar adalah Allah sumber berkat jasmani. Dia sumber berkat. Jadi kalau saudara sekarang di bank menyimpan uang sekian milyar, itu dari Tuhan. Tuhan percayakan saudara pegang uang itu.

Sekarang yang kedua. Nanti kita gabung. Yang kedua, saudara harus belajar bahwa berkat Tuhan, berkat materi ini adalah pemberian Tuhan. Karena yang sembahyangnya bilang: Berilah kami pada hari ini. Ingat saudara, berkat Tuhanlah yang menjadikan kita kaya. Pemberian Tuhan. Kalau anak kita bisa sekolah tinggi, bisa lulus ujian, bisa punya title, SLL ... Sarjana Luntang Lantung, atau saudaraku, STP, itu semua karena pemberian dari Tuhan.

Kalau saudara punya berkat besar, usahanya mulai berkembang, itu pemberian daripada Tuhan. Saya yakin satu hal loh saudara, bahwa semua kita itu ada berkatnya. Saudara mungkin bertanya sama saya, kenapa saya belum diberkati? Nanti kita akan gabung, ya.

Nomor tiga, kita harus menilai pemberian berkat Tuhan ini adalah mengajarkan kita berharap dan bergantung kepada Dia. Berharap dan bergantung kepada Dia. Dan ini, saudara, saya ingin mengajar saudara hal yang baru pada hari ini. Harap saudara memperhatikan soal berkat. Pak Awondatu, saya sudah dengar Firman Allah. Saya percaya kok Tuhan berkati saya. Tapi kok saya belum dapat berkat itu, saya belum dibukakan jalan. Apakah itu dalam rumah tangga, keluarga, usaha, mata pencaharian, pekerjaan. Saya percaya kok Firman Tuhan yang disampaikan oleh bapa. Saya percaya. Saya sudah berdoa. Saya sudah mengucap syukur. Tapi kenapa Tuhan belum jawab?

Dan inilah yang ingin saya terangkan kepada saudara. Tiga nomor ini digabung dalam keterangan berikut ini. Kita buka Kisah Rasul 

1:4 Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ - Untuk apa? - menantikan janji Bapa, yang--demikian kata-Nya--"telah kamu dengar dari pada-Ku.

Saya yakin Tuhan Yesus bisa berkati, saudaraku, murid-murid-Nya dengan kepenuhan Roh Kudus hari itu juga. Tapi kenapa Dia bilang, murid Yesus harus menanti, menunggu. Kita lompat kepada Kisah Rasul pasal 2. Ketika Kisah Rasul pasal 2, saudara tidak boleh lupa dan tidak boleh baca ayat ini sendiri-sendiri. Kisah Rasul

2:1. Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat.

Ayat ke 2 apa mulainya? Mulai apa? Tiba-tiba! Waktu Roh Kudus datang, Dia tidak datang pelan-pelan tapi Dia datang tiba-tiba. Pasal 1:4, menunggu. Tunggu saja. Tidak disuruh berapa hari, tapi tunggu saja. Tetapi ketika mereka sudah menunggu, menunggu, menunggu, pasal ke 2 apa tadi? Tiba-tiba! Sekarang saudara-saudara sedang menanti, menunggu. Saudara sudah percaya, Tuhan akan memberkati usaha saudara. Tuhan akan memberkati keluarga saudara. Tuhan akan memberkati pekerjaan saudara. Tapi saudara harus menunggu!

Saudara mungkin berkata, berapa lama saya harus menunggu, pak? Berapa lama saya harus tunggu? Berapa lama? Musa tunggu 40 tahun sebelum dipakai Tuhan. Yusuf tunggu 13 tahun. Rasul Paulus tunggu 14 tahun. Siapa kita yang berani protes sama Tuhan? Saya sudah lama nunggu, Engkau belum berkati, belum berkati.

Musa saja 40 tahun nunggu. Ada di antara saudara yang sedang menunggu, menunggu berkat. Kapan ini urusan? Saudara yang diputuskan oleh pacar, jangan sedih - Tuhan bisa ganti dengan yang lebih baik, yang lebih cantik, yang lebih ganteng. Jangan nangis. Jangan. Tunggu. Aduh oom, belum ada nih, istilahnya belum ada bemo lewat, dulu Jakarta istilahnya gitu. Oom, bemo belum lewat. Sekarang kan bajaj. Oom, bajaj belum lewat. Tunggu. Haleluyah. Sebab pertolongan Tuhan itu, apa? Pasal 2:2, Tiba-tiba! Nanti saudara sudah aduh, aduh, gimana ya, kapan ini? Tiba-tiba. Tiba-tiba berdirilah dihadapanmu seorang yang berkumis. Tiba-tiba berdirilah satu bos dihadapanmu, mengajak engkau kerja. Tiba-tiba berdiri seorang yang mengajak kamu. Tiba-tiba, tiba-tiba, dan berkat dari Tuhan selalu datang tiba-tiba. Tapi kita harus tunggu. Aminnya mah enak, nunggunya yang lama. Ada haleluyah, saudara? Tunggu. Haleluyah. Puji Tuhan.

Coba, saudara-saudara membuka Keluaran pasal 33. Dalam Keluaran pasal 33, di sini kita belajar satu hal yang lain, mengenai bagaimana Tuhan mengajar kepada Musa. Satu hal. Keluaran

33:18 Tetapi jawabnya: "Perlihatkanlah kiranya kemuliaan-Mu kepadaku."

Kita kan nggak perlu meminta kemuliaan Tuhan. Kita minta apa saja, dari jodoh sampai kepada urusan keuangan, kita bisa minta sama Tuhan.

33:19 Tetapi firman-Nya: "Aku akan melewatkan segenap kegemilangan-Ku dari depanmu dan menyerukan nama TUHAN di depanmu: Aku akan memberi kasih karunia kepada siapa yang Kuberi kasih karunia dan mengasihani siapa yang Kukasihani."
33:20 Lagi firman-Nya: "Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup."
33:21 Berfirmanlah TUHAN: "Ada suatu tempat dekat-Ku, di mana engkau dapat berdiri di atas gunung batu;
33:22 apabila kemuliaan-Ku lewat, maka Aku akan menempatkan engkau dalam lekuk gunung itu dan Aku akan menudungi engkau dengan tangan-Ku, sampai Aku berjalan lewat.
33:23 Kemudian Aku akan menarik tangan-Ku dan engkau akan melihat belakang-Ku, tetapi wajah-Ku tidak akan kelihatan."

Walaupun tadi saudara menyanyi Kucari wajah-Mu, sama seperti Musa ingin melihat kemuliaan Tuhan. Tapi Tuhan bilang: Kamu nggak boleh lihat kemuliaan-Ku, kamu akan mati. Tidak pernah ada orang bisa lihat Aku. Tapi ada satu batu, yang saudara tadi sudah bilang, Yesus. Aku mau taruh kamu pada lekuk batu itu. Saudara lihat ya, batu, Musa akan dimasukan ke dalam batu lalu ditutup sama tangan Tuhan. Jadi Musa ada di mana? Di dalam batu.

Nah, kalau saudara baca suratan Rasul Paulus, dia selalu berkata: Di dalam Kristus, di dalam Dia, di dalam Tuhan, di dalam Kristus, di dalam Dia, di dalam Dia, di dalam Dia, di dalam Dia, di dalam Dia. Berapa lama Aku mau tutup tangan-Ku, tidak disebut. Tunggu! Kita di dalam Kristus. Musa kan kalau ditutup sama tangan Tuhan kan gelap. Dia tidak tahu, kapan dia boleh lihat belakangnya Tuhan? Dia tidak tahu. Berapa lama? Tapi Dia tahu Tuhan sedang berjalan melewati dia. Ada haleluyah, saudara?

Sekarang kita kebaktian, di Krawang, di Jakarta, di Bandung, di Bali, di Denpasar, di mana saudara berbakti kepada Tuhan, di Bogor, saudara bekerja di dalam Tuhan. Saudara berbakti di dalam Kristus. Kita bernyanyi di dalam Tuhan. Bekerja di dalam Kristus. Saudara-saudara sudah minta kepada Tuhan, Tuhan bilang tunggu. Tunggu di mana? Di dalam Kristus. Tunggu di mana? Di dalam Tuhan. Saya sakit, sudah minta sama Tuhan, belum disembuhkan. Tunggu. Di mana? Di dalam Kristus. Belum kelihatan, kapan Dia mau bekerja, kapan mau Dia sembuhkan, kapan Dia mau tolong? Tapi kita tahu, Dia sedang berjalan melewati kita, dan Dia pasti menolong kita. Ada haleluyah, saudara-saudara? Itu sebabnya, serahkan bisnis saudara kepada Tuhan. Dan jangan lupa kebaktian. Jangan lupa ada di dalam Tuhan.

Karena kita ada di dalam Kristus, di dalam Dia, di dalam Kristus, di dalam Dia ada kekuatan, di dalam Dia, di dalam Dia, di dalam Dia, di dalam Kristus, di dalam Tuhan, di dalam Dia, di dalam Kristus, di dalam Tuhan. Kita bekerja, kita berbakti, kita beribadah, kita berniaga, kita bekerja, tidur, bangun, bekerja, terus, di dalam Tuhan. Sudah minta. Tuhan nggak bodoh. Tuhan ingat apa permintaan kita. Tapi kita nggak bisa paksa sama Dia. Musa 40 tahun, Yusuf 13 tahun,  Paulus 14 tahun.

Naaman, musti berapa kali kecemplung? Tujuh kali. Kenapa nggak sekali sembuh? Itu aturan Tuhan, yang kita nggak bisa protes. Musti tujuh kali. Bayangkan jendral, saudara-saudaraku, celupkan badannya tujuh kali di sungai Yordan. Bukan dibaptis. Kalau dibaptis, ada yang melayani, Dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Ini nggak, dia sendiri. Dia menyamar, malu pakai jendralnya. Kalau sudah enam kali mungkin dia bilang, kalau gua ke tujuh kali tidak sembuh, awas Elisa, dipancung kepala kamu. Tapi begitu ke tujuh kali, apa kata Firman Allah? Kulitnya sembuh seperti kulit bayi.

Belajar kita menunggu sama Tuhan. Tunggu. Tunggu. Ada satu pendeta di Jawa Tengah kawin sudah 8 tahun, belum punya anak. Dia sudah minta sama Tuhan, tapi dia nggak sabar. Kita kalau kerja sama Tuhan, nggak sabar, nggak bisa. Nggak sabar. Dia mungut anak. Ketika dia mungut anak, pada waktu mungut anak, pas mungut anak satu bulan, istrinya hamil. Tuhan membuktikan, kamu nggak percaya sama Aku? Kamu mungut anak, kamu nggak percaya Aku bisa kasih anak sama kamu? Ada satu keluarga di Jakarta, anaknya dua, perempuan. Ibunya, istrinya hamil baru tiga minggu. Telepon sama saya: Pak Awondatu, istri saya hamil. Boleh nggak digugurkan? Jangan. Bagaimana kalau anak itu laki-laki? Wah, dia pakai kata-kata saya. Jadi ini anak laki-laki, pak? Ini laki-laki, pak? Saya bilang, bukan. Bagaimana kalau anak itu laki-laki? Wah, dia imani. Kalau anak itu laki-laki, saya bilang, kasih nama Samuel.

Jadi dia bilang, jangan digugurkan, ma. Kata pak Awondatu ini laki-laki. Kata pak Awondatu, laki-laki. Dia pakai iman saya. Saudara-saudaraku, waktu istrinya melahirkan, dulu belum ada apa tuh ... belum ada tahu 4 bulan udah laki-laki perempuan, belum ada. Waktu itu saya diajak ke rumah sakit Bunda: Ayo pak, istri saya mau melahirkan, pak. Aduh, laki-laki, ya pak, yah? Laki-laki, ya, pak? Dalam nama Yesus, saya bilang. Orang lain yang hamil, saya yang gugup, saudara-saudara. Karena kalau anak itu keluar perempuan, apa kita harus kasih nama Samuel Nio, saudara-saudara? Tidak mungkin. Jadi, dalam nama Yesus Tuhan. Ea ... ea ... ea ... lari dia ninggalin saya. Bagaimana, suster? Laki-laki. Aduh pak, laki-laki. Sekarang sudah mahasiswa. Namanya Samuel. Dua Samuel, satu dari Semarang, sekarang sudah lulus juga dari perguruan tinggi.

Jadi, kita itu musti tunggu. Berkat mah pasti datang. It's the matter of time, katanya Elvis Presley. Hanya soal waktu. Gimana kamu, bisnis kok begini-begini aja? It's the matter of time. Kamu lihat nanti, tenang aja. It's the matter of time. Tenang saja. Dia pasti datang mengunjungi kita. Haleluyah. Eh, Lazarus sakit: Yesus, tolong cepat-cepat ke sana. Apa kata Alkitab? Dia sengaja dua hari bikin lambat, santai-santai, jalan pagi, hiking. Aduh, kok Yesus, itu Lazarus sakit, kok Kamu hiking? Ah, itu urusan Saya, Dia bilang. Sudah, tenang. Dua hari hiking, saudara. Ayo kita jalan. Jadi saudara, Tuhan pasti menolong. Yesus pasti menolong. It's the matter of time. Dia pasti datang kepada kita. Haleluyah. Kita masuk di dalam hal yang lain. Ampunilah dosa kami. Matius 

6:12 dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;

Terus terang, ini ayat salinannya salah. Karena bahasa Inggris berkata begini: And forgive us our debts, ampunilah hutang-hutang kami, seperti kami juga mengampuni orang yang berhutang kepada kami. Tuhan disini memakai bahasa pengadilan. Jaman dulu, orang yang tidak bisa membayar hutang, akan dihukum. Di sini ditulis dalam catatan saya, from justice to mercy - dari keadilan kepada kemurahan. Kalau keadilan, kita yang berhutang nggak bisa bayar karena s nya itu ada s, debts, itu hutang-hutang kami. Semua dosa kita, kesalahan kita itu adalah hutang. Jaman dulu, ibu saya suka menyanyi, Isa Hu yang ajaib - sabari masak, sabari nangis - Ku berhutanglah ... Ku berhutang jiwa ... Lagi selamatku. Jadi dia sembari masak, dia menyanyi berlinang air mata karena dia merasa bersyukur, hutangnya, hutang dosanya itu diampuni oleh Tuhan. Dosa dan kesalahan kita yang banyak di hadapan Tuhan itu menjadi seperti hutang yang harus dibayar.

Mungkin dalam ruangan ini dosa yang paling besar, hutang yang paling besar adalah hutang saya. Banyak. Siapa tahu? Tetapi kita dengan dosa-dosa, dengan banyak pelanggaran-pelanggaran manusia, di tulis dengan hutang. Siapa di antara saudara-saudara sedang berperang dalam hal ini, coba dengarkan keterangan ini. Secara hukum, pengadilan, justice, pengadilan, kita harus di penjara, kita harus dihukum. Upah dosa, maut. Tetapi di pengadilan kan ada pengampunan, ada mercy, ada kemurahan. Makanya banyak orang yang harusnya dihukum, tapi tidak dihukum, itu dituntut 10 tahun, divonis bebas. Dituntut 6 tahun, divonis bebas. Mereka itu, orang-orang rasa nggak adil. Kenapa dituntut sampai 10 tahun, divonis bebas? Tapi coba kita tempatkan diri, orang yang dituntut 10 tahun. Betapa senangnya kita ketika kita dituntut 10 tahun, divonisnya bebas. Dituntut 12 tahun penjara, divonis bebas. Dituntut hukuman mati, divonis bebas.

Bukan karena tidak ada bukti, bukti semua menyatakan kita bersalah. Tetapi Raja segala raja merasa belas kasihan sama kita, Dia mengampuni semua hutang kita. Tadi dikatakan dalam ayat 12, ampunilah kami akan hutang-hutang kami, seperti kami juga mengampuni orang yang berhutang kepada kami. Karena dalam bahasa Inggris, dua-duanya pakai s. Jadi sembahyangnya gini, Yesus itu, mengajarnya: Ampunilah hutang-hutang kami seperti kami sudah mengampuni hutang-hutang orang. Atau ampunilah hutang-hutang kami, maka kami akan mengampuni hutang-hutang orang seperti kami sudah mengampuni hutang-hutang orang. Nah saudara, ini adalah ada satu maxim di dalam  kalangan orang Yahudi: Jangan tidur, sebelum kamu mengampuni. Itu orang Yahudi, peribahasa. Jangan kamu tidur malam, sebelum mengampuni; jangan bawa beban tidak mengampuni, beban hutang itu, saudaraku, dibawa tidur.

Jadi seperti kami mengampuni ini, take and give. Hukum yang adil sekali. Kalau kita mau diampuni, kita harus siap mengampuni. Ada haleluyah? Rasanya nggak adil kalau kita minta diampuni, tapi kita tidak mengampuni orang. Matius 18. Dalam Matius 18 kita melihat perikop yang diajarkan Tuhan Yesus tentang perumpamaan pengampunan ini.

18:21. Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?"
18:22 Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.
18:23 Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.
18:24 Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.
18:25 Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya.
18:26 Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.
18:27 Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.
18:28 Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu!
18:29 Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.
18:30 Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya.
18:31 Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.
18:32 Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.
18:33 Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?
18:34 Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.
18:35 Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."

Nanti malam ada Perjamuan Kudus apa tidak? Ada? Jangan masuk Perjamuan Kudus kalau tidak dengan pengampunan, dengan roh pengampunan. Nah, sekarang kita lihat. Keselamatan total dalam rumah tangga. Kita sudah selamat. Kenapa kita tidak mengampuni orang? Kalau kita tidak mengampuni orang, Bapa di surga tidak mengampuni kita. Belum selamat. Dan kalau Bapa di surga belum mengampuni kita, apa yang terjadi? Berkat yang kita minta, daily bread, roti sehari-hari, kita tidak akan bisa dapat. Waktu penantian akan berkat tambah lama. Sekarang begini, untuk istri-istri yang dikecewakan oleh suami atau mantan suami, demi nama Yesus karena kasih sayangnya Tuhan, hari ini ampuni. Ampuni dia. Nggak masuk akal, dia nyakitin saya, dia ceraikan saya. Dalam nama Yesus, ampuni.

Saudara yang diputuskan oleh pacar. Saudara sudah cinta sama dia, diputuskan, Demi nama Yesus, ampuni dia. Ampuni dia. Kan kita mau jadi seperti Bapa kita di surga. Ampuni. Saudara ditipu oleh rekan bisnis, uang saudara dimakan, nggak dikembalikan. Ditagih, dia lebih galak. Ampuni, dalam nama Yesus. Saya enak ngomong ampuni. Saudara yang ngalami, berat. Tapi ampuni. Ini jalan satu-satunya, nggak ada lagi jalan. There's no subtitute to be good strong christian. Let us forgive ... semua yang bersalah sama kita, kita ampuni. Coba kita renungkan. Sebagai ayat terakhir untuk siang hari ini. Kita buka Roma

12:17 Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang!
12:18 Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!
12:19 Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan.
12:20 Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya.
12:21 Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!

Ada haleluyah, saudara? Apa maksudnya kalau seterumu lapar beri dia makan, kalau haus beri dia minum? Artinya saudara sudah ampuni dia. Nggak mungkin saudara kasih makan kalau saudara belum ampuni. Nggak mungkin saudara kasih makan, minum. Nih makan, makan, rasain lu ya, lu rasain abis makan ini, rasain pembalasan Tuhan. Nggak mungkin. Ampuni saja dia.

Nah, kalau ayat itu, beri keluasan kepada-Ku untuk membalas. Sama mau berkelahi. Saudara berkelahi, mau balas dendam, berkelahi. Ketika saudara mau berkelahi, saudara lihat ke belakang, Tuhan bilang: Minggir, minggir, bukan urusan kamu, urusan Aku. Nanti Aku yang lawan. Saudara lihat tangan-Nya Tuhan, kepalan-Nya lebih gede. Saudara lihat kepalan saudara, udah panuan, kecil lagi. Ah sudahlah Tuhan, silahkan. Silahkan Tuhan, Tuhan yang urus. Urus beres, saudara. Maka siang hari ini, ampuni. Coba katakan sama-sama: Ampuni. Coba ngomong kiri kanan: Ampuni orang lain, ampuni sesama. Kalau yang nggak ada orang kiri kanannya, ngomong sama sendiri saja. Kita berdiri bersama-sama.

 

Kebaktian 4/4

Pada bagian akhir dari Kemah Keluarga ini, saya akan tutup dengan satu pokok dari Doa Bapa Kami kembali. Kita melihat bagian terakhir dari Doa Bapa Kami. Kita membaca bersama-sama Matius

6:13 dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yang empunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya. Amin.)

Saudara siap menerima mujizat? Saudara siap mengalami mujizat? Saya akan mendoakan keluarga per keluarga pada akhir kebaktian setelah perjamuan kudus.

Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan. Bahasa Inggris tidak pakai kata pencobaan tapi pakai kata temptation atau godaan. Godaan ini datang dalam 4 langkah:

Satu, dia datang sebagai pikiran yang jahat. Kalau pikiran itu baik, dia bukan godaan. Tapi godaan datang dengan pikiran angan-angan yang jahat. Dan pikiran yang jahat ini membawa kepada hal yang nomor dua, adalah imajinasi kotor. Imajinasi atau membayangkan yang kotot. Kalau imajinasinya baik yang positif, itu bukan godaan. Imajinasi kotor. Lalu membwa kepada hal yang ketiga, suka atau senang membayangkan. Jadi orang ini tergoda untuk membayangkan ... imajinasi yang kotor itu; dia ijinkan imajinasi yang kotor itu menguasai pikirannya. Saya pakai yang paling halus. Marah - imajinasi kotor. Dendam, marah, merasa diri penting. Orang yang tersinggung itu merasa diri penting. Dan dia biarkan itu pikiran. Ini termasuk dengan imajinasi kotor yang senang dibayangkan ini. Lalu yang keempat, dalam hal yang kotor ini, ingin melakukan. Kalau benci ingin membunuh, benci ingin membalas dendam, yang kotor ingin berbuat dosa, yang melakukan kejahatan itu.

Jadi saudara, Yesus ini tahu penyakit manusia. Jadi diajarkan kita berdoa: Jangan membawa kami kepada godaan, jangan membawa kami kepada temptation, godaan kepada pikiran jahat, imajinasi kotor, senang membayangkan sehingga kita ingin melakukan. Itu sebabnya Dia sudah sediakan Firman Allah yang murni, yang bening, yang tidak ada kabut, tidak ada kotor sedikitpun. Itu sebabnya ini adalah pikiran dari Tuhan dan pikiran Tuhan tidak pernah jahat. Mari kita baca pikiran Tuhan ini setiap hari setiap pagi kita masukkan pikiran Tuhan untuk mencuci pikiran-pikiran yang jahat ini keluar dari pikiran kita.

Tidak ada pendeta, tidak ada rasul, tidak ada jemaat biasa - semua kita kena serangan melalui pikiran yang jahat, melalui imajinasi kotor dan kalau kita suka membayangkannya maka kita akhirnya ingin melakukannya. Kalau kita sudah melakukannya kita sudah terjerat oleh godaan dari si iblis ini. Nah, saya mau gabung dengan ayat berikutnya dikatakan di sana: Tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. Ini kurang tepat karena dalam bahasa Inggris: But deliver us from the evil one, dari pada si jahat. Nah si jahat, the evil one ini, tidak ada lain adalah setan. Kita tahu itu iblis adalah si jahat. Itu dikatakan Alkitab, perusak, destroyer; dia disebut pencuri. Pencuri datang untuk mencuri membunuh dan membinasakan. Setan itu nggak suka lihat saudara punya rumah tangga bahagia. Setan itu nggak suka lihat keluarga saudara harmonis, setan itu nggak suka melihat bisnis saudara jalan baik, setan itu nggak suka kalau melihat orang kristen diberikan hidup berkelimpahan - dia nggak suka. Dia pengirian betul. Itu sebabnya dia mau mengotori pikiran kita supaya kalau bisa kita ini jatuh: Kita ini jatuh dengan kebencian, dengan kemarahan, dengan segala macam kejatuhan, dengan pikiran yang tidak baik; dia memakai kata godaan.

Coba saudara mulai kita lihat dari Taman Eden. Iblis nggak berani datang sama Eva langsung frontal - itu nggak berani. Dia melalui ular. Ular itu ngomong, dia pakai buah yang menarik hati. Godaan. Dan politik iblis sampai sekarang itu masih tetap godaan. Dia menggoda untuk mencicipi buah, untuk melanggar Firman Allah. Silahkan godaan cicipi nggak apa-apa ... kamu jadi seperti Tuhan. Dia memakai godaan.

Saya tadi menyaksikan di televisi satu orang wanita yang sudah umur 40 tahun baru dilepaskan dari ikatan narkoba. Dia bersaksi untuk rakyat Amerika bahwa dia mulai kenal narkoba umur 15 tahun. Dia bilang, jangan pikir sedikitpun mau coba, jangan. Karena dia diberitahu sama temannya: Coba, coba aja, sekali, coba! Dan ketika dia coba, dia bersaksi itu demi kebaikan orang Amerika, ketika mencoba, terus dia ketagihan. Berkali-kali keluar masuk saudaraku, rehabilitasi sampai akhirnya dia betul-betul dilepaskan setelah umur 40 tahun. 25 tahun hidupnya tidak ada harga, tidak ada prestasi, terbuang percuma. Wasted life. 25 tahun. Hanya karena digoda itu. Iblis itu selalu menggoda. Menggoda ... menggoda .. dia tidak berani frontal. Menggoda, memberikan kengerian, memberikan keraguan. Menggoda supaya kita tidak percaya kepada Tuhan.

Dia tidak bisa hantam Ayub, Ayub kokohnya kaya batu karang ... dia pakai istrinya. Apakah kamu terus-terus mau begini, mau haleluyah puji Tuhan, mau percaya kepada Tuhan, mau setia mau sama Yesus terus gini haleluyah: Kutuklah Tuhan dan matilah. Digoda untuk Ayub ini marah sama Tuhan. Memang Hawa gagal, Daud gagal, Simson gagal, semua jatuh bangun. Tetapi ketika masuk dalam injil Matius, Yesus didatangi oleh iblis dengan godaan. Dia baru puasa 40 hari 40 malam. Belum buka. Iblis datang sama Yesus dan berkata: Kalau kamu betul Anak Allah, jadikanlah batu ini roti. Godaan. Maka kalau kita lagi dengar Firman Tuhan sekarang cape badan, dia menggoda. Cape kita kan belum tidur siang. Tidur aja. Itu digoda saudara. Tutuplah matamu. Itu godaan. Jadi saudara musti lawan. Godaan ini banyak. Kalau Engkau Anak Allah, jadikanlah batu ini roti. Digoda. Untuk apa? Kamu nggak percaya Aku Anak Allah? Aku nanti bikin. Jadi bukan soal Dia bikin, bikin roti itu gampang buat Yesus, tapi siapa yang suruh? Ini yang penting. Siapa yang ngomong di belakang ini? Ini godaan. Dia tolak. Ada tertulis ... Dia kembali kepada Firman.       

Yang kedua, jatuhkanlah dirimu dari atas bukit yang tinggi. Maka kata Firman katanya malaikat akan menatang Kamu. Tidak begitu bunyinya. Digoda lagi untuk kasih lihat hebatnya Dia. Tapi Dia tidak tergoda: Ada tertulis! Yang terakhir: Aku kasih lihat dunia ini dengan segala kemuliaannya, aku beri kepada-Mu asal Kamu menyembah aku sekali saja. Sujud saja menyembah aku, aku beri dunia ini. Saudara, kan kita baca dalam Yohanes 1, dunia dan segala isinya diciptakan oleh Yesus. Kalau tidak ada Dia, tidak ada sesuatu yang telah dijadikan. Sekarang saudaraku iblis menggoda untuk Dia sujud. Dia bilang: Ada tertulis! Yesus menang.

Jadi satu-satunya jalan kita menang di atas godaan - pakai Yesus! Ada haleluyah saudara? Pakai Yesus, kita pakai Firman Allah, kita pakai perkataan-Nya, kita pakai kekuatan kita, kita pakai pengalaman kita, kita pakai nasehat pendeta A, kita pakai nasehat pendeta B, tidak bisa. Kita pakai filsafat orang, nggak bisa. Hanya dengan Yesus ... dengan Yesus ... dengan Yesus ... hanya Yesus yang bisa membebaskan kita.

Saudara yang di Krawang tentu masih ingat khotbah saya bahwa kalau Anak itu membebaskan kamu, bebaslah kamu dengan sesungguh-sungguhnya. Ada haleluyah saudara? Yesuslah yang membebaskan kita! Tetapi lebih jauh dikatakan: Lepaskanlah dari hal si jahat ini, saya ingin berkata - supaya lebih jelas - , apa yang dimaksud dengan yang jahat di sana?

Yang jahat di sana, satu, orang yang jahat, orang jahat; dua, kesempatan jahat; ketiga, nafsu jahat, ambisi yang jahat; keempat, teman yang jahat. Saudara, hati-hati loh berteman. Ada berteman yang nyorakin saudara kalau saudara gagal. Dia teman sama kita belanja sama-sama shopping sama-sama makan bakmi sama-sama tapi dia ngiri dia tidak senang melihat kita diberkati, dia tidak suka lihat kita sukses. Jadi begitu kita salah jalan, nanti dia ngomong. Ada teman yang jahat ada teman yang orang Sunda bilang, ngajongklokkeun, yang ngusrukkeun, yang kalau saudara ada di pinggir jurang bukan ditarik tetapi didorong supaya saudara jatuh. Itu ada teman yang begitu. Teman yang jahat.

Lalu ada sesama yang jahat. Umum tetapi dia jahat. Dan setanpun disebut yang jahat. Si jahat. Banyak hal-hal yang jahat. Saudara mungkin sukar mengerti ini. Tapi saya ingin terangkan dengan satu perikop yang saya baru dapat tadi sore dalam Kisah Rasul     

28:1. Setelah kami tiba dengan selamat di pantai, barulah kami tahu, bahwa daratan itu adalah pulau Malta.
28:2 Penduduk pulau itu sangat ramah terhadap kami. Mereka menyalakan api besar dan mengajak kami semua ke situ karena telah mulai hujan dan hawanya dingin.
28:3 Ketika Paulus memungut seberkas ranting-ranting dan meletakkannya di atas api, keluarlah seekor ular beludak karena panasnya api itu, lalu menggigit tangannya. - Bahasa Inggris bukan hanya menggigit tetapi fastened mengikat membelit tangan Paulus lalu mematuk, ular yang berbisa ini -. 
28:4 Ketika orang-orang itu melihat ular itu terpaut pada tangan Paulus, mereka berkata seorang kepada yang lain: "Orang ini sudah pasti seorang pembunuh, sebab, meskipun ia telah luput dari laut, ia tidak dibiarkan hidup oleh Dewi Keadilan."
28:5 Tetapi Paulus mengibaskan ular itu ke dalam api, dan ia sama sekali tidak menderita sesuatu.
28:6 Namun mereka menyangka, bahwa ia akan bengkak atau akan mati rebah seketika itu juga. Tetapi sesudah lama menanti-nanti, mereka melihat, bahwa tidak ada apa-apa yang terjadi padanya, maka sebaliknya mereka berpendapat, bahwa ia seorang dewa.

Cerita ini sangat memberi pelajaran bagi saya pribadi. Kenapa? Ini Paulus baru lewat karam kapal. Dibimbing oleh malaikat: Kamu tidak akan mati Paulus dengan semua penumpang kapal itu, tapi kamu akan berlabuh di satu pulau. Kenalah semua ke Pulau Malta. Karena pulau Malta itu, mereka terombang-ambing. Bayangkan 14 hari nggak makan nggak minum dalam keadaan puasa - puasa terpaksa. Tidak bisa melihat apa-apa. Mereka sudah mau mati. Sekarang sampai di satu pulau lemah keadaannya lalu mereka bikin api unggun. Ketika dia bikin api unggun, saya tanya sama saudara, apa maksudnya mereka bikin api unggun, kira-kira? Supaya hangat karena mereka dingin kena air. Hangat. Sesuatu yang baik.

Lalu ketika itu keluarlah seekor ular. Ular dalam Alkitab lambang apa saudara? Iblis atau setan. Ular ini disebut viper, yaitu satu ular yang sangat berbisa. Dia lompat karena panas api, dia lompat dan membelit tangan Paulus dan mematuknya. Saya sampaikan di situ dulu. Orang-orang yang lihat ini orang-orang yang selamat, orang-orang yang sudah lihat mujizat dari Tuhan. Melalui Paulus mereka tidak mati mereka selamat, mengeluarkan racun dari mulut, katanya mereka: Pasti orang ini seorang pembunuh.    

Mereka itu selamat gara-gara Paulus. Paulus itu bersaksi di kapal: Kita nggak akan mati. Kita hidup. Cuman barang saja hilang. Tapi begitu mereka lihat Paulus dipatok oleh ular, mereka ngeluarkan racun dari mulut mereka: Pasti orang ini pembunuh. Karena nggak mungkin dia orang baik kalau dipatuk sama ular. Ular saja sudah gambaran si jahat. Mematuk saudara punya tangan - pelayanan pekerjaan, bisnis - tangan saudara dipatuk oleh si jahat. Dan orang senang menunggu saudara: Mati kau ... mati bisnisnya ... mati!

Tapi apa yang dilakukan Paulus? Dia mengibaskan tangannya dan ular itu jatuh ke api lalu mati. Keluarlah racun dari mulut orang-orang itu. Mereka tunggu-tunggu: Pasti beberapa saat kemudian akan bengkak Paulus dan akan mati. Tapi setelah ditunggu ... ditunggu ... ditunggu ... Paulus tidak layani, Paulus tetap aja berdiam. Ditunggu-tunggu dia tidak mati tidak bengkak, akhirnya mereka bilang: Ini pasti dewa.  

Apa di dalam Doa Bapa Kami, kita belajar? Karena kita mau menerima mujizat. Dalam Doa Bapa kami, jangan bawa kami kepada tempation, godaan. Lepaskanlah kami dari si jahat. Tuhan mau lepaskan apa tidak? Dia lepaskan! Caranya bagaimana? Ketika saudara dipatuk oleh ular, kibaskan ular itu ... kibaskan! Ketika saudara dipatuk ular, apa yang saudara kerjakan? Coba pakai tangan kanan saudara ... biar itu Alkitab ditaruh di pangkuan. Coba kibaskan tangan saudara, pakai tangan kanan saudara, kibaskan: Dalam nama Yesus, hei ada ular fitnah gigit saudara, apa saudara kerjakan? Kebaskan! Haleluyah. Dalam nama Yesus, hei ada ular kemiskinan mau gigit saudara, kamu miskin kamu susah, apa yang saudara lakukan? Kibaskan dalam nama Yesus. Haleluyah, puji Tuhan. Kalau ada ular kebencian, ular permusuhan, ular kesusahan, sudah kibaskan. Haleluyah, Eh, datang ular kebangkrutan, kamu tidak bisa terus, kamu tidak bisa terus ... haleluyah, saudara harus kibaskan.

Eh, datang racun yang lain dari mulut orang, teman sendiri yang kita sudah tolong, kita sudah bersaksi sama dia, kita sudah tolong dia, dia tertolong oleh karena kita eh, ngomong racun dia keluar: Nggak lama lagi dah dia pasti bangkrut. Pasti dia bangkrut. Saudara harus berbuat apa? Jangan dong, jangan dikibasin terus. Racun dari mulut ini tidak dijawab - diam saja! Pasti dia pembunuh nih, dia dipatuk ular. Diam saja. Bahasa Ibraninya, cuek. Wah, dia ini orang jahat ini dia kok begitu kena kecurian, pasti dia ada dosa. Ada salah. Sudah, jangan jawab. Nanti orang lihat: Kok, orang ini kok nggak bangkrut-bangkrut, kok orang ini nggak mati-mati ... bengkakpun tidak. Saya sudah tahu siapa yang akan jadi presiden: Soesilo Bambang Megawati, tapi kita cuekin saja. Siapapun yang terpilih. Ada haleluyah?  

Kalau saudara dipatuk oleh ular racun yang mau meracuni keluarga saudara? Kibaskan! Mungkin membelit saudara - kibaskan. Ada banyak hal-hal yang saudara nggak usah openin, kibaskan saja! Orang ngomong a, b, c , kibaskan saja! Iblis berbisik, godaan: Udah, kamu sekali saja nikmati narkoba enak, kibaskan. Nggak apa-apa nyeleweng sekali nggak ada yang lihat, kibaskan - karena Tuhan lihat. Kibaskan!

Ada orang mati, naik di pengadilan Tuhan. Ini orang ditanya sama Tuhan: Kamu mau masuk surga atau masuk neraka? Boleh milih Tuhan? Silahkan. Dia lihat ke kaca ke surga: Nabi Musa, Nabi Daud, Nabi-nabi, pakai baju kuno-kuno, lagi nyanyi haleluyah. Ah, kayanya sudah biasa. Begitu ke bagian sini: Waduh, artis-artis, bintang film Hollywood, semua pusarnya kelihatan semua, aduh, cantik-cantik ... cakep cakep. Aduh, lagunya juga Bye Bye Love. Boleh saya ke neraka? Silahkan, pilih saja. Saya pilih neraka saja. Begitu masuk neraka, saudara, iblis tarik masukkan di api. Loh, saya nggak mau ke sini ... nggak mau ke api. Saya ingin yang itu tuh, saya ingin yang di AFI, itu yang tadi yang ada penyanyi-penyanyi di atas itu, saya mau ke sana. Itu mah hanya etalase, daya tarik godaan, kata iblis. Aslinya neraka itu berapi. Kadang-kadang kalau surga itu kelihatannya membosankan, kelihatannya tidak disukai, nyanyinya itu itu juga. Haleluyah ... puji Tuhan - itu-itu juga. Tapi di belakangnya ada kehidupan. Jalan kepada neraka itu luas tapi akhirnya sempit; jalan kepada Tuhan itu sempit tapi akhirnya luas.

Malam hari ini iblis berbisik: Kamu punya bisnis nggak bisa maju lagi. Udah dah, sudah kamu nggak bisa maju lagi. Kibaskan. Kamu punya hidup pernikahan sudah batal, sudah gagal, sudah tidak bisa - kibaskan! Saudara yang menikah gagal, kita bisa ada second chance, Tuhan memberikan izin kedua, Tuhan memberikan kesempatan kedua. Saudara ditinggalkan, saudara tidak salah, saudara ditinggalkan, saudara dianiaya, saudara sudah dirugikan. Nanti Tuhan memberikan ganti yang baik, kembali hal yang benar, yang baik. Haleluyah?

Itu sebabnya saudara, mari kita jangan mengecilkan dari Doa Bapa Kami ini. Lepaskan aku dari yang jahat. Saya selalu ingat itu cerita yang saudara mungkin sudah pernah dengar. Seorang pastur muda dia di Tomohon, memang Tomohon itu pusatnya Katolik, dia tugas ke Manado. Dari Manado pulang lagi ke Tomohon naik bis. Jaman dulu tahun 60-an bisnya ini kalau masuk gigi satu kalau nanjak lewat Tinohor, saudara, itu lewat kebun cengkih, itu memang berkelok-kelok dan bikin orang ngantuk. Persis di sebelah kanan pastur ini dua gadis cantik duduk. Dua gadis ini mulai ngantuk, yang kiri nyandar ke kanan ke pastur, yang kanan nyandar ke kirinya pastur. Pastur itu kejepit di tengah. Lalu dia berdoa ini Doa Bapa Kami: Tuhan, jauhkanlah aku dari segala percobaan. Tetapi begitu belokan saudara, rem mendadak ini bis, dua-duanya ambruk ini gadis dipangkuannya, berteriaklah pastur: Kehendak-Mu jadilah!   

Waktu dia ngantuk itu harusnya dia bangunkan: Dik bangun, dik bangun, bangun, bangun. Dan berdoa: Lepaskanlah dari yang jahat. Telat, ya. Saudara mau mengibaskan hal yang tidak baik? Kibaskan, kibaskan. Ingat Yesus berkata sama murid-muridnya: Kalau kamu masuk ke rumah orang, orang itu menolak kamu, kibaskan debu kaki di kasutmu. Kalau ada ular mematuk, kibaskan ular itu. Apa yang kita belajar di sini? Kaki bicara dari perjalanan. Ada orang tidak terima kita, ada orang tidak suka kita, jangan marah, jangan dendam. Kibaskan saja debu. Jangan dendam. Sudah tinggalkan, Dia sudah tidak terima ya sudah. Kalau ada orang fitnah kita seperti mulut ular berbisa, mau mencelakakan kita, kibaskan, aku tidak mau terima ini.

Jadi saya kasih tips begini. Kalau ada orang ngomong: Aduh ci, enci ini hoki, ... saudara jawab: Amin! Tapi kalau ada yang bilang begini: Aduh ci, katanya orang kua miah, enci punya mata itu petet sebelah, itu adalah enci nasibnya kurang baik, itu tolak dalam nama Yesus. Kibaskan. Wo nggak percaya. Tapi kalau ada yang bilang: Ni hoki. Amin. Yang hoki hoki, amin. Dulu saya pelihara perkutut: Aduh, ini perkutut ini ada bulu putihnya ini bawa sial. Cabut. Ini bawa bagus. Amin. Yang hoki-hoki, amin; yang sial-sial, tolak. Ada haleluyah?

Pencuri datang untuk mencuri membunuh dan membinasakan tetapi Aku gembala yang baik datang supaya kita memperoleh hidup yang berkelimpahan, keselamatan yang total dalam keluarga. Bukan hanya rumah tangganya bahagia tetapi usaha mata pencaharian diberkati dan kesehatan tubuh juga dijaga dijamin oleh Tuhan. Tuhan yang memiliki tubuh saudara: Tidak tahukah kamu bahwa tubuhmu adalah rumah Allah? Haleluyah. Kalau saudara punya rumah, tentu saudara jaga rumah saudara, saudara jaga rumah itu, saudara pelihara. Kalau Allah memiliki rumah, yaitu kita adalah rumah Dia, ini adalah semua tanggung jawab Dia, Dia harus menjaga, Dia akan menjaga kita - asal kita bekerja bersama-sama dengan Tuhan, kita mau bekerja bersama dengan Dia. Kita membawa satu kata yang terakhir dalam Doa, apa itu kata? Amin!

Kata yang terakhir dalam Doa Bapa Kami adalah Amin. Nah, amin waktu diungkap dalam bahasa Ibrani, itu artinya dua: Setia - faithfulness dan truth - benar. Jadi kalau Tuhan melepaskan kita dari yang jahat, pasti Dia setia dan benar. Saya kasih ilustrasi. 1 Petrus   

5:6 Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.
5:7 Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.
5:8. Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.
5:9 Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.
5:10. Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya.

Saya akan gabung dengan surat Yakobus         
4:7 Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!

Banyak kali kita ini lawan setan: Dalam Nama Yesus hei setan pergi ... tapi bagian pertamanya kita nggak lakukan - submit to God - menurut sama Tuhan! Di bawah undang-undangnya Tuhan. Di bawah perintahnya Tuhan. Submit itu tunduk. Bahasanya suami istri: Hei istri, tunduklah kepada suami, submit to your husband. Walaupun istri ini lulusan fakultas dan suami hanya pikul tas, tetap istri harus tunduk sama suami. Walaupun istri ini sarjana dan suami hanya sarjono, tetapi tetap istri harus tunduk. Nah, kata tunduk di sana sama dengan ayat ini, tunduklah kepada Allah, lawan iblis.

Saudara tidak akan mampu melawan iblis kalau kita tidak tunduk kepada Allah. Maka dalam Doa Bapa Kami, hati yang rendah itu penting. Kita tunduk kepada Allah. Ditegur oleh Dia, kita terima tegurannya, dengan tidak melawan. Tunduk kepada Tuhan, tunduk kepada peraturannya, tunduk kepada wibawanya Tuhan, tunduk kepada otoritas-Nya. Tuhan bilang: Tunggu! .. Tunggu. Berapa tahun? Maunya Dia. Musa 40 tahun, Yusuf 13 tahun, Paulus 14 tahun. Musa nggak tahu harus tunggu berapa  lama di dalam Bukit Batu tadi tapi Dia tahu Tuhan akan tolong.

Jadi kalau kita tunduk kepada Tuhan dengan tunduk kepada firman-Nya. Saya kasih ilustrasi begini: Kalau istri tunduk kepada suami, itu bukti dia tunduk sama Tuhan yang mengajar, hei istri tunduk kepada suami. Kalau suami mengasihi istri, itu artinya dia tunduk kepada Allah yang mengajar, hei suami kasihi istri. Jadi kalau saya mau kasih lihat saya ini cinta sama Tuhan, saya harus kasihi istri saya. Istri saya mau memperlihatkan cintanya kepada Tuhan, dia musti tunduk sama saya. Nggak boleh bilang begini: Saya mau mengasihi kalau dia tunduk dulu. Gua mau tunduk asal dia mengasihi dulu. Nggak. Sama-sama dua. Tunduk kepada Allah, lawan iblis. Kenapa Paulus nggak mati? Dia tunduk kepada Firman Tuhan, dia taat kepada Sabda Tuhan.

Nah, pada malam hari ini, kita mau tunduk kepada wibawanya otoritas dari Firman Allah. Amin itu setia dan benar. Dia akan setia, Dia selalu benar kepada janji-Nya Tuhan. Haleluyah. Kibaskan semua fitnah, segala perkara yang mau menggoda kita. Kibaskan! 

-- o --   

 _________________________ 

 

(Kembali ke Halaman Utama)

_________________________